Aanda-anda —para generasi seblak yang budiman— mungkin bingung bukan kepalang, apa enaknya sih nasi yang biasa didapat dari hasil hunting bapak di tahlilan RT itu. Padahal, asal kalian tahu, ini harta karun kuliner. Wadahnya ceting plastik kecil, beralas daun pisang, lauknya sambal goreng kentang, bihun goreng, kadang ditambah tumis kacang panjang. Dan tentu saja yang paling ikonik: telor rebus seperempat potong.
Iya, seperempat, bukan utuh. Ini bukan soal hemat, ini soal filosofi: sing penting kebagean. Bukan juga karena dampak efisiensi anggaran. Semua dapat, semua merasa cukup, walau cuma seujung sendok. Sebuah bentuk sosialisme kuliner yang sudah hidup jauh sebelum diskusi soal program makan siang gratis yang bikin mumet satu negara itu.
***
Tapi itu dulu, awal 2000-an, sebelum seblak dan mie gacoan menyerang lidah-lidah muda dan mengobrak-abrik isi perut karena selalu bikin mules heboh. Belakangan, lauk telor rebusnya sudah naik pangkat jadi setengah potong, bahkan satu telor utuh. Kemajuan? Mungkin. Tapi rasa khidmatnya sedikit menurun.
Karena nasi berkat bukan cuma soal isi, tapi soal situasi. Ia hadir dalam momen-momen ketika manusia merasa jadi bagian dari sesuatu: tahlilan, syukuran, khitanan. Saat-saat sakral ketika kita duduk bareng tetangga, disuruh ambil nasi, dan diberi bonus: obrolan tentang siapa yang lagi sakit, siapa yang baru beli motor, dan ngegibahin siapa yang tidak ikut tahlilan tanpa kabar yang jelas.
Nasi berkat itu healing generasi millennial. Makanan yang tidak bisa dipesan via GoFood, tapi bisa bikin kita pulang secara spiritual. Gen Z (meski tidak semua Gen-Z loh ya), mana paham?
***
Karena nasi berkat bukan cuma soal isi, tapi soal situasi. Ia hadir dalam momen-momen ketika manusia merasa jadi bagian dari sesuatu: tahlilan, syukuran, khitanan. Saat-saat sakral ketika kita duduk bareng tetangga, disuruh ambil nasi, dan diberi bonus: obrolan tentang siapa yang lagi sakit, siapa yang baru beli motor, dan ngegibahin siapa yang tidak ikut tahlilan tanpa kabar yang jelas.
Nasi berkat itu healing generasi millennial. Makanan yang tidak bisa dipesan via GoFood, tapi bisa bikin kita pulang secara spiritual. Gen Z (meski tidak semua Gen-Z loh ya), mana paham?
***
Bandingkan dengan generasi seblak. Bukan berarti seblak itu nggak enak atau saya anti seblak. Saya juga pernah khilaf makan seblak level 5, terus nangis di kamar mandi sambil mikir dosa apa yang saya lakukan hari itu. Pedesnya tujuh belas setan. Tapi seblak itu datang dari budaya kuliner yang serba instan, pedas harus ngegas, topping harus banyak, semua harus viral dulu baru laku. Kalau viralnya selesai, langsung sepi peminat.
Sementara nasi berkat? Diam. Adem. Nggak pernah dibikinin konten TikTok, tapi selalu ditunggu-tunggu. Nggak pernah pakai endorsement, tapi selalu laku. Nggak butuh lampu neon untuk tampil, karena dia tahu: yang penting adalah niat ikhlas pembutanya.
Saya pernah hidup ketika nasi berkat selalu ditunggu-tunggu kehadirannya. Ketika bapak pulang menenteng nasi berkat sebakda tahlilan dari hajatan warga —walau lagi asyik-asyiknya adu layangan penuh adrenalin— saya bisa langsung bringsut menyusul bapak mengambil alih tentengan. Lalu dengan girang memanggil orang satu kampung (eh, satu rumah), "Berkat..berkat..!
Dan satu hal penting yang tak bisa diganggu gugat: nasi berkat tidak mengenal status ekonomi. Entah kamu konglomerat atau tukang galon, begitu kamu masuk acara syukuran, keluar-keluar pasti bawa berkat. Dalam momen itu, semua manusia setara di hadapan Tuhan, dan di hadapan kotak nasi yang isinya sama.
Secara nggak sadar, nasi berkat itu sebenarnya punya fungsi sosial yang luar biasa: sebagai peredam kelas sosial. Nggak percaya? Coba deh tengok isinya. Mau kamu direktur BUMN atau juragan angkringan, begitu duduk di acara tahlilan dan nerima berkat, yang kamu bawa pulang ya tetap nasi putih dengan lauk-pauknya yang sederhana.
Nggak ada tuh versi “nasi berkat sultan” atau “nasi berkat rakyat jelata”. Semua sama rata, sama rasa. Bahkan yang ngadain hajatan pun kadang makannya belakangan, dapet sisaan malah.
Ngomong-ngomong, kalau kita ditunjuk suruh mimpin tahlil, garansi nasi berkat dobel plus amplop biasanya sudah dalam genggaman. Itu bukan bentuk tidakpenyetaraan, tapi apresiasi. Mimpin tahlil kan harus punya skill khusus: hafal runturan zikir yang macam-macam dan mampu merapal doa yang panjang mengular.
Saya sendiri sering pulang kampung lebih lama saat mudik lebaran. Alasannya mulia: biar bisa menikmati Syawal dengan khidmat—di rumah. Sebab, kalau Syawal bapak dapat banyak undangan tasyakuran pernikahan. Sehari bisa tiga sesi: pagi, habis zuhur, dan bakda asar.
Belum lagi selalu ditunjuk jadi imam tahlilnya. Berkatnya pasti dobel. Sehari bapak bisa menggondol enam nasi berkat. Kalau pepatah bilang: sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui; maka bapak bersabda: sekali tahlilan dua-tiga nasi berkat terkantongi. "Andai tiap hari seperti ini, tak perlu repot lagi belanja ke pasar dan masak ini itu," kelakar ibu.
***
Maka, kalau hari ini kamu lagi lelah jadi dewasa—capek disuruh kuat, bosan pura-pura bahagia di Instagram, atau trauma diinterogasi terus "Kapan Nikah?"—pulanglah. Iya, pulang. Cari tahlilan, duduk bareng warga, dengarkan doa, dan tunggu momen sakral saat seseorang bilang, “Monggo diparingi berkatipun.”
Tabik, Abror Mu'thie

0 Komentar