Apa jadinya jika mushala samping rumahmu terdengar suara tadarus Al-Qur’an saat Ramadhan hingga tengah malam, dengan pengeras suara yang volumenya meraung-raung tak kenal ampun, ketika orang-orang tengah beristirahat, dan berencana bangun malam untuk tahajud atau menyiapkan menu sahur lebih awal.
Apa jadinya pula jika di lingkungan yang tidak saja dihuni
warga muslim, tetapi suara tadarus Al-Qur’an terdengar “bising” tanpa
menyesuaikan volumenya, tanpa mempedulikan kalau di sekitarnya ada warga non
muslim yang juga punya hak untuk hidup tenang.
Pun, apa jadinya jika imam shalat tarawih terlalu lama,
membaca surat panjang mengular, tanpa peduli kalau di antara makmumnya ada
lansia yang untuk berdiri shalat saja kakinya gemetaran, ada ibu-ibu yang punya
anak kecil rewel, atau bapak-bapak yang sejak rakaat pertama sudah tidak fokus
karena motornya lupa belum dimasukkan ke rumah.
Mengapa orang-orang sibuk “mengampanyekan” dalil pahala amal
ibadah di bulan puasa dilipatgandakan sedemikian rupa, tapi lupa mengedukasi
cara ibadah yang ramah sosial?
Hadis-hadis keutamaan Ramadhan diobral sedemikian rupa,
sampai tanpa sadar ada orang-orang yang “terprovokasi” untuk perbanyak ibadah,
tapi di sisi lain mengabaikan bahwa seorang muslim juga makhluk sosial yang
harus terus menjaga keharmonisan, termasuk ketika beribadah.
***
Pernah sekali waktu Rasulullah sedang i’tikaf di masjid,
khusyuk beribadah dan berdzikir. Sejurus kemudian konsentrasinya buyar saat di
sisi lain dalam masjid ada seorang sahabat yang dengan lantangnya mendaras
Al-Qur’an. Suaranya “berisik” memenuhi seisi ruangan tempat ibadah itu.
Dengan ramah, Rasul menghampirinya dan menegur, “Kita ini
sama-sama sedang beribadah kepada Allah, toh. Mbok yo jangan
sampe ibadahmu mengganggu ibadah orang lain.”
Dalam kesempatan lain, pernah suatu ketika seseorang mengadu
kepada Rasulullah gara-gara dibuat jera oleh imam shalat. “Wahai Rasul, pokoknya
mulai besok saya tidak mau ikut jamaah shalat subuh lagi.”
Rasul heran. Ada apa ini? Pikirnya.
“Saya kapok. Tadi pas jamaah isya, si fulan saat jadi imam
bacaan suratnya panjang sekali, padahal banyak makmum yang sudah lelah karena
siangnya digunakan untuk bekerja mencari nafkah,” sambungnya.
Rasul pun marah bukan kepalang. Sampai-sampai disebut bahwa
baru pertama kali Rasulullah terlihat sekesal itu. “Wahai sekalian umat muslim.
Lihat, karena ulah si fulan, ada umatku yang kapok ikut shalat jamaah. Mulai saat
ini, siapapun yang jadi imam shalat, tolong peka! Ia tidak tahu, barangkali di
antara makmumnya ada orang yang lemah, orang lanjut usia, atau orang yang
sedang punya urusan lain!”
Dua riwayat ini mengajarkan kepada kita bahwa dalam
beribadah tidak boleh egois. Dalam konteks Ramadhan, barangkali sering terjadi.
Fenomena tadarus Al-Qur’an sampai tengah malam tanpa penyesuaian volume
pengeras suara, atau imam shalat tarawih tidak bijak karena durasinya terlalu
lama hingga memberatkan jamaah, atau terlalu kilat hingga mengabaikan tuma’ninah
sebagai salah satu rukun.
Memang, ada anjuran dari Rasul bahwa seorang imam sunah
mengkhatamkan Al-Qur’an selama satu bulan pelaksanaan shalat tarawih. Katakanlah
sekali tarawih membaca 200 ayat. Dikalikan 30 hari saja sudah 6.000 ayat, mendekati
keseluruhan ayat Al-Qur’an sebanyak 6.217 atau 6.214.
Tapi, Imam ‘Alauddin al-Kassani berkomentar, sunah ini tidak
bisa serampangan diterapkan. Jika imam memaksa menerapkannya tanpa memandang
siapa makmumnya, ya jelas bubar jamaahnya.
“Lebih baik baca surat pendek-pendek saat tarawih tapi
makmumnya banyak, daripada suratnya panjang tapi makmumnya bubar,” kata
al-Kassani.
***
Sejatinya puasa tidak saja mendidik seorang muslim untuk
lebih dewasa secara ritual, tetapi juga matang secara sosial. Ketika berpuasa, kita
diwajibkan menahan lapar. Salah satu hikmahnya agar kita bisa mengalami
bagaimana rasanya lapar tapi harus menunda makan hingga waktu yang ditentukan.
Laku ini mendidik empati kita sebagai makhluk sosial.
Betapa banyak saudara kita yang setiap hari menahan lapar
karena tidak punya apa-apa. Jika orang berpuasa tahu jam
berapa sudah bisa makan, maka saudara kita yang hidup serba kekurangan berada dalam
ketidakpastian. Tidak pernah berpikir sampai kapan mereka akan berhenti menahan
perut yang tiap hari melilit.
***
Secuil pembahasan ini hanya bagian kecil dari ulasan 37 bab
yang ada dalam buku “Ramadhan Terakhir” karya Abror Mu’thie. Pembahasan dari
aspek sosial hanya sebagian dari uraian dalam buku setebal 311 halaman
lebih ini. Selain itu, di dalamnya juga banyak memuat pembahasan-pembahasan
dari aspek sufistik dengan mengutip tokoh-tokoh sufi agung semacam Imam
al-Ghazali, Ibnu ‘Ata’illah, Ibnu ‘Arabi, dan sebagainya.
Sebagai contoh, pembahasan mengenai pemaknaan puasa secara
filosofis dari al-Ghazali dalam magnum opusnya, Ihya ‘Ulumiddin. Kata
al-Ghazali, orang yang berpuasa tapi berbuka dengan perut kenyang tanpa kendali
ibarat orang yang telah bersusah payah membangun gedung tinggi, tapi ia
robohkan dalam waktu sekejap.
Puasa adalah ibadah paling efektif untuk mengendalikan hawa
nafsu. Sebab, Rasulullah pernah menegaskan bahwa setan bisa masuk dalam tubuh
manusia dengan leluasa. Jika sudah masuk dan menguasai tubuh seseorang, maka
nafsu maksiatnya susah terkontrol. Solusi paling efektif untuk mengunci pintu
masuk itu adalah dengan berpuasa. Akan tetapi, kata al-Ghazali, upaya menutup
pintu masuk setan itu akan sia-sia jika saat berbuka puasa kita bersantap ria
tak kenal ampun.
Terkait bahaya makan terlalu kenyang ini, ada sejumlah
dampak buruk bagi kualitas spiritual seseorang. Anda bisa langsung membacanya
di buku “Ramadhan Terakhir”.
Selain aspek sosial dan tasawuf yang dibahas secara
mendalam, buku ini juga mengulas secara detail pembahasan-pembahasan yang luput
dari kajian-kajian Ramadhan yang pernah ada. Seperti soal pemaksaan hadis
“terbelenggunya setan” saat Ramadhan, buku ini menyajikan pembahasan yang luas
dan kaya perspektif dari pendapat ulama-ulama otoritatif.
Soal kualitas materi dalam buku ini sudah tidak diragukan
lagi. Sebab, pembahasan di dalamnya didukung oleh dari lebih dari 70
rujukan kitab atau referensi otoritatif yang diakui oleh ulama-ulama kita, di lingkungan
pesantren utamanya.
Dengan 37 pembahasan yang diuraikan secara mendalam dan
dikemas dengan bahasa yang mengalir serta mudah dipahami, buku ini cocok dibaca
saat ngabuburit menunggu magrib. Atau sehabis shalat tarawih, sambil nyantai
menyeruput kopi atau ngemil jajanan menikmati syahdu malam-malam Ramadhan.
Oh iya, di dalamnya juga ada bonus beberapa khotbah Idul
Fitri yang selalu relevan disampaikan setiap tahun.
Salah seorang kawan pernah memberi testimoni ketika membaca
buku ini, “Isinya mendalam, banyak hal-hal baru, dan begitu
mudah dipahami seperti saat saya membaca novel.”
Buku ini sudah disowankan dan mendapat kata pengantar dari Habib
Jindan bin Novel bin Jindan dan Habib Ahmad bin Novel bin Jindan.
Identitas Buku:
Judul: Ramadhan Terakhir: Sehimpun Kajian Langka Seputar
Ramadhan: Materi Kultum, dan Khutbah Idul Fitri Sepanjang Zaman
Penulis: Abror Mu’thie
Penerbit: Abdi Fama
Tebal: XI+311 halaman
ISBN: 978-623-09-1814-8

1 Komentar
Subhanallah
BalasHapus