Benar-benar tanpa ide. Malam tahun baru, saya mencoba mengenangnya dalam sebuah catatan. Semacam esai kecil untuk dimuat ke blog pribadi. Untuk sekadar dibaca ulang di suatu kesempatan nanti. Syukur kalau ada orang lain ikut baca.
Tapi tak satu pun ide muncul. Kosong. Aneh saja karena tahun ini terasa begitu penuh masalah. Dari persoalan receh headset hilang sebelah, hingga pejabat semacam Bahlil yang sering bikin ulah.
Jangan-jangan karena belum makan malam, pikir saya, otak pun belum bisa diajak ngobrol. Jadilah saya motoran cari makan. Saya turuti apa kata perut mau makan apa. Yang penting halal. Mau semahal apa pun hahaha.
Bakso, katanya. Okelah saya turuti. Di samping halal, harganya juga tak seberapa. Sepanjang motoran saya tengok kanan-kiri, hingga melipir di sebuah kios dengan tulisan "Sedia Bakso dan Mie Ayam."
"Bakso, Mas?"
"Iya."
"Campur?"
"Iya."
"Pedas?"
"Iya." (Meski dalam hati mbatin, "Buruan, Pak. Saya lapar. Yang penting bakso. Mau pedas atau tidak, itu urusan belakangan. Bisa tambah sambal sendiri")
Kenyang sudah perut ini. Semangkuk bakso, segelas es teh, dan selembar kerupuk, sudah dijejali ke dalamnya. Tapi, kenapa otak belum juga bisa diajak ngobrol. Saya paksa dia suruh cari ide, tetap saja tak berkutik. Mau tambah satu mangkuk lagi, tapi yang tadi saja sudah bikin jalan tertatih saking kenyangnya.
Hey perut! Jangan kurang ajar kau! Mengajakmu sampai ke penjual bakso ini bukan perkara mudah. Malam-malam begini, gerimis lagi, harus bermantel hujan, mengeluarkan motor, mencari tukang bakso, dan mengunyah dengan teliti tekstur bulat menggelindingnya sebelum meluncur ke lambung. Sekali lagi, ini bukan perkara mudah.
Saya coba pikir-pikir lagi. Ada apa gerangan tak muncul ide sedikit pun. Atau jangan-jangan harus ngopi dulu. Iya, barangkali segelas kafein bisa mencairkan pikiran, dan memaksa ide tulisan untuk keluar dari sarangnya.
Jadilah saya mencari coffee shop. Berburu tempat yang cocok untuk nyeruput kopi pahit. Harapannya muncul juga ide ciamik.
"Kopi pahit, Mas!" pesan saya pada abang barista.
"Tanpa gula?" tanya dia.
"Kalau pahit ya tanpa gula, Mas," timpal saya sambil menarik napas dalam.
"Kalau ada gula, ada semut, Mas," sambung saya.
Karena tidak lucu, tak ada satu pun yang tertawa.
Seruput pertama menyentuh lidah. Pahit. Sebentar lagi pasti muncul ide, gumam saya, pada diri sendiri. Seruput kedua menyusul. Oke, pasti sebentar lagi. Seruput ketiga, keempat, hingga kopi tersisa seperempat cangkir. Sial! Tak muncul ide sama sekali.
Terkutuk kau! Segelas kopi yang tak berkontribusi apa-apa, kecuali memaksa saya merogoh kocek sekian puluh ribu rupiah.
Dengan cara apa lagi saya harus memaksa ide itu muncul. Berpikir sejenak, sambil menghabiskan beberapa seruput lagi. Hingga memutuskan untuk cabut dari coffee shop, dan motoran entah ke mana. Asal jalan saja. Barangkali, ada sesuatu di jalanan yang menarik dan memantik ide, lalu bisa ditulis.
Motoran sudah berlalu beberapa menit. Tapi masih saja ide itu belum kelihatan batang hidungnya. Kendaraan berlalu lalang yang bikin macet dengan klaksonnya yang berisik justru bikin fokus jadi buyar. Ide tulisan tak dapat, bensin pun sudah berkurang sepersekian liter.
Akhirnya, saya memilih untuk mengalah. Tampaknya mau bergulat sehebat apa pun, mau diusahakan se-effort bagaimanapun, percuma ide itu tak akan muncul. Saya memilih menyerah, dan menuliskan catatan ini dengan judul "Tanpa Ide."
Aneh, bukan? Ketiadaan ide itu adalah ide tulisannya hahaha.

0 Komentar