Pagi Minggu di kampung, aku melihat beberapa orang beringsut ke sawah. Ada yang memikul cangkul di pundak, ada yang berjalan kaki pelan, ada pula yang mengayuh sepeda ontel tua yang bunyi krek pedalnya terdengar sampai ujung gang. Dari bunyi itu saja, kita seperti bisa menebak berapa lama usia sepeda itu menemani hidup pemiliknya.
Beberapa orang membawa karung pupuk di boncengan. Wajah mereka biasa saja, datar, nyaris tanpa ekspresi. Langkah mereka tergopoh, seolah hari sudah terlalu siang untuk memulai kerja. Dari baju mereka yang kusut dan kecokelatan, seperti masih tertinggal bau lumpur sawah kemarin, bau kerja keras yang bahkan belum sempat benar-benar dibersihkan.
Aku memandang mereka cukup lama.
Lalu entah kenapa, pagi itu pikiranku menjadi sibuk sendiri.
Bukankah ini hari Minggu?
Bukankah seharusnya hari ini menjadi hari istirahat? Hari untuk bangun sedikit lebih siang, duduk lebih lama di teras, menyeruput kopi tanpa tergesa, atau sekadar membiarkan tubuh berdiam dari urusan mencari nafkah. Tapi orang-orang itu tetap berangkat. Mereka tetap memikul cangkul, tetap membawa pupuk, tetap menapaki pematang, tetap menyambut hari seperti tidak ada yang berbeda. Seolah Minggu hanyalah nama lain dari Senin, Selasa, atau Kamis.
Dan dari situlah kegelisahan itu tumbuh.
Apakah mereka bekerja setiap hari?
Apakah selama tujuh hari penuh hidup mereka diisi oleh sawah, kebun, lumpur, dan panas matahari? Apakah tubuh mereka tidak lelah? Apakah pikiran mereka tidak jenuh? Ataukah pertanyaan semacam itu sebenarnya hanya lahir dari kepala orang-orang yang terlalu lama hidup dengan kemewahan bernama hari libur?
Sebab semakin kupikirkan, semakin terasa bahwa tidak semua manusia hidup dengan kalender yang sama. Sebagian orang hidup dengan tanggal merah. Sebagian lainnya hidup dengan musim. Sebagian orang bisa menandai akhir pekan sebagai waktu untuk beristirahat. Sebagian lainnya justru menandai pagi dengan bertanya: hari ini sawah harus diapakan?
Sawah, rupanya, tidak pernah benar-benar mengenal hari Minggu.
Tanah tidak paham konsep weekend. Padi tidak tahu apa itu cuti. Rumput liar tidak berhenti tumbuh hanya karena manusia ingin rebahan. Hujan tidak menyesuaikan jadwalnya dengan kebutuhan healing. Dan musim, sebagaimana kita tahu, tidak pernah sudi menunggu orang-orang yang ingin menunda kerja sampai hari Senin.
Maka pagi itu, aku sampai pada pertanyaan yang lebih jauh, lebih nakal, dan mungkin agak tidak masuk akal.
Bagaimana jika sebenarnya konsep libur itu memang tidak pernah benar-benar ada?
Bagaimana jika hari Minggu hanyalah kesepakatan yang dibuat oleh sebagian manusia, lalu diterima seolah-olah itu adalah hukum alam? Bagaimana jika tujuh hari penuh memang diciptakan untuk kerja, sementara “libur” hanyalah penemuan belakangan dari dunia modern yang terlalu pandai menamai mengada-ada?
Pikiran itu lalu melompat ke kehidupan para pekerja kantoran.
Mereka berangkat lima hari dalam sepekan. Dua hari sisanya disebut akhir pekan. Sabtu dan Minggu menjadi semacam wilayah suci yang dijaga bersama. Hari untuk istirahat, bepergian, bertemu teman, tidur lebih panjang, atau sekadar menghilang dari grup kerja sambil pura-pura lupa ada deadline Senin pagi. Dua hari itu dianggap penting, bahkan sakral. Jika ada rapat mendadak di hari Minggu, orang bisa merasa dunia sedang tidak adil.
Tapi bukankah itu menarik?
Di satu sisi, kita menganggap bekerja tujuh hari penuh adalah sesuatu yang kejam, tidak manusiawi, dan menguras jiwa. Tetapi di sisi lain, ada banyak petani yang sejak purba hidup dalam ritme semacam itu, dan kita menerimanya seperti hal biasa. Mereka tetap pergi ke sawah hampir setiap hari, tetapi kita jarang menyebut mereka burnout. Mereka tetap mengurus tanah tanpa benar-benar punya akhir pekan, tetapi kita tidak pernah sibuk memikirkan work-life balance mereka.
Lalu aku sempat tergoda berpikir iseng. Jangan-jangan fitrah manusia memang bekerja setiap hari, dan konsep weekend selama ini hanya dibuat-buat belaka untuk memanjakan sebagian orang, lalu dilembagakan. Jangan-jangan para pekerja kantoran itu sebenarnya bisa saja masuk kantor tujuh hari penuh. Dipaksa saja dulu. Nanti juga terbiasa. Bukankah petani juga begitu? Mereka tetap hidup, tetap makan, tetap tertawa, tetap kuat.
Tapi pikiran seperti itu jelas terlalu buru-buru. Bahkan agak culas.
Sebab hanya karena seseorang terbiasa menanggung beban, bukan berarti bebannya wajar. Hanya karena seseorang diam, bukan berarti ia baik-baik saja. Dan hanya karena suatu pola hidup diwariskan turun-temurun, bukan berarti pola itu adil.
Jadi barangkali pertanyaannya harus dibalik.
Kalau memang yang dianggap benar adalah sistem kerja lima hari, lalu dua hari libur, berarti selama ini para petani sesungguhnya hidup dalam sistem kerja yang tidak pernah memberi mereka hak jeda yang layak. Mereka bekerja hampir tanpa batas yang jelas. Sawah tidak bisa ditinggal hanya karena kalender berkata Sabtu. Kebun tidak bisa diajak kompromi hanya karena hari ini Minggu.
Pada titik inilah ironi itu terasa pahit.
Kita begitu fasih membicarakan hak-hak pekerja, tetapi sering kali yang muncul di kepala kita ketika mendengar kata “pekerja” hanyalah orang-orang berdasi, bersepatu pantofel, punya absensi, slip gaji, kontrak kerja, lembur resmi, cuti tahunan, dan peraturan perusahaan.
Kita mudah sekali mengaitkan kerja dengan kantor, meja, rapat, dan ruangan ber-AC. Padahal ada begitu banyak manusia yang juga bekerja keras, bahkan mungkin lebih keras, tetapi tidak pernah benar-benar masuk ke dalam imajinasi resmi kita tentang “buruh” atau “karyawan”.
Maka jangan-jangan, masalahnya bukan sekadar ada atau tidak adanya hari libur.
Masalahnya adalah siapa yang dianggap cukup penting untuk pantas mendapat libur?
Siapa yang dianggap layak beristirahat? Siapa yang hidupnya dianggap perlu dijaga dari kelelahan? Dan siapa yang diam-diam dibiarkan terus bekerja, seolah tubuh mereka lebih tahan, seolah penat mereka kurang sah untuk diperhitungkan?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak akan mengubah apa pun.
Besok pagi para petani tetap akan berangkat ke sawah. Pekan depan pun begitu. Bahkan mungkin Minggu depan, di jam yang kurang lebih sama, bunyi krek ontel tua itu akan kembali terdengar dari ujung gang, mengiringi langkah orang-orang yang lagi-lagi pergi bekerja saat sebagian dunia sedang menyebut hari itu sebagai waktu istirahat.
Dan aku, seperti biasa, mungkin hanya akan berdiri memandangi mereka sambil memikirkan hal-hal yang terlalu jauh. Tentang libur. Tentang kerja. Tentang keadilan yang terlalu pusing untuk dinalar secara waras.
Ah, mungkin memang percuma memikirkan konsep libur sampai sedemikian jauh.
Tapi tidak apa-apa.
Kadang-kadang, otak memang perlu diajak berkelahi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tampaknya remeh, hanya supaya kita sadar bahwa ada banyak perkara yang selama ini kita anggap wajar, padahal sebenarnya ganjil tujuh belas setan.
Prapag Kidul, 27/3/2026

0 Komentar