Manusia Jakarta

Tiada hari tanpa masalah. Kiranya sambatan klise itu banyak diamini untuk menerjemahkan kehidupan manusia Jakarta. Panas, polusi, macet, terburu-buru, sepi dalam ramai, dan entah hal-hal memuakkan apa lagi yang bisa dimuntahkan untuk kota metropolitan semacam ini.

Seringnya, petaka-petaka ini banyak mematahkan semangat para perantau, lalu menyerah dan kembali ke kampung halaman dengan kegagalan. Meski beberapa memilih bertahan untuk sekadar menyambung hidup. Entah karena ongkos pulang terlalu mahal, atau sekadar mengadu nasib tanpa kepastian.

***

Harus diakui, Jakarta tidak seramah Jogja. Tidak ramah, tidak sabar, dan tidak peduli. Tapi bukan berarti kita harus membenci salah satunya, lalu memuja yang lain secara ugal-ugalan. Seolah satu kota sepenuhnya suci dan yang lain sepenuhnya terkutuk. Jika kau mencari kedamaian dan ketenangan, silakan pilih Jogja. Tapi jika memilih ruang untuk bertarung dan bertumbuh, tinggallah di Jakarta.

Itu hanya soal pilihan. Pahamilah Jakarta sebagai kota untuk berproses sekeras-kerasnya, sehormat-hormatnya. Ada hal-hal kecil yang tak banyak orang menyadari bahwa Jakarta menyimpan banyak harapan.

Di Jakarta, kita bebas menjadi apa dan siapa. Tak perlu takut dihakimi sana-sini. Semua orang di kota ini sangat sibuk dengan urusannya masing-masing. Yang kuliah sibuk lembur mengejar deadline tugas-tugas kampusnya. Yang ngojek sibuk menerima orderan penumpang dan kejar target setoran. Yang pedagang sibuk menghitung untung-rugi sambil menahan sewa kios yang naiknya tujuh belas setan.

Semuanya sibuk dengan persoalan masing-masing. Energi mereka tak cukup untuk merecoki kehidupan orang lain. Mubazir.

Masih belum percaya? Lihatlah bapak-bapak berseragam badut yang sibuk menenteng kantong plastik menengadah recehan, atau mas-mas manusia silver yang saban hari menggantungkan hidup di lampu merah dan kemacetan ibu kota. Mereka merasa nyaman boleh jadi karena memang bebas menjadi diri sendiri. Tak perlu takut jadi bahan gosip berjilid-jilid para tetangga julid. Selagi cuan, lanjutkan kawan. Filosofi hidupnya sesederhana itu.

Jakarta memang sebebas itu. Bagi anda yang memilih untuk menunda pernikahan karena alasan pendidikan atau karier pun, umpama, tak perlu khawatir direcoki oleh orang-orang yang ber-mindset “pernikahan sebagai standar kesuksesan”. Lagi-lagi, Jakarta terlalu bodo amat terhadap pilihan hidup kita. Tapi jika masih ada orang Jakarta suka ikut campur urusan dan prinsip hidup orang lain, berarti hidup dia sendiri yang sedang bermasalah. Ke Jakarta kok masih mental kampungan.

Di Jakarta, kita juga tak perlu kalah saing gara-gara persoalan kelas sosial. Mau kamu anak kiai, ustaz terkenal, atau keturunan bangsawan keraton, semua setara saat terjepit di KRL jam pulang kerja. Di sini, modal “siapa bapak saya” tidak laku. Yang laku cuma skill, tahan banting, dan mental tidak baper.

Maka, bagi kita yang bukan dari latar belakang apa-apa, Jakarta adalah ruang yang tepat untuk menciptakan dirimu yang bagaimana dan seperti apa. Di sini, mantan tukang meubel pun sah saja bermimpi jadi presiden. Asal jangan modal ijazah palsu saja.

Di Jakarta, kita bebas berjuang seambis mungkin dan terjatuh berkali-kali. Tak perlu khawatir bertemu orang julid yang menari di atas kegagalanmu, atau mungkin menjadikannya bahan ejekan tujuh hari tujuh kliwon. Di sini, tidak mengapa punya tetangga kosan tak saling kenal. Justru karena itulah, kita tak perlu takut jadi buah bibir cocote tonggo. Kita gagal, ya wajar kecewa, marah, atau sambat seperlunya. Tapi, setelah itu, kita jadi bisa menilai kemampuan diri, dan sesegera mungkin bangkit merencanakan planning A, B, dan C.

Kita sadar bahwa Jakarta menuntut serba cepat. Tak ada waktu untuk bermuram durja terlalu larut. Sakit? Boleh. Nyerah? Jangan lama-lama. Karena cepat atau lambat, tagihan kost akan jatuh tempo, bayaran UKT kuliah segera tiba, oli motor harus diganti tiap bulan, dapur harus terus mengepul, bahkan, ada keluarga di kampung yang harus kau pikirkan nasib hidupnya.

Ibarat kata, Jakarta tak akan memelukmu saat kau jatuh, tapi mengulurkan tangan untuk secepat mungkin membantumu berdiri kembali. Busungkan dadamu. Jangan biarkan kota ini kecewa karena pernah dipijak oleh orang sepertimu. Ehem.

Di Jakarta, kau juga berhak menjadi pribadi yang anonim. Misterius. Proses juangmu tak perlu mendapat validasi sana-sini. Mau caper sebanyak apa pun, orang-orang kota ini tak peduli prosesmu yang berliku itu. Mereka sangat acuh dengan perjuangan berdarah-darahmu.

Tunjukkan saja keberhasilanmu pada mereka. Itu yang ingin mereka tahu. Saat mereka mulai kepo dengan kesuksesanmu, tunjukkan saja sejelas-jelasnya, segamblang-gamblangnya. Bukan untuk membuat iri, apalagi pamer. Bukan pula untuk membuat orang lain insecure. Tapi, itu semua untuk membuktikan kalau kau layak menjadi orang Jakarta. Buktikan bahwa kau berhasil menaklukkan kota seganas dan seseram ini.

Di Jakarta, kita juga bisa berteman dengan banyak orang. Jika bertemu orang yang lebih tinggi levelnya, kita bisa berjejaring dan belajar banyak darinya. Realita ini barangkali sangat kontras dengan kebanyakan mas-mas dan mbak-mbak kabupaten yang begitu lihat teman sendiri sukses, kadang justru mendengki sejadi-jadinya, atau bahkan berdoa dalam sepertiga malam agar karier kawannya itu rungkad.

Tapi, di Jakarta, kita juga tak harus selamanya ambis. Ada waktunya kita mulai memilah. Mana yang harus tetap diperjuangkan mati-matian. Mana yang harus diikhlaskan berlalu. Kita tak harus selalu reaktif pada semua peluang. Tahu kapan harus gas, juga sadar saat perlu melambat. Idealis boleh, tapi realistis juga tak kalah penting.

Tabik, Abror Mu'thie

Prapag Kidul, 13 Januari 2026

Posting Komentar

0 Komentar