Tahun Baru Tanpa Kalender


Tahun baru, katanya, dimulai setelah Desember selesai merampungkan tugasnya. Setelah angka dua belas diganti satu. Setelah jarum jam menyentuh titik yang kita sepakati sebagai pukul 00.00 lebih sepersekian detik. Seolah waktu memang tunduk pada kesepakatan manusia. Seolah hidup mau patuh pada kalender cetakan percetakan.

Siapa yang pertama kali memutuskan bahwa satu Januari adalah awal, bukan kelanjutan saja? Padahal, kalau mau, sah-sah saja kita masih di 2025, saat orang-orang sudah gempita di 1 Januari 2026. Atau sebaliknya. Wong waktu-waktu saya, hidup-hidup saya. Kok situ yang ngatur.

Siapa yang berhak mengatakan kalau hidup boleh diulang hanya karena angka berganti? Siapa yang mengajari kita bahwa perubahan harus menunggu tanggal sekian agar sah?

Jawabannya tidak sesederhana “kita”. Sebab, tidak semua “kita” berada di posisi yang sama untuk menyepakatinya.

Lalu, “kita” yang mana?

Kita yang masih punya rumah untuk menutup pintu setelah merayakan tahun baru? Kita yang masih bisa bercanda soal resolusi yang akan dilanggar Februari nanti? Atau kita yang masih punya kemewahan paling dasar bernama keteraturan hidup?

Sebab, kalender hanya masuk akal bagi orang-orang yang hidupnya berlanjut tanpa terputus. Jam hanya bermakna bagi mereka yang esok harinya masih punya “esok”.

Lalu, bagaimana dengan saudara-saudara kita di Sumatera, yang tidak saja kehilangan rumah berteduh, tapi juga cerita masa lalu hidupnya. Mereka tidak tahu ada di fase hidup yang mana. Sudah melakukan apa saja. Dan akan berbuat apa. Benar-benar seperti terjebak dalam dimensi yang tak bisa melihat sekarang hari apa jam berapa.

Banjir benar-benar menyeret mereka ke dimensi lain. Dimensi tanpa masa lalu untuk dikenang, juga masa depan untuk menumbuh semangat. Banjir, yang saya, dan juga Anda yang membaca catatan ini, hanya bisa menyaksikan kemahadahsyatannya di medsos, sambil terus mengutuki pemerintah yang empatinya sudah bau tanah.

Banjir itu menyeret pergi batas antara kemarin dan hari ini. Mencabut masa lalu dari akarnya, juga menutup pintu masa depan. Dalam satu malam, hidup mereka benar-benar direset ulang. Dari nol. Sekali lagi, dari nol. Atau mungkin minus nol. Tragis.

Bagi mereka, tahun baru bukan dimulai dari Januari. Tapi dari ketiadaan. Anak kecil tak ingat lagi sedang duduk di sekolah dasar kelas berapa. Muda-mudi tak ingat lagi sudah kuliah di semester berapa. Para orang tua tak ingat lagi anak-anak mereka tinggal berapa. Tempat tinggal, bahkan desa-desa mereka, sudah hilang dari peta dan ingatan. Lantas, apa yang bisa mereka kenang?

Untuk sekadar mengingat kehidupan normal sebelum bencana pun, mereka tak kuasa

Di kehidupan mereka, kalender dan jam tak ada lagi gunanya. Bahkan, bahasa pun kehilangan daya gunanya. Sebab, kata “sesudah” hanya masuk akal bagi orang yang punya sesuatu untuk dilewati. Dan kata “sebelum” hanya pas bagi mereka yang masih menyimpan jejak pencapaian.

Sementara mereka, saudara kita, tidak sedang bergerak dari fase A ke fase B.

Mereka jatuh keluar dari garis waktu itu. Terseret entah seberapa jauh. Sangat jauh. Jauh sekali. Hampir mustahil kembali ke titik semula. Benar-benar hidup dalam kenihilan.

Maka, di hadapan tragedi semacam ini, gagasan tahun baru menjadi telanjang. Tahun baru hanya milik sebagian orang yang masih punya kuasa untuk menerjemahkan angka-angka di kalender dan putaran jarum jam sebagaimana dikehendakinya.

***

Sekarang, ketika kita dengan santai mengucapkan “selamat tahun baru”, itu soal keberuntungan belaka, bukan pergantian waktu yang sejatinya. Kita beruntung bahwa hari ini, di jam-detik ini, rumah masih berdiri, ingatan masih lengkap, dan masih bisa menceritakan hari kemarin secara utuh, juga masa depan dengan percaya diri.

Sementara mereka, saudara kita, tidak memasuki tahun baru apa pun. Mereka hanya terbangun di hari tanpa tanggal, tanpa jam, tanpa jaminan bahwa besok masih layak disebut “besok”.

Jakarta, 1 Januari 2026

Posting Komentar

0 Komentar