Jika anda berpikir hanya orang-orang NU struktural di kota besar yang disiplin soal waktu, sedangkan Nahdliyin di kampung-kampung sebaliknya, itu kesimpulan yang konyol. Orang-orang "gen sarungan" berdasi dengan jabatan gagah tidak lebih disiplin dibanding "gen sarungan" kultural di pelosok-pelosok desa.
Bahkan mungkin, jika dibandingkan dengan Nahdliyin kultural, justru orang-orang struktural-lah yang sering mblubud alias terbiasa ngaret. Sering bikin acara tapi jarang tepat waktu. Sudah bisa ditebak, jika bikin acara tertulis mulai pukul 13.00, hampir dipastikan molor satu jam lebih lambat: 14.00. Uniknya, tamu undangan juga tahu bakal molor selama itu.
Jadi, baik yang punya acara ataupun tamu undangan, sama-sama membaca 13.00 itu sebagai 14.00. Meski di rundown acara tak tertulis. Ya, memang semua memahami dan memaklumi tradisi ngaret orang-orang struktural ini.
***
Jadi, sekali lagi, saya tegaskan bahwa Nahdliyin kampung lebih disiplin soal waktu. Tidak percaya? Saya ceritakan pengalaman saat ikut tahlilan tiga kali sehari selama full tujuh hari kemarin, saat pulang kampung mudik Lebaran kemarin, di rumah tetangga yang baru saja ditinggal wafat salah satu familinya.
Ini adalah tradisi di desa saya, dan mungkin juga desa NU pada umumnya. Jika ada orang meninggal, maka keluarga yang berduka akan menghelat tahlilan dan doa bersama sebanyak tiga kali sehari, selama tujuh hari full. Hari ketujuhnya dinamai Mitung Dina. Di hari keseratus nanti ada lagi, namanya Nyatus. Di hari keseribu nanti ada lagi, namanya Mendak.
Jadwal tahlilan tiga waktu dalam sehari adalah tiap setelah asar, setelah isya, dan setelah subuh. Menariknya, warga benar-benar datang tepat hampir sepersekian detik setelah bubaran salat tiga waktu tersebut.
Lebih menariknya lagi, tidak ada grup WhatsApp "Tahlilan Rumah Bapak A" untuk koordinasi, atau orang per orang menghubungi via WA untuk saling mengingatkan. Betul-betul mengandalkan naluriah saja. Pokoknya, begitu terdengar siaran orang meninggal melalui toa masjid, secara otomatis warga berbondong-bondong takziah, dan dilanjut rutin tahlilan. Begitu terus setiap ada orang meninggal dunia.
Kedisiplinan seolah sudah menjadi bagian militansi bapak-bapak penggembira tahlil ini.
Mereka itu hadir ya hadir saja. Tidak perlu disediakan lembar registrasi atau absensi. Tidak perlu isi kehadiran di Google Form. Juga kehadiran mereka bukan demi mendapat e-sertifikat keikutsertaan. Bukan itu semua. Mereka hadir karena panggilan sosial.
Kebetulan, di desa saya ini ada banyak mushala, dan warga yang datang untuk ikut tahlilan ini adalah kumpulan jamaah dari beberapa titik mushala. Jadi, jika misal setelah asar sudah ada jadwal tahlil ke rumah warga, sudah pasti tiap mushala memulai azan awal waktu dan iqamah tidak kelamaan.
Kalau ada mushala telat kumandangkan azan, atau iqamahnya lama karena imamnya lambat ke mushala, tidak sat-set, siap-siap saja jadi topik selingan di obrolan tahlilan itu. Sebab, jika misal telat iqamah, jelas bubaran salatnya juga telat. Kalau bubarannya telat, si imam dan jamaahnya akan datang terlambat ke lokasi tahlilan.
Tiap warga yang telat akan merasa malu sendiri karena begitu datang, orang-orang sudah memulai tahlilan. Itu katanya malunya tujuh belas setan. Meski orang-orang juga tidak mengindahkan warga yang telat itu.
"Kalau begitu, jika terlanjur telat, kenapa tidak memilih tidak berangkat saja? Biar tidak kelihatan telat."
Oh jangan! Ini pilihan konyol. Warga di sini benar-benar mengenal muka dan nama masing-masing. Warga tahu satu sama lain: tinggal di mana, anak siapa, kerjaannya apa. Tahu semuanya. Bahkan, di lokasi tahlilan itu, mereka juga tahu anda biasa duduk di baris berapa dan pojok sebelah mana haha.
Tidak hadir di acara seperti ini, siap-siap saja citranya buruk di mata rakyat. Bisa dianggap tidak srawung dan antisosial.
Jadi, untuk acara tahlilan semacam ini, pilihannya cuma satu: hadir tepat waktu. Terlambat bisa bikin malu, tidak hadir dikata antisosial. Dua-duanya bisa mengundang citra buruk dan kemungkinan sanksi sosial karena jadi topik gunjingan. Jangan lihat gunjingannya sebagai perilaku buruk, tapi sebagai pengendali sosial agar orang jangan sekali-kali hidup tidak disiplin atau antisosial di lingkungan ini.
Menariknya, mereka hadir tak ada satu pun yang membawa gadget. Saya yang terbiasa bawa HP ke mana-mana, bawa smartphone saat hadir di tahlilan, berasa orang sangat asing tersendiri. Jadi warga benar-benar fokus tahlilan, dilanjut menikmati hidangan sambil ngobrol dengan topik apa saja. Benar-benar ngobrol, dan tidak pernah kehabisan topik.
Makanya saya sarankan, buat anda yang hidup di kota, termasuk anda yang membaca tulisan ini, sesekali ikutilah tahlilan rutin tujuh hari di kampung. Agar anda merasakan hidup disiplin ala hamba-hamba kultural.
Losari, 25/3/2026

0 Komentar