"Sialan!" teriak bapak ojol yang baru saja berangkat menarik ojek. Di Senin pagi. Pagi sekali.
Seorang ibu berdaster, dengan membonceng dua putranya yang lengkap dengan seragam SD, tiba-tiba banting setir ke kiri, padahal lampu sen berkelip sebelah kanan. Sudah begitu, ngebut pula. Ugal-ugalan.
Baju daster ombrongnya berkibar bak umbul-umbul karnaval tujuhbelas-agustusan. Wajahnya serius menatap ke depan. Matanya tak berkedip. Seram sekali pokoknya. Rambut ikal yang belum disisirnya ndawul-ndawul tak karuan.
Ya, si emak itu tidak pakai helm, pun kedua putra yang diboncengnya. Tapi, siapa berani menegurnya. Menatap wajahnya saja sudah bikin menciut, atau mungkin bisa tidak nafsu makan tujuh hari tujuh kliwon.
Rasanya tak sampai hati jika harus misuh ibu-ibu itu. Selain harus menghemat energi di Senin sepagi, juga tak tega rasanya menyumpahi agar motornya mogok dan tak menemui bengkel sepanjang jalan.
Bayangkan, mendengar hari Senin saja sudah bikin pikiran kalut karena sampai lima hari ke depan harus kerja. Butuh 120 jam lagi menuju weekend. Apalagi harus ditambah emosi gara-gara kepancing ulah orang yang tak kita kenal.
***
Lebih baik berhusnuzan. Pikir saya. Karena bisa jadi, di balik rambut ikal kusam yang ndawul-ndawul itu, ia harus bangun sedini hari mungkin. Pagi sekali. Saat suaminya, juga anak-anaknya yang entah ada berapa dan sekolah kelas berapa saja, masih terlelap pulas. Sehingga, menyisir rambut adalah perkara nomor seratus sembilan puluh ribu sekian.
Boleh jadi, di balik daster yang sebenarnya dipakai sedari malam tadi, ia harus beberes rumah, nyapu lantai, cuci baju, dan tetek bengek lainnya, di pagi buta. Sehingga, mengganti baju dengan pakaian necis layaknya ibu-ibu kelas menengah saat mengantar anaknya ke sekolah, adalah perkara mustahil.
Boleh jadi, di balik kepala tak berpakai helm itu, ada kesibukan pagi yang amat padat. Sampai-sampai harus berkejaran waktu untuk mengantar anak-anaknya ke sekolah sebelum pak satpam menutup gerbang.
Boleh jadi, di balik nyala sen kanan tapi belok kiri itu, ada perkara besar urusan rumah tangga yang amat penting, seperti memikirkan biaya kontrakan yang mendekati tempo, hingga perkara remeh semacam pencet-pencet tombol lampu sen menjadi tak penting-penting amat.
Boleh jadi, di balik cara mengemudi yang tampak serampangan itu, ada kebiasaan hidup yang sudah terlalu lama berkompromi dengan bahaya. Tak berhelm, ngebut, abai rambu lalu lintas, adalah perkara-perkara ekstrem tapi remeh dalam hidupnya. Yang lebih dari itu, semacam memenangkan ratusan debat dengan polisi tilang, sudah makanan sehari-hari.
Boleh jadi, pagi Seninnya bukan awal hari. Bukan pula awal pekan layaknya orang-orang pekerja kantoran. Setiap paginya adalah kelanjutan dari rangkaian hidup panjang yang amat rumit. Tidur malam baginya bukan malam yang sebenarnya, tapi hanya istirahat sejenak untuk memulihkan energi. Sehingga, etika normal hidup layaknya orang keumuman merasa tak perlu lagi.
Boleh jadi, ia sudah terlalu sering melihat pelanggaran lalu lintas di kota. Tak berhelm, menorobos lampu merah, abaikan lampu sen, dan macam-macam lainnya, adalah perkara lumrah. Sehingga, mematuhi aturan berkendara yang serasa formalitas itu, di tengah hidup yang kedebag-kedebug, hanya buang-buang waktu.
***
Pagi pun berlalu begitu saja. Emak berdaster itu menghilang di tikungan, bersama dua anaknya dan segala urusan yang tak sempat diceritakan. Tinggal kami yang masih di jalan, menyimpan kesal kecil sambil melanjutkan perjalanan masing-masing. Bertolak ke tujuan masing-masing.
Barangkali, esok atau esoknya lagi, di pagi yang sama sempitnya, kita akan melakukan pelanggaran serupa. Tak selalu di jalan raya, tapi dalam hidup. Dan saat itu terjadi, kita berharap semoga ada orang lain yang cukup lelah untuk tetap berhusnuzan dan tak menghakimi ini itu.
Tabik, Abror.
Jogja, 7 Januari 2026

0 Komentar