Sore itu, saya membuka nasi berkat bawaan bapak sepulang tahlil syukuran pemberian nama anak tetangga. Di antara nasi, sambal goreng kentang, dan kerupuk yang sudah sedikit melempem, terselip kartu ucapan selamat. Saya baca dengan penuh khidmat, seolah-olah sedang membaca ijazah. Nama anaknya: Andrean El-Shanum.
Sehari sebelumnya, saya juga menemukan kartu serupa. Namanya juga Shanum, cuma beda embel-embelnya. Antara Syafana Shanum atau Shanum El-Shakena, saya lupa. Yang jelas, ini bukan kali pertama saya melihat nama sejenis. Penasaran dengan artinya, saya coba cari tahu artinya. Kayaknya dari bahasa Arab yang ejaannya sedikit dimeleyotkan.
Saya buka-buka kamus Arab. Kok tak kunjung dapat. Satu-satunya yang menyebut “Shanum” hanyalah Lisan al-‘Arab karya Ibn Manzur, kamus segede gaban yang tebalnya 10 jilid. Bjirr. Menurut beliau, shanum dari akar kata shanama yang artinya “melukai” atau “air dingin”. Wadidaw. Antara horor dan mistis. Ini anak dikasih nama biar adem atau biar bikin luka batin, saya juga bingung.
Hilangnya Otoritas Kiai Kampung
Saya nggak bilang nama Shanum itu jelek. Sama sekali tidak. Nama itu hak prerogatif orang tua. Wong mereka yang bikin anaknya, mereka yang begadang, mereka pula yang bolak-balik bidan, masa saya yang repot? Tapi tetap saja, kita nggak bisa menutup mata bahwa tren penamaan ini menunjukkan gejala yang lebih besar: hilangnya otoritas kiai kampung.
Dulu, sebelum bayi dikasih nama, orang-orang biasanya sowan dulu ke kiai kampung. Tanya nama yang bagus, yang islami, yang diyakini ada berkahnya. Lalu sang kiai biasanya menyebutkan satu-dua nama dari ayat Qur’an atau nama sahabat Nabi. Bukan cuma indah, tapi penuh makna. Nama adalah doa, begitu katanya.
Sekarang? Nama anak bisa lebih dulu muncul di TikTok sebelum akte lahir selesai. FYP jadi lebih penting daripada sabda kiai. Kiai kampung? Makin hari makin terlihat seperti kenangan masa lalu yang dikemas dalam buku yasin.
Bukan cuma soal nama. Dulu, kiai kampung adalah poros semesta. Ada bayi nangis terus, dibawa ke kiai untuk disuwuk. Ada orang kesambet, kiai didatangkan untuk merukyah. Ada keluarga rebutan warisan nyaris bacok-bacokan, kiai kampung dihadirkan untuk mendamaikan. Pokoknya paket komplit.
Kiai dulu itu seperti Google Assistant, tapi lebih sakti. Sekaligus bisa jadi dukun, psikolog, mediator konflik, sampai semacam penjamin moral warga. Kalau kiai bilang “nggak boleh”, ya udah, titik. Sekarang? Yang dianggap penting itu caption Instagram. “Kata ustadz TikTok sih, nggak papa...”
Fenomena ini bukan semata-mata tentang nama. Ini tentang simbol, tentang arah angin yang berubah. Kiai kampung, perlahan tapi pasti, mulai kehilangan peran strategis dalam masyarakat. Mereka bukan lagi pusat rujukan, tapi jadi semacam background karakter dalam drama kehidupan desa yang makin modern tapi kehilangan akar.
Boleh jadi, 100 tahun lagi, nama-nama simbah di kampung adalah Shanum, Alex, Raesyha, atau semacamnya. Lalu anak-anak mereka akan kasih nama yang lebih absurd lagi.
Sementara nama seperti Dasngad, Durakim, atau Sumirah akan jadi koleksi museum. Suwuk, rukyah, atau ngajari anak ngelafal huruf hijaiyah juga akan dianggap warisan zaman dinosaurus yang tidak kompatibel dengan kurikulum parenting milenial. Padahal, dulu itu suwuk andalan utama biar anak nggak rewel kalau malam Jumat.
***
Fenomena ini bukan sekadar tentang nama unik atau gaya kekinian. Ini gejala yang lebih dalam: bahwa masyarakat desa sekarang sedang mengalami pergeseran orientasi keilmuan dan otoritas spiritual. Otoritas kiai digantikan oleh suara-suara anonim di media sosial. Kadang suara itu pakai backsound mellow dan filter estetik. Atau bahkan joged viral yang menggejalanya naudzubillah setan.
Lebih lucu lagi, kadang orang-orang yang dulunya ogah belajar agama, sekarang mendadak merasa jadi ustadz karena pernah nonton satu video ceramah 1 menit. Gaya bahasanya meyakinkan, padahal dalilnya ngalor-ngidul tak karuan. Tapi karena disampaikan dengan backsound sedih dan subtitle aesthetic, langsung dianggap dalil syar’i.
Sementara para kiai kampung yang sudah sepuh, yang belajar puluhan tahun dari kitab kuning, mulai ditinggalkan. Ucapannya dianggap kurang relevan, kurang keren, dan terlalu kolot. Padahal, kalau diajak debat, bisa jadi mereka lebih paham sharaf, nahwu, sampai balaghah daripada konten kreator yang cuma model baca terjemah Al-Qur’an di aplikasi android.
Ironis memang. Di saat kampung semakin banyak sinyal 4G, justru sinyal spiritual dari kiai lokal malah mulai lemah. Orang lebih percaya testimoni followers daripada ijazah pesantren. Lebih percaya akun parenting daripada petuah Pak Yai. Lebih percaya kalau ustadznya viral, meski nggak jelas sanad ilmunya.
Saya pernah iseng tanya ke teman yang anaknya dikasih nama Zayyana El-Mihrab. Saya kira itu nama hasil istikharah kiai di sepertiga malam. Ternyata salah besar. Katanya, “Waktu itu lagi scroll TikTok, terus ada nama itu. Cakep. Ada El-nya biar kayak nama artis Korea.” Astaga-naga. Ini nama anak atau nama karakter drama kolosal?
Ini bukan sekadar soal gaya atau tren. Ini tentang benturan antara tradisi dan modernitas. Antara lokalitas dan globalisasi. Antara kiai kampung dan konten viral. Dan sayangnya, di banyak kasus, kiai kampung kalah telak. Mereka kalah bukan karena tak punya ilmu, tapi karena tak punya akun Tiktok sejuta followers.
Kini, kiai kampung kadang hanya diminta baca tahlil di acara walimahan, lalu pulang ditentengi berkat dua besek dan amplop yang hanya cukup buat beli satu bungkus rokok. Padahal dulu, mereka yang jadi pusat. Yang kata-katanya punya bobot. Yang petuahnya digenggam erat seperti jimat.
***
Apakah ini berarti kita harus kembali ke masa lalu? Tidak juga. Tapi seenggaknya, kita bisa mulai merawat kembali otoritas lokal yang berbasis tradisi. Kita perlu kiai kampung, bukan hanya untuk urusan suwuk dan rukyah, tapi sebagai penyeimbang dunia yang makin cepat, makin riuh, dan makin kehilangan arah.
Kita tidak sedang sekadar kehilangan nama-nama Arab kuno. Kita sedang kehilangan sumber makna. Kehilangan arah. Dan yang paling menyedihkan, kehilangan orang-orang yang selama ini menjaga arah itu untuk kita. Mereka tak marah, tak protes, hanya pelan-pelan menghilang seperti sinyal HP di tengah sawah.
Tabik, Abror Mu'thie

0 Komentar