Obrolan Teras Rumah 

Saban pulang kampung, saya selalu menyempatkan diri untuk duduk-duduk di teras rumah. Entah sekadar menikmati udara segar pedesaan, menyapa tetangga yang lalu-lalang, bercengkrama bersama keluarga, atau sebatas membaca buku dengan dikawani secangkir kopi dan sepiring singkong rebus buatan ibu. 

Biasanya, saya membaca buku yang memang sudah secara khusus dibawa dari tanah rantau, Jakarta. Seringnya, bacaan sejarah terkait Tanah Jawa. Membaca buku sejarah di kampung membuat imajinasi masa lampau saya tervisual cukup jelas. Seolah ikut terlibat langsung di setiap episode yang disampaikan penulisnya. 

Bagi keluarga saya di kampung —barangkali juga umumnya keluarga di pedesaan— teras rumah menjadi saksi sejarah perjalanan hidup sebuah famili kecil yang terus bertumbuh, mewujud menjadi "mejelis perdaban" yang merekam setiap fase kecil kehidupan. Ia menjadi bagian penting bagi wong cilik di desa-desa. 

Sejak  kecil, teras rumah di keluarga saya pun menjadi tempat nyantai yang merekam setiap fase tumbuh-kembang peradaban kecil. 

Saya sudah bisa merasakan kehangatan teras rumah sejak dulu, saat masih kecil, tepatnya sejak bisa menangkap apa yang orang lain obrolkan. 

*** 

Masih segar dalam ingatan. Saat saya kecil, sekeluarga hobi sekali berkumpul santai di teras rumah tiap bakda Isya. Sambil rehat setelah seharian bergulat di sawah dan muruk anak-anak kampung ngaji Al-Quran dan pemahaman agama dasar, bapak-ibu bercerita tentang kehidupan yang sederhana, hangat, dan cukup menghibur kami sekeluarga. 

Tema percakapannya memang cukup rundom, asal ada obrolan saja. Seperti menanyakan cita-cita anak-anaknya yang masih kecil atau menyinggung kegiatan dalam hari itu yang menarik dibahas. 

Kadang, tiba-tiba ibu-bapak ngobrol topik yang tidak kami paham untuk ukuran anak tingkat sekolah dasar. Soal nasib tanaman di ladang yang sedang diserang hama atau harga jualnya sedang sangat anjlok, misalnya. Jadi, teras rumah juga sekaligus merekam percakapan pahit-getir perjuangan sebuah keluarga petani yang saling terus menguatkan. 

Kesederhanaan obrolan teras rumah benar-benar sederhana dalam arti yang sesungguhnya. Perbincangan terkait pendidikan, misalnya, bukan membahas tentang perencanaan sekolah anak-anak secara matang dan penuh perhitungan. Melainkan obrolan biasa sebatas untuk memecah keheningan malam di kampung yang semakin larut, semakin sunyi pula gelagatnya. 

"Tadi pagi di sekolah belajar apa?," adalah pertanyaan yang sering bapak ajukan pada anak-anaknya. Pertanyaan jenis ini sebatas untuk menguji ingatan dalam arti sesederhana mungkin.

Misalnya dijawab, "Belajar perhitungan, Pak." Mentoknya bapak hanya bertanya lagi, "Gampang apa sulit?". Itu saja. Tidak sampai tanya sampai mendetail, apalagi menguji dengan contoh-contoh perhitungan, aljabar, rumus-rumus matematika, dan pertanyaan seram lainnya. 

Saat pendidikan anak-anak semakin lanjut, tepatnya saat memasuki studi di pesantren, obrolan di teras rumah juga selalu diawali dengan pertanyaan yang teramat sederhana. 

"Gimana, enakan di rumah apa di pondok?," ini bentuk pertanyaan yang sering dilontarkan. Padahal, di pesantren bukan soal membandingkan antara rumah dan tempat mondok saja, tetapi lebih kompleks lagi: mata pelajaran, hafalan, kegiatan sehari-hari, baju di jemuran hilang, hingga sandal yang berkali-kali raib. 

Bapak dan ibu tampaknya lebih menjadikan teras rumah sebagai tempat ngobrol santai tanpa ada pembicaraan berat. Padahal, bapak juga seorang alumni pesantren.

Artinya, ia bisa saja menanyakan tema-tema serius untuk menguji kompetensi anaknya setelah dipondokkan. Tapi, soal kepesantrenan, bapak justru lebih sering bercerita tentang pengalamannya dulu saat menjadi santri, yang membawa kami sekeluarga ke imajinasi alam lampau dengan penuh keprihatinan dan kesederhanaan. 

"Bapak dulu waktu wisuda pesantren, iurannya hanya 3 kilo beras dan satu ekor ayam. Beda dengan sekarang. Beda sekali," kenang bapak sambil mengingat amat dalam di kehidupannya berpuluh-puluh tahun silam. 

Saat anak-anaknya sudah merantau melalangbuana ke berbagai kota untuk melanjutkan kuliah, obrolan di teras rumah juga tidak jauh berbeda. Sederhana dan membicarakan hal-hal ringan. Obrolan teras fase ini biasa dilakukan saat momen libur lebaran. Momen di mana kami sekeluarga berkumpul. 

"Bagaimana, apa di Jakarta ada bawang merah?," tanya bapak di obrolan teras rumah. Pertanyaan ini jelas tidak ada kaitannya dengan dunia perkuliahan di alam rantau. Ini sebatas pertanyaan spontan yang berangkat dari ke-sangat-awaman soal dunia kampus.

Maklum, bapak-ibu tidak sampai mencicipi bangku kuliah, di samping mereka berprofesi sebagai petani bawang merah di kampung. 

Lagi-lagi, ini adalah pertanyaan kecil yang membuat kami anak-anaknya dibawa ke dalam kesderhanaan, juga rasa syukur yang amat mendalam. 

Pertanyaan terkait "bawang merah" membuat kami semakin tersadar. Hidup sebagai keluarga yang menggantungkan nasib pada hasil tani —dan seringnya merugi karena hasil panen tak sesuai harapan—, kami, anak-anaknya, mampu menyelesaikan pendidikan pesantren, bahkan melanjutkan kuliah sampai jenjang magister dan menjadi dosen. 

Ada banyak sekali topik di obrolan teras rumah. Semuanya terbahas di majelis sederhana ini. Pendidikan, keluarga, agama, profesi, ekonomi, politik, dan sebagainya. Tema-tema ini menjadi topik yang tidak luput dari percakapan di teras rumah, yang dibincangkan dengan sesederhana atau bahkan seawam mungkin, selama berpuluh tahun. 

Meski obrolan teras rumah tampak sangat sederhana dan biasa-biasa saja, tapi, di balik kesederhanaan itu ada sejuta cerita, kenangan, kehangatan, dan rekam tumbuh kembang sebuah keluarga kecil yang terus tersenyum, bersyukur, dan saling menguatkan.

Abror,
Prapag Kidul, 19 Agustus 2024

Posting Komentar

2 Komentar