Saya merasa aneh saja dengan orang-orang yang berlibur ke Jogja hanya untuk berwisata, mendatangi destinasi karena viral di medsos, atau wahana yang menyediakan fasilitas ini dan itu. Padahal, dengan kita tiba di kota ini saja, itu sudah jadi liburan. Bahkan liburan yang sebenarnya. Sebaliknya, ke Jogja dengan tujuan mengunjungi wisata ke sana ke mari, justru mengabaikan Jogja itu sendiri. Itu namanya tidak berperikejogjaan.
Pergi ke Jogja hanya untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata, sama saja bertamu ke rumah orang, tapi malah sibuk foto-foto ke pagar tetangganya. Jangan samakan Jogja dengan kota wisata lain, yang untuk menikmatinya harus berkeliling destinasi wisata ke sana ke mari.
Oke. Saya jelaskan pelan-pelan, supaya tidak ada yang tersinggung tapi tetap merasa tertampar.
Kita mulai dengan pagi hari di Jogja. Selepas subuhan dan merapal wirid alakadarnya, berjalanlah tanpa agenda dan tujuan apa pun. Berjalan saja. Ke mana saja. Tak perlu dipandu Google Maps. Jika benar-benar tak tahu jalan, tanyalah pada orang-orang yang ditemui. Orang Jogja senang ditanyai, asal nadanya sopan dan tidak seperti debt collector.
Jangan lupa, sepanjang jalan, sapalah orang-orang yang ditemui pakai kata amit (permisi), dengan nada lembut dan sedikit mendoyongkan tubuh ke depan. Seketika akan dijawab monggo (silakan), dengan nada lembut dan sedikit mendoyongkan tubuh ke depan pula. Saya biasanya menyebut ini Jogja Walking.
Saat melawat ke Jogja, kita juga bisa menjumpai papan nama dan petunjuk jalan bertuliskan aksara Jawa. Jika kebetulan kau menemuinya, pada petunjuk jalan, misalnya, berhentilah sejenak. Perhatikan setiap lengkung dan tekstur tulisan aksara Jawanya. Tak usah kau sentuh. Biarkan tetap menyisakan penasaran. Perhatikan bentuk font-nya, tanpa perlu kau mencari tahu itu jenis font apa.
Tolong, tak usah pula kau buka Google Lens untuk menerjemahkannya, atau memastikan aksaranya akurat dengan teks terjemah di bawahnya. Itu refleks orang kota besar yang tidak tahan untuk tidak tahu. Biarkan saja kau tidak paham. Biarkan kau tetap penasaran. Agar ketika pulang nanti, kau lekas membuat janji akan mengunjunginya kembali. Di tempat yang sama. Di bawah petunjuk jalan yang itu lagi. Lakukan hal serupa seperti saat pertama kau menjumpainya.
Di Jogja, kau juga perlu menunggangi andong dan becak kayuh. Jalannya memang lambat, tapi tak perlu kau meminta dipercepat lajunya. Nikmati saja kelambatannya, bersama melambatnya Jogja hari itu, dan hari-hari biasanya. Menyatulah. Ajaklah ngobrol pengemudinya tentang hal-hal remeh. Soal cuaca seharian ini, sudah ke mana saja rute yang dilalui, atau kenapa Jogja makin panas tapi tetap disebut romantis. Tanyakan apa saja untuk sekadar bahan obrolan selama perjalanan.
Ketika sudah sampai tujuan, dan kau turun, berterima kasihlah dengan ramah santun. Berterima kasih karena sudah turut diajak melambat. Bersenyawa dengan lambatnya Jogja.
Di Jogja, sempatkanlah pula untuk mengamati gerbang-gerbang berornamen khas Jawa. Lihatlah dari bagian bawah hingga atasnya yang gagah, estetik, dan terlihat wah. Betapa Jawa-premiumnya Jogja dengan gerbang-gerbang maha keramatnya ini. Perhatikan setiap detailnya, ornamen batiknya, dan kadang berupa hiasan makhluk mitologis yang membuatnya terasa lebih melegenda.
Tak perlu kau ambil foto. Biarkan dia berdiri kokoh di situ, dan berjanji akan kau datangi lagi di lain waktu. Sekali lagi, cukup kau kagumi, amati setiap detailnya, tataplah penuh takjub. Hiruplah napas dalam-dalam. Biarkan aroma gerbang itu tercium jelas di rongga hidungmu.
Nikmatilah pula kuliner-kuliner khas Jogja yang sederhana dan alakadarnya itu. Selain, tentu, karena khas gudeg dan angkringannya, kita juga tak perlu merogoh kocek terlampau menjerit untuk mendapat seporsi nasi dengan lauk daerahnya yang njawani.
Di sini, kau tak perlu adu menu paling mahal agar orang-orang di sampingmu insecure, atau diunggah ke medsos biar kelihatan lebih berduit. Cari validasi ke sana ke mari. Pesanlah makanan yang sama dengan orang pada umumnya di situ. Duduklah bersama dengan semua yang hadir di sana. Tak peduli jabatanmu setingkat apa, atau followers medsosmu sebanyak apa.
Tentu, jangan cuma pesan makan, duduk, bayar, lalu pergi. Diamlah sejenak untuk sekadar menyeruput secangkir kafein dan sebatang nikotin. Amati nama warung itu dengan tipografinya yang aduhai. Ditulis manual dengan tangan di atas kain atau papan, disertai tulisan beraksara Jawa, pilihan warna cokelat yang menambah nuansa klasiknya, juga bingkai ornamen sulur yang membuat kesan jadulnya semakin nendang.
Jika kau pernah melihat foto estetik orang duduk di kursi Malioboro, jangan lupa, selagi di Jogja, mampirlah ke sana juga. Duduklah di sana. Hamburkan tubuhmu. Biarkan tubuhmu terhempas sejenak setelah perjalanan jauh ke kota ini, juga perjalanan jauh dari hidupmu yang tidak pernah selesai.
Duduklah. Jangan terburu-buru membuka kamera ponsel. Simpan saja gawaimu di saku. Duduk dan diamlah. Sendiri pun tak apa. Perhatikan suasana sorenya. Lampu-lampu yang mulai berpendar, seiring berpamitnya beberapa berkas cahaya matahari sore. Dengarkan suara langkah-langkah berlalu lalang. Kendaraan-kendaraan yang melaju pelan. Orang-orang yang ramai antre di warung dan kedai oleh-oleh khas Jogja.
Saat kau pulang, tak perlu juga membawa banyak oleh-oleh. Ceritakan saja ke saudara-saudaramu, ke kawan-kawan tongkronganmu, betapa serunya Jogja tanpa harus mengunjungi destinasi wisata yang ini dan yang itu. Ceritakan setiap detailnya. Agar orang-orang tahu Jogja yang sesungguhnya. Jogja yang kau pahami dari detail-detail kecilnya itu. Jogja kecil-kecilan.
Tak perlu pula kau unggah foto-foto selama di Jogja. Jika sempat mengambil gambar, simpan saja di memori gawaimu. Lalu, saat mulai merindukan Jogja, sesekali lihat kembali foto-foto itu. Ingat benar-benar saat kau berada di tempat yang ada di gambar itu, saat itu. Rasakan suasananya, persis saat berada di tempat yang ada di foto itu. Lalu berjanjilah, dengan penuh keyakinan, akan kembali mengunjungi Jogja dengan cara yang sama.
Tabik, Abror Mu'thie.
Stasiun Tugu Yogyakarta, 9 Januari 2026

0 Komentar