Jogja tidak saja tercipta dari rindu, pulang, dan angkringan. Ada yang lebih dari itu, yaitu keramah-tamahan orang-orangnya. Saya bisa membuktikannya sendiri. Setiap kali ke kota ini, saya selalu menyempatkan jalan kaki sendirian, berlama-lama, dan tanpa tujuan. Satu lagi, tidak bawa gawai. Lalu di sepanjang jalan itu, saya sapa semua orang yang ditemui. Mau dianggap sok kenal atau apa, bodo amat.
"Amit…," dengan nada lembut sambil menundukkan badan. "Monggo," jawaban setiap orang yang saya sapa, dengan suara lembut dan menundukkan badan pula. Amit artinya permisi, monggo artinya silakan.
Bagi orang ibu kota model saya, lebih tepatnya lama merantau di ibu kota, perkara ini tidak seremeh sapa menyapa. Di Jakarta, boro-boro orang saling sapa. Ada motor mogok saja kadang tidak ditolongi. Alasannya macam-macam. Ada yang katanya takut modus penipuan, ada yang katanya buru-buru harus ke tempat kerja, dan alibi-alibi yang sangat tak masuk akal bagi manusia Jogja.
Bayangkan, ada orang perlu bantuan saja diabaikan dengan alasan ini-itu. Rasanya sangat mustahil berpapasan orang di jalan, lalu menyapa permisi atau etika sopan santun lainnya.
Memang masih ada tradisi sapaan di ibu kota, tapi seringnya itu urusan bawahan ke atasan. Karyawan ke bos, mahasiswa ke dosen, atau junior ke senior. Jika sudah begini, bukan etika sopan santun lagi namanya, tapi, kalau tidak berlebihan, "etika menjilat." Menjilat kok ada etikanya. Wedhus gembel tenan iki.
Kan boleh jadi, karyawan menyapa bos agar naik jabatan, mahasiswa menyapa dosen biar dapat nilai cum laude, junior melempar senyum takzim ke senior demi dapat proyek. Ah, naif sekali memang. Tapi begitulah kenyataannya.
Maka, di Jogja, kita tak perlu jadi bos, dosen, atau senior dulu agar ada yang menyapa. Di kota ini, kita bebas menjadi apa dan siapa saja. Mau jadi ojol, pedagang nasi kucing, atau pengedar balon tetot-tetot. Semua bisa menyapa dan disapa. Semua bisa mengucap "amit" atau "monggo". Di Jogja, sapa-disapa adalah hak segala warga.
Di Jakarta, sepertinya, orang-orang terlalu sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Sibuk dengan keberadaannya sendiri. Sibuk dengan kesendiriannya sendiri. Sibuk dengan gadget sendiri, pekerjaan sendiri, proyek sendiri, dan kesendirian-kesendirian lainnya. Sampai mereka lupa keberadaan orang lain selain dirinya.
Anggapnya, barangkali, keberadaan orang lain sama seperti keberadaan bangunan-bangunan kota yang tak perlu disapa. Atau bahkan terasa sangat aneh menyapanya.
Tapi di Jogja tidak seperti itu. Kita bebas menyapa dan disapa. Kehadiran kita, siapapun itu, orang Jogja atau bukan, benar-benar diakui dan betul-betul dihargai. Jadi, orang menyapa dan disapa bukan karena ingin diakui, tapi karena keberadaannya benar-benar dianggap ada. Sebenar-benarnya. Sehormat-hormatnya.
Okelah di ibu kota kita masih bisa mendapatkan sapa ramah santun dari kasir Indomaret, customer service, atau resepsionis hotel. Sapaannya ramah, manis, dan lembut. Tapi itu sapaan yang dibayar, tidak tulus, dan seringkali orang yang disapanya justru cuek-bebek. Sapa menyapa apa-apaan ini!
Tapi, ada satu hal yang perlu dicatat. Keramah-tamahan Jogja tidak akan hilang meski sapa tak dibalas "monggo" sekalipun. Pun jika kita tidak menyapa "amit" sama sekali. Keramahan Jogja sudah ada dengan sendirinya. Bahkan sebelum Jogja bernama Jogja. Sudah menjadi denyut napas warganya. Orang tanpa napas akan mati. Demikian Jogja tanpa keramahan tak akan menjadi Jogja.
Dan, perlu dicatat juga, wahai kalian manusia-manusia Jakarta. Untuk merasakan keramahan Jogja, kalian tak perlu pindah ke Jogja dan ganti KTP menjadi warga Jogja. Karena dengan begitu, kalian akan tetap merasakan amat mahal keramahannya. Tetaplah jadi orang Jakarta. Lalu sesekali datanglah ke Jogja. Kapan saja. Jogja selalu siap menjadi tempat pulang dengan segala amit dan monggo-nya.
***
Maka, saran saya, kalian wahai anak ibu kota. Jika mulai muak dengan kerasnya Jakarta, pulanglah ke Jogja. Iya, pulang. Sekalipun anda bukan orang Jogja, atau bahkan sering menjelek-jelekan Jogja. Lalu, sapalah orang-orang yang anda temui di sepanjang jalan dengan kata "amit". Itu kata sakti. Menjumpai banyak orang yang tak kita kenal di Jogja, dan menyapa dengan "amit", adalah bentuk perlawanan paling brutal dari sistem hidup Jakarta yang sudah tidak manusiawi.
Tabik, Abror, orang Jakarta yang mampir ke Jogja.
Jogja, 7 Januari 2026.

0 Komentar