Lihatlah dirimu yang bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa itu. Dirimu yang hanya ada karena diadakan oleh Yang Maha Ada. Bukan dirimu yang ada karena kehadiran orang lain.
Di perjalanan bus Sengkang menuju bandara Makassar, lelaki itu duduk di kursi dekat jendela, menatapi semua yang muncul di luar sana. Di wajahnya, tampak sedang memikirkan banyak hal. Sesekali menghela napas panjang, lalu menghembusnya pelan.
Bukan, ia tidak sedang memikirkan tentang apa saja yang dilihatnya di luar jendela. Ia sedang memikirkan hal-hal belakangan ini yang membuatnya lebih banyak bertanya. Meski seringnya ia tidak tahu ke mana arah pertanyaan itu, atau bahkan tidak tahu sama sekali ia menanyakan perihal apa.
Belakangan ini, katanya, banyak kejutan sekaligus takdir yang membingungkan. Campur aduk. Entah pelajaran apa yang hendak Tuhan daraskan untuknya. Tapi, yang jelas, semua akan menemukan kesimpulan. Pikirnya. Meski, entah, kapan kesimpulan itu benar-benar bisa disimpulkan.
Sekarang, katanya, ia hanya menjalani apa yang ada, apa yang bisa dihadapi dengan sisa tenaga dan kewarasan, sambil tetap sekuat mungkin menemukan diri sendiri kembali seutuhnya.
Melihat diri lebih dalam, lebih intim. Katanya, sebagaimana dawuh Kanjeng Nabi, "Man 'arafa nafsahu, faqad 'arafa rabbahu." Siapa yang bisa melihat diri lebih dalam, diri yang seutuhnya, maka ia akan mampu melihat Tuhan yang sejatinya.
Melihat diri? Melihat diri yang bagaimana?
Selama ini, mata yang kita miliki terlalu sibuk menyelidiki kehidupan orang lain, orang-orang yang bahkan tak kita kenali sekalipun. Pun hati yang kita punya. Sering hanya sibuk mengurusi perasaan orang lain, kadang malah menggadaikan perasaan sendiri untuk orang-orang yang tak berperasaan, atau orang-orang yang tak mau menghargai perasaan.
Untuk melihat diri secara utuh, barangkali kita butuh jeda untuk menepi. Sendiri. Hanya ada Tuhan yang benar-benar kita lihat, benar-benar kita curahkan perasaan untuk-Nya, sepenuhnya.
Kita lupakan barang sejenak perjalanan hidup yang sudah dilalui puluhan tahun itu. Kita hadirkan diri yang tidak terikat oleh apa pun. Beban, emosi, perasaan, apa pun yang melekat pada diri selama ini, kita tanggalkan dulu.
Lihatlah dirimu yang bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa itu. Dirimu yang hanya ada karena diadakan oleh Yang Maha Ada. Bukan dirimu yang ada karena kehadiran orang lain. Bukan dirimu yang ada karena punya ini dan itu. Bukan dirimu yang ada karena keruwetan yang selama ini kau ciptakan sendiri.
Teruslah lihat dirimu lebih dalam, semakin dalam, dan semakin terlepas dari apa pun. Hingga kita benar-benar sadar bahwa hanya ada Tuhan dan kita seorang diri.
Di saat berada dalam kesendirian itu, lihatlah dirimu dengan Tuhanmu. Dirimu yang amat lemah di hadapan-Nya yang Maha Kuat, dirimu yang pendosa di hadapan-Nya yang Maha Pengampun, dirimu yang bukan siapa-siapa di hadapan-Nya yang Maha Apa Saja.
Lihatlah dirimu lebih dalam lagi. Selemah-lemahnya kita, pada akhirnya Tuhanlah satu-satunya yang bisa kita jadikan sandaran dan memberi pelukan sehangat senyum ibu. Pada-Nya, kita tak perlu takut dihakimi, dikecewakan, atau bahkan dikhianati.
Teruslah melihat ke dalam diri. Sejauh apa pun kita terhempas dari laku hidup yang sudah seyogianya, terjebak dalam kerumitan hidup yang bahkan kita susah untuk memaafkannya, tataplah Tuhan yang ada di depanmu, yang tak pernah lelah memberi maaf dan ampunan pada hamba-hamba-Nya yang terus berupaya mengenali dirinya kembali.
Tetap lihatlah dirimu, yang selama ini selalu kau kecewakan itu karena tak kunjung menjadi siapa dan tak punya apa. Lalu lihatlah di hadapanmu, ada Tuhan yang bisa membuat siapa saja menjadi apa dan punya apa, juga Tuhan yang selalu berbisik, "Tak ada hamba yang lebih bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa, kecuali hamba-Ku yang tak pernah melihat kehadiran-Ku dalam dirinya."
Setelah ini, kita harus berjanji, pada diri sendiri, juga pada Tuhan yang Maha Baik itu. Tak perlu bersandar pada siapa pun, jika tak ingin menghadirkan luka yang kita ciptakan sendiri. Tak perlu lagi bingung jika laku hidup terlalu naif dan tak layak mendapat maaf, karena Tuhan selalu menunggu kita sowan di teras rumah-Nya.
Sengkang, 7 Oktober 2025

0 Komentar