Jahit Lebaran

Pagi hari puasa, saat masih banyak orang berpulas durja, pria paruh baya itu mengayuh gerobak mesin jahitnya menyusuri gang-gang kampung. "Jahit.. jahit..," sahutnya sepanjang jalan. Bunyi krek pedalnya terus berdenyit mengikuti suara napas yang sedikit terengah. Tiga ban roda yang ketiga-tiganya kempes membuat dorongan napasnya ngos-ngosan tujuh belas setan. Rangka besinya yang sudah rapuh dan ditumbuhi karat membuat geraknya terjompo-jompo.

Sejurus kemudian, setelah perjalanan kurang lebih 10 kilometer, ia memarkir gerobaknya di persimpangan kompleks warga, persis di depan mushala.

Satu-dua orang mulai menghampirinya, membawa kain yang masih bau pabrik dan diskon untuk sekadar dipotong dan dipresisikan dengan ukuran badan. Tiga-empat orang lainnya menyusul, dan seterusnya, sampai harus rela mengantri. Tampaknya itu baju-baju Lebaran yang akan dipakai seminggu mendatang, tapi ukurannya kedombrangan.

Sakti benar pria ini. Hanya parkir di depan mushala, orderan datang deras bukan main. Ia tinggal fokus bertengger di gerobak jahit, kakinya menggenjot pedal mesin bordir lawasnya, sementara tangannya sibuk mempresisikan agar tiap benang masuk teratur pada kain. Sembari bekerja, ia memutar salawat Nasiadaria dengan radio jadulnya.

Tiap waktu shalat tiba, kaset radionya dimatikan, mengambil wudu, dan ikut shalat berjamaah. Ia benar-benar fokus menjahit, dari pagi, dan bergegas pulang menjelang magrib untuk bersiap buka puasa.

***

Begitulah nasib membeli baju di toko online. Harganya memang lebih miring, tapi soal ukuran kadang dipertaruhkan. Bisa saja itu ukuran M, tertulis jelas di label kerahnya, tapi pas dipakai, berasa ukuran L. Mempertaruhkan ukuran baju artinya mempertaruhkan harga diri. Jika ukuran yang datang ternyata tidak pas, memaksa memakainya di hari Fitri sama saja membuat malu tujuh turunan.

Walhasil, ini jadi ceruk rezeki pagi tukang jahit. Harga murah yang dibeli dari toko online harus diganti dengan kemungkinan ukuran baju tidak pas, dan pada akhirnya merogoh kocek lagi buat jasa jahit. Ibarat kata, murah harga belanja online diganjar dengan membayar jasa jahit.

Tukang jahit keliling ini hanya mengambil pesanan yang ia terima di jalan, jadi tidak buka jasa di rumah atau standby di kantor. Ia juga akan membatasi jumlah orderan. Kalaupun terlanjur overload tidak sesuai prediksi, sisanya akan dirampungkan di rumah. Lemburan. Jadi, esoknya benar-benar berangkat tanpa beban orderan sama sekali. Betul-betul dalam kondisi mengosongkan diri dan siap menyambut orderan teranyar.

Seperti tukang cukur yang harus memotong miliaran helai rambut jelang Lebaran, tukang jahit keliling juga dapat rezeki nomplok dari baju-baju Lebaran yang diterima dengan ukuran keparat ini. Memakai baju Lebaran yang kedombrangan adalah kekonyolan yang sulit dimaafkan.

Kalau terpaksa dipakai pun, meng-upload-nya ke medsos sama saja memanggil komentar julid yang bikin trauma sampai Lebaran tahun depan. Belum lagi kalau viral dan FYP, duh hari Lebaran berasa hari kiamat. Berasa ingin menghilang dari peradaban usia Idulfitri bubar.

***

Saya tidak habis pikir. Coba saja tidak ada jasa jahit keliling jelang Lebaran macam ini, rasanya akan ada banyak orang gagal merayakan hari raya. Sebab sepuluh hari jelang Idulfitri, hampir semua jasa jahit baju rumahan di kampung sudah full job. Antrean jahitannya sudah penuh, bahkan malam Lebaran pun masih berkelahi dengan benang dan jarum.

Andai tidak tukang jahit keliling, sudah pasti banyak orang kerepotan menyesuaikan ukuran baju Lebaran kedombrangannya. Akan ada banyak orang enggan memakai baju Lebaran yang sudah dibelinya karena salah ukuran.

Andai tidak tukang jahit keliling, akan ada banyak orang memilih pakai baju bekas Lebaran tahun lalu yang sudah diunggah ke medsos berkali-kali. Andai tak ada jahit keliling, orang-orang akan mempertimbangkan tujuh belas setan untuk berburu baju Lebaran di toko online.

Andai saja tidak ada jahit keliling, akan ada banyak orang yang tidak bisa foto bareng keluarga gara-gara outfit baju Lebaran keluarganya bikin insecure saat dipakai. Boleh jadi tetap memaksa ikut foto keluarga, tapi akan terlihat bukan bagian dari keluarga gara-gara memilih baju berbeda sendiri. Salah-salah bisa dikira sudah dicoret dari kartu keluarga.

Andai saja tidak ada tukang jahit keliling, boleh jadi akan banyak orang menyesal sejadi-jadinya, gara-gara penantian satu tahun untuk berfoto ceria Lebaran gagal estetik dengan gamis ombrong dan baju koko yang kain lengannya kebesaran macam baju biksu.

Andai tidak ada tukang jahit keliling, sepertinya pemerintah akan didemo oleh masyarakat agar 1 Syawal diundur satu minggu saja, biar orang-orang masih bisa menukar baju Lebaran yang kebesaran, atau masih ada waktu perpanjangan deadline buat tukang jahit untuk mengurusi banyak baju Lebaran.

Ah, betapa kacaunya Indonesia tanpa kehadiran tukang jahit keliling menjelang Lebaran. Tanpanya, Idulfitri akan menjelma jadi petaka dan trauma bagi banyak orang.

Prapag Kidul, 23/3/2026

Posting Komentar

0 Komentar