Menulis tesis itu tidak bisa diduakan. Kata orang. Artinya, begitu menempuh magister, mau tidak mau harus menanggalkan semua kesibukkan. Bahkan, kalau bisa, dan memang harus bisa, jadikan perpustakaan kampus seolah kantor tempat kerja, rutin berangkat tiap pagi dan pulang saban sore hari, demi tetap fokus menggarap penelitian.
Begitulah kira-kira wasiat para dosen ketika saya baru menjejaki bangku S2 agar bisa lulus tepat waktu, 4 semester, di Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta.
Hanya, tidak semua orang bisa memilih di mana ia tinggal, dan menentukan kesibukkan model apa yang mesti ia lakoni. Nyatanya, kondisi saya —juga beberapa kawan saya, atau mungkin anda yang sedang membaca tulisan ini– sangat mustahil untuk bisa menerapkan prinsip hidup akademik-prefeksionis seperti yang disabdakan sang dosen itu.
Bayangkan, kampus saya di Ciputat, di UIN Syarif Hidayatullah, sedangkan domisili saya (wajib) di Kelurahan Kedoya Utara, Kebon Jeruk, di salah satu pesantren. Ada kewajiban yang harus saya tunaikan di tempat ini.
Kiranya butuh waktu tempuh kurang lebih satu jam tiap perjalanan ke kampus mengendarai motor. Rasanya 60 menit motoran di Jakarta, berkali-kali, menerobos kemacetan yang parahnya tujuh belas setan, cukup membikin babak-belur.
Belum lagi saat musim penghujan, sepanjang jalan hanya bisa pasrah dengan kondisi basah kuyup kedinginan. Kadang, saat curah hujan cukup deras dan airnya menggenangi jalanan, sambil mengendarai motor batin terus merapal, "Semoga mesinnya tidak mati". Motor mogok pun pernah saya alami. Dan nahasnya, begitu dibawa ke bengkel, malah kena tipu montir sialan. Rusaknya bagian apa, yang diservis dan diganti bagian apa.
Saban jam pulang kuliah pun, orang model saya tidak bisa nongkrong di kafe untuk menyeruput kopi panas atau sekadar buka laptop menggarap tugas kuliah layaknya "mahasiswa ideal" Ibu Kota, tapi wajib secepat kilat tancap gas pulang karena harus tiba sebelum Magrib agar bisa mengajar Al-Qur'an. Kadang, kalau tiba di pesantren mepet Magrib, boro-boro mandi, tapi langsung shalat dan lekas bergegas mengajar.
Setiap malam, paling cepat pukul 21.00, saya baru sempat buka laptop untuk menggarap tugas kuliah, termasuk tesis. Ingin rasanya begadang agar lebih banyak waktu untuk memaksimalkan kerja-kerja akademik, tapi mau bagaimanapun harus tidur pukul 23.00 atau 00.00. Sebab, jam 03.00 harus melek lagi, "ngoprek" para santri yang untuk sekali membangunkan saja butuh waktu satu jam agar benar-benar turun semua ke masjid shalat tahajud dan istighosah.
Kadang, pukul 00.00 pun belum bisa istirahat. Tubuh dan pikiran memang sudah babak-belur di jam itu, tapi karena posisi kamar bersebelahan dengan bilik para santri, maka bisa saja, kapanpun itu, terganggu dengan kebisingan atau kegaduhan yang datang di jam berapapun. Sesekali kaget terbangun saat sudah pulas karena ada saja ulah semprul anak-anak. Ya, namanya juga anak-anak.
Maka, wajar sekali jika hampir dipastikan setiap jam kuliah saya ngantuk bahkan pulas di kelas. Lah iya, sudah waktu istirahat kurang, digebuki kemacetan sepanjang perjalanan ke kampus pula. Btw saya masih menyimpan video saat tertidur di kelas wkwk.
Bisa dibayangkan, berangkat kuliah jauh-jauh hanya untuk "pindah tempat tidur". Kadang, sambil nyimak kuliah, saya pura-pura buka laptop untuk menyamarkan raut wajah, agar dosen tidak tahu kalau posisi saya sedang tepar pulas. Trik ini tidak bisa diterapkan buat mahasiswa yang kalau tidur ngorok ya haha.
Ini baru soal pola istirahat yang kacau, belum dengan jadwal mengajar di sana-sini yang harus tetap berjalan. Pada akhirnya, waktu-waktu "sisa" di luar aktivitas itulah yang saya pakai untuk semaksimal mungkin menunaikan kewajiban akademik sesempurna saya mampu, terutama tesis.
Di tengah kepadatan ini, saya juga menyempatkan diri untuk tetap produktif. Selain tentu menggarap dan menyelesaikan segala bentuk tugas kuliah, saya tetap menulis, baik di berbagai media online, buku, artikel ilmiah (jurnal), hingga artikel untuk diikutkan dalam sejumlah konferensi nasional maupun internasional.
Pada Selasa, 30 Juli 2024 lalu, tesis saya rampung dan diujikan secara terbuka dengan predikat Cum Laude. Tepat di penghujung semester ke-4 (2 tahun). Meski jika dihitung bersih, hanya 1 tahun lebih 6,5 bulan. Sebab, awal masuk kuliah 22 November 2022, di penghujung semester. Dengan ini, saya tercatat sebagai magister ke-2705 Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Di angkatan kelas, alhamdulillah saya paling awal. Barangkali, "keberuntungan" ini semacam adagium sugih tanpo bondo, digdoyo tanpo aji.
Terimakasih, orang-orang baik yang selalu support, juga kawan-kawan yang sudah ramai-ramai menggeruduk ruang sidang mengucapkan selamat, mengabadikan momen di memori gadget.

0 Komentar