Saban Idulfitri, saya sekeluarga di kampung terbiasa makan lontong opor ayam buatan ibu. Iya, lontong, bukan ketupat. Kenapa? Ya, karena sejak zaman dinosaurus pun ibu sudah menganut paham hidup praktis. “Yang penting bisa dimakan dan bikin kenyang, ribet-ribet amat,” katanya.
Lontong dan ketupat, sekilas mirip, tapi beda nasib. Lontong dibungkus daun pisang berbentuk lonjong, sedangkan ketupat terbuat dari anyaman janur muda yang membentuk segi empat simetris. Ketupat lebih Instagramable, lontong lebih simpel. Tapi ya, isinya tetap sama—beras juga.
***
Selama puluhan tahun, menjelang Lebaran, saya sekeluarga tidak pernah merasakan serunya menganyam janur muda. Bukan karena tidak mau melestarikan budaya atau apa, tapi karena alasan sederhana: bikin lontong memang lebih praktis.
Cukup daun pisang digulung lonjong, diisi beras, direbus—beres. Sementara bikin ketupat? Waduh, harus nganyam dulu, salah anyaman sedikit bisa gagal berlebaran, belum lagi harus memastikan berasnya nggak terlalu padat atau terlalu longgar. “Ketupat atau lontong, toh isinya sama. Jangan dibikin ribet,” kata ibu tiap kali saya usul bikin ketupat. Ya sudah, saya manut. Wong saya cuma tinggal makan.
Tapi semakin ke sini, saya mulai berpikir. Apakah semua yang praktis itu selalu lebih baik? Lontong memang lambang kepraktisan dan efisiensi, tapi ketupat? Ketupat itu tradisi, skill warisan leluhur yang makin langka dikuasai.
Lontong itu seperti aplikasi pesan-antar makanan: cepat, mudah, dan nggak ribet. Ketupat? Kayak masak sendiri dari nol, mulai dari belanja bahan sampai plating, butuh effort, tapi ada kebanggaan tersendiri di baliknya.
Perang Dimulai
Hingga sekali waktu, dua hari menjelang Idulfitri 1446 H (2025), kami sekeluarga mendadak merasa terpanggil untuk memasak ketupat. Entah kerasukan wangsit dari mana, tiba-tiba ibu pulang dari pasar dengan membawa satu pelepah janur muda. Masalahnya sekarang satu: siapa yang akan membuat ketupat?
Di keluarga, hanya bapak yang punya skill perketupatan. Itu pun sudah puluhan tahun tidak diasah, ibarat senjata pusaka yang lupa diasapi kemenyan.
Sebenarnya ibu bisa saja membeli ketupat jadi. Tinggal isi beras, rebus, kelar. Tapi karena sudah telanjur beli janur, ya sudahlah, maju tak gentar! Dengan semangat 45 dan modal pede, kami berenam—saya, tiga adik, dan dua kakak—serempak membuka tutorial bikin ketupat di YouTube. Siapa tahu bisa instan jadi master anyam-menganyam. Perang dimulai.
Satu jam berlalu. Puluhan kali video diputar ulang, tutorial di-zoom sampai pixelnya pecah, tetap saja gagal paham. Ternyata susah tujuh-belas-setan. Sore ini ketupat harus sudah matang, karena malam nanti sudah takbiran. Tapi astaga naga, ribetnya luar biasa! Sepertinya ada makhluk halus yang sengaja meruwetkan janur di tangan kami.
Tiga di antara kami (tidak termasuk saya, karena saya masih optimis) angkat tangan. Tiga lainnya masih berusaha memahami filosofi anyaman janur yang tampak sederhana tapi ternyata penuh jebakan batman.
Ketika hampir semua nyaris putus asa, satu orang (lagi-lagi, bukan saya) akhirnya berhasil menemukan rumus anyamannya. Saya dan kakak yang masih bertahan pun langsung terpacu. Sudah sejauh ini, masak mundur? Anyaman kami mulai membentuk sesuatu yang menyerupai ketupat. Tinggal sedikit lagi! Tapi kemudian semrawut lagi. Ulang dari awal. Begitu terus.
Dua jam berselang. Akhirnya, tiga orang (saya, adik saya, dan kakak saya), berhasil menguasai skill menganyam ketupat secara sempurna. Setelah entah berapa kali trial and error yang melelahkan jiwa dan raga.
Bapak yang baru saja pulang dari sawah juga langsung bergabung dengan kami di teras, di tengah hamparan janur yang sudah berantakan tak karuan. Tampaknya bapak ingin bernostalgia dengan skill lawasnya yang ia pelajari dari generasi tua, jauh sebelum ada YouTube. Untungnya, ilmu bertuahnya itu belum benar-benar musnah. Sekarang, kami punya empat personil penganyam ketupat.
“Dulu waktu kecil, bapak dibilangin sama orang tua. Katanya kalau tidak bisa bikin ketupat, nanti bakal kena karma suruh memikul alat kelamin buto (raksasa),” kenangnya, menerawang jauh ke masa lalunya, di sela-sela menganyam janur.
“Makanya bapak dulu belajar mati-matian waktu kecil. Berguru sama orang tua dulu. Pokoknya kalo belum bisa, kepikiran terus. Gak kebayang nanti kena karma seseram itu,” imbuhnya dengan nada serius, sementara kami semua terbahak mendengarnya.
Setelah duduk dari pukul 10.00 hingga 14.00, kami berhasil memproduksi 40 ketupat. Bukan angka yang fantastis, sih. Tapi ya maklum, ini dikerjakan oleh tiga tenaga pemula plus satu bapak sebagai legenda hidup yang sudah agak lupa-lupa ingat.
Penyelamat Tradisi
Saya sungguh tidak habis pikir. Kalau saja ibu tidak nekat beli satu pelepah janur muda, bisa jadi Lebaran tahun ini—dan tahun-tahun berikutnya—kami akan terus terjebak dalam zona nyaman lontong. Kami tidak akan pernah belajar menganyam ketupat, sepanjang hayat masih dikandung badan. Skill bertuah bapak bakal lenyap, tergerus zaman, seperti kaset pita yang dilibas Spotify. Serem sekali.
Lontong memang lebih praktis, cepat dibuat, dan tidak memerlukan skill kelas dewa. Tidak perlu menganyam janur yang bikin pusing dan bisa mengundang migrain dadakan. Cukup gulung daun pisang, isi beras, lalu rebus. Beres.
Namun, di balik kemudahannya, ada sesuatu yang hilang—sebuah keterampilan warisan leluhur yang seharusnya kami pertahankan. Ketupat bukan sekadar makanan; ia adalah simbol ketekunan, kesabaran, dan warisan nenek moyang yang terselip dalam tiap helaian janurnya.
Dulu, bagi anak-anak kampung, menganyam ketupat adalah ritus wajib. Kayak ujian nasional, kalau nggak lulus, siap-siap malu sama teman-teman, dan dicoret dari kartu keluarga. Belajar dari para orang tua, berulang kali gagal, jemari kaku dipaksa lentur, sampai akhirnya anyaman terbentuk rapi. Ada kebanggaan tersendiri ketika akhirnya bisa bikin ketupat yang bentuknya lebih mirip belah ketupat daripada bola benjol tak berbentuk.
Tapi kini, keterampilan itu makin langka. Pasar swalayan dengan entengnya menyediakan ketupat siap isi, dan janur tak lagi menjadi bagian dari kesibukan menjelang Lebaran. Praktis? Ya. Sedih? Banget.
Saya jadi berpikir, betapa mudahnya kita tergoda kenyamanan. Dalam banyak persoalan hidup, kita lebih memilih jalan pintas dibanding mempertahankan tradisi yang menuntut usaha lebih. Masak lontong bukan kesalahan, tentu saja. Tapi kalau semua orang mulai meninggalkan ketupat hanya karena lebih ribet, ada sesuatu yang perlu direnungkan.
Tradisi sering kali bukan hilang karena usang, tapi karena kita terlalu malas untuk melestarikannya. Keterampilan tangan semakin kalah oleh kemudahan digital dan kepraktisan modern. Hari ini, kita kehilangan skill menganyam ketupat. Besok, siapa tahu kita bahkan lupa cara bikin mie instan karena sudah kebanyakan pesan makanan online.
Maka, saat ibu membawa pulang pelepah janur muda, itu bukan sekadar belanja Lebaran biasa. Ini deklarasi perang melawan kemalasan. Ini keputusan berani yang mengajak kami untuk keluar dari kebiasaan, belajar sesuatu yang selama ini kami anggap tidak penting, dan merasakan kembali betapa berharganya tradisi yang hampir musnah.
Menganyam ketupat akhirnya menjadi pengalaman yang lebih dari sekadar belajar keterampilan. Itu adalah momen kebersamaan, perjuangan bersama, dan tawa saat jemari kami kesulitan menaklukkan janur yang licik dan keparat itu.
Setiap anyaman yang gagal, setiap ketupat yang akhirnya terbentuk, menjadi pengingat bahwa tidak semua hal dalam hidup harus serba instan. Ada kalanya kita perlu bersusah payah untuk mempertahankan sesuatu yang berharga.
Jadi, mungkin ini bukan hanya tentang lontong dan ketupat. Ini tentang bagaimana kita menghadapi perubahan. Apakah kita terus memilih jalan yang lebih mudah dan perlahan kehilangan warisan berharga? Atau sesekali berani melawan arus, mencoba hal yang lebih sulit, dan memastikan keterampilan serta nilai-nilai lama tetap hidup?
Saya harap, tahun depan kami tetap makan ketupat. Bukan karena lontong tidak enak, tapi karena ada sesuatu yang lebih berharga dalam anyaman janur itu.
Ah. Ini hanya perkara ketupat. Kenapa saya harus berpikir ke mana-mana dan menulis panjang mengular seperti ini?
Tabik, Abror Mu'thie.

0 Komentar