Sebelum saya menulis panjang mengular dan anda khusyuk merapal kata demi kata, izinkan saya disclaimer dulu. Yang dimaksud “mafia” di sini bukan sindikat kriminal kelas kakap yang bergerak secara rahasia dari balik layar proyek APBD. Bukan pula mafia migas yang bisa mengoplos pertamax jadi pertalite. Apalagi mafia oleh-oleh haji yang lihai mengubah air zam-zam jadi air radiator. Bukan. Bukan itu.
Yang ingin saya ceritakan adalah segerombol anak kecil kampung, usia sekitar sembilan tahunan, yang beroperasi subuh-subuh buta, ketika ayam masih mempertimbangkan mau berkokok atau lanjut tidur. Mereka ini diam-diam menyusup ke lokasi tahlilan subuh, bukan untuk mencari pahala semata, tapi demi selembar uang dua ribuan yang dibagikan setelah doa selesai. Bagini kisahnya.
***
Di masa kecil, saya dan tiga sahabat karib punya misi rahasia yang tak pernah dibocorkan ke siapa pun, termasuk ke ibu sendiri. Ini bukan soal main petasan di kuburan atau nyolong buah mangga tetangga. Misi kami lebih terhormat, lebih religius, dan tentu saja, lebih cuan.
Misi itu bernama Operasi Tahlil Subuh.
Ya, betul. Tahlilan. Ritual doa yang biasanya jadi ladang pahala bagi kaum tua, tapi bagi kami bocah SD, tahlilan subuh justru jadi ladang cari cuan. Kami nggak cuma ikut doa. Kami adalah freelancer kampung yang nongol di pemakaman saat subuh untuk mendapatkan amplop receh dari keluarga almarhum. Pokoknya semacam kelompotan Mafia Tahlilan. Keren, bukan?
Di desa kami, kalau ada yang meninggal, keluarga duka biasanya ngadain tahlilan tiga kali sehari selama tujuh hari penuh: habis Asar, ba’da Isya, dan setelah Subuh. Nah, kami bertiga biasanya menarget yang Subuhan. Ini bukan karena rajin, tapi karena hasil pengamatan lapangan dan strategi yang—percaya atau enggak—udah teruji bertahun-tahun, dari generasi ke generasi. Khusus tahlilan orang meninggal bakda Subuh, diadakan di makamnya langsung.
Begini, tiap kali masjid mengumumkan ada orang meninggal, warga sekitar mungkin refleks mengucap, “Innalillahi…” Tapi kami bertiga malah saling melirik dan berseru lirih, “Alhamdulillah.” Jangan salah sangka, ini bukan karena kami kejam. Tapi karena kami tahu, akan ada tujuh hari berturut-turut tahlilan, dan di setiap pagi buta, ada cuan.
Lumayan, kalau sekali datang saja dapat dua ribu rupiah, dikali tujuh hari sudah 14 ribu. Belum lagi kalau di hari yang sama ada dua atau tiga acara tahlilan. Tiga orang yang meninggal dunia. Ah, ladang basah ini. Pikir kami, bocah-bocah mafia tahlilian ini.
Strategi kami tidak main-main. Malam sebelum eksekusi, kami rapat kecil di pojokan mushala. Bukan di Zoom atau grup WhatsApp. Jaman itu, ponsel saja belum akil baligh. Rapat dilakukan setelah ngaji Iqra’, dengan mata merah akibat menghapal “ta, tsa, ja” dari sore.
Kesepakatannya sederhana tapi visioner: kami harus tidur di mushala selama tujuh malam. Tujuannya bukan agar bangun tahajud atau berburu Lailatul Qadar. Tujuan utamanya, bangun subuh, ikut jamaah (biar gak dicurigai), lalu setelah salam, langsung ngacir ke makam tempat tahlil berlangsung.
Memulai Aksi
Subuh itu, sambil mengucek mata dan masih bau iler, di pemakaman, kami duduk di antara orang tua yang mengenakan sarung, jaket, dan jaket lagi (karena subuh di desa itu seperti pendingin ruangan alami). Kami duduk khusyuk, ikut membaca kalimat laa ilaaha illallah, sambil sesekali mengintip kantong plastik penuh amplop yang sudah disiapkan keluarga almarhum.
Setelah doa selesai, amplop dibagikan. Kami, bocah yang baru bisa shalat dengan fasih dua rakaat, dapat dua ribu. Orang dewasa dapat lima ribu. Tapi jangan salah, bagi kami dua ribu itu bisa buat rental PS berjam-jam. Uang saku sekolah kala itu saja masih 500 sampai 1000 rupiah.
Namun, seperti semua bisnis sukses, muncul keinginan untuk ekspansi. Saat satu hari ada dua jenazah di dua tempat berbeda, kami mulai berpikir ala mafia beneran: bagaimana kalau kita sikat dua-duanya?
Dan ya, kami lakukan. Kami hadir di lokasi A lebih dulu, mengikuti doa sampai amplop berpindah tangan, lalu swoosh—kabur ke lokasi B yang biasanya sudah setengah jalan. Dengan mimik khusyuk dan langkah ringan ala ninja, kami menyelinap ke barisan belakang. Dan boom, amplop kedua pun di tangan.
Kami mulai merasa seperti pebisnis kelas kakap. Dan seperti kebanyakan pebisnis sukses, muncul ambisi: bagaimana caranya dapat bayaran setara orang dewasa?
Salah satu dari kami—sebut saja namanya Toni (bukan nama sebenarnya karena ini kisah memalukan)—punya ide cemerlang. Ide yang bisa masuk TEDx kalau itu ada di desa kami. Ia berpikir, kalau masalahnya tinggi badan, maka solusinya adalah rekayasa visual. Toni pun mengumpulkan beberapa batu bata di makam yang remang-remang, lalu menumpuknya seperti menara Pisa versi lokal. Ia duduk di atas tumpukan itu saat tahlilan, agar tingginya mirip orang dewasa, dengan begitu bakal dapat amplop 5000.
Secara teori, strategi ini nyaris sempurna. Makam cukup gelap, lampu petromaks cuma menerangi bagian depan dekat imam tahlil, dan warga tidak memperhatikan detail tinggi badan jamaah di barisan belakang. Tapi seperti semua teori konspirasi yang terlalu percaya diri, selalu ada lubang.
Seseorang dari belakang menyadari ada yang aneh dengan tinggi Toni. Entah karena siluetnya terlalu tegak, atau karena kaki Toni tidak menyentuh tanah. Saat doa belum genap diaminkan, tumpukan bata itu langsung ditendang seseorang dari belakang. Kontan, Toni terjungkal seperti pohon pisang ditebang. Amplop belum dapat, martabat sudah hilang.
Kami yang menonton dari kejauhan terpingkal nauzubillah setan. Toni? Ia langsung pulang, menyesali hidup, dan mungkin mempertimbangkan karier lain selain mafia tahlilan hahaha.
Hari ini, dua puluh tahun berselang, kami sudah bukan bocah yang mengejar amplop dua ribuan. Kami sudah jadi orang dewasa yang ikut tahlilan dengan sungguh-sungguh, tanpa niat cuan. Tapi kenangan itu selalu hidup. Setiap kali saya mendengar kabar duka dari masjid, ada sedikit bisikan nakal di dalam hati: “Wah, subuh besok rame nih…” Tenang. Itu Cuma bisikan nostalgia. Saya janji tidak akan bawa batu bata lagi.
***
Riwayat segerombol mafia tahlilan ini tak hanya mengandung nostalgia, tapi juga sindiran terselubung buat era sekarang. Anak-anak kampung era 2000-an, walau nakalnya kelewatan, tetap tumbuh dalam lingkungan yang religius meski dengan niat duniawi. Mereka bisa nyari cuan lewat ritual, tapi tetap kenal mushala, jamaah subuh, dan kalimat lâ ilâha illallâh walau motivasinya dompet, bukan iman.
Sekriminal-kriminalnya bocah kampung memanfaatkan momen kematian buat tambahan uang jajan, setidaknya “kiblat” hidupnya masih ke mushala, bukan ke wifi corner seperti bocah-bocah sekarang. Kapitalisasi tahlilan yang mereka lakukan—meski tak etis—masih dalam koridor yang kenal moral. Karena toh, mereka tetap salat, tetap ikut ngaji, tetap ngerti doa-doa, meskipun ya... niat awalnya nyari recehan.
Kalau dibandingkan dengan generasi bocil sekarang, yang lebih akrab dengan skin Mobile Legends daripada bacaan doa arwah, tentu saja terlihat kontras. Bukan ingin membandingkan masa lalu selalu lebih baik—karena romantisasi masa kecil itu jebakan—tapi setidaknya kita bisa bilang: bocil zaman dulu nakal dalam ekosistem yang masih ada langgar dan ustaz. Bocil zaman sekarang? Lebih hafal jadwal live streamer daripada jadwal ngaji di mushala.
Yang menarik adalah, bahkan dalam kenakalan, ada konstruksi nilai yang bekerja. Anak-anak yang kapitalis tadi—walau dengan metode amfibi antara mushala dan makam—tetap hidup dalam batas-batas sosial yang bisa ditebak. Nakal iya, tapi bisa dinasihati. Kreatif iya, tapi masih bisa ditertawakan. Ini beda dengan generasi hari ini yang kadang kepribadiannya dibentuk oleh algoritma, bukan lingkungan sosial.
Refleksi dari kisah ini sederhana tapi dalam: anak-anak kampung dulu hidup dalam dunia nyata yang konyol tapi hangat. Mereka mencuri kesempatan, tapi tidak kehilangan arah. Berpikir cepat, tapi tidak memutus relasi dengan komunitas. Bahkan saat mereka disepak karena duduk di tumpukan bata demi lima ribuan, itu bukan akhir dari segalanya. Itu awal dari kisah klasik yang akan ditertawakan puluhan tahun kemudian.
Jadi, saat kita melihat bocah-bocah zaman sekarang lebih sibuk dengan layar daripada liang lahat, barangkali kita perlu merenung: jangan-jangan bukan mereka yang terlalu bebas, tapi lingkungan yang kehilangan kendali. Karena pada akhirnya, bocah yang menipu demi amplop tahlilan masih lebih beradab ketimbang bocah yang menipu lewat TikTok live. Setidaknya yang satu masih bisa baca Yasin.
Tabik, Abror Mu’thie

0 Komentar