Beruntung sekali kita yang punya kampung halaman. Setiap Idulfitri bisa merasakan war tiket transportasi umum dari yang murah hingga gratis. Meski banyak juga yang memesan tiket dengan harga normal. Bisa berswafoto di bandara, stasiun kereta, atau terminal kota dengan background lalu lalang orang menarik koper besar atau memikul kardus mie instan berikat tali rapia. Bisa kembali merasakan denyut kampung yang dulu melahirkan dan membesarkan.
***
Saya punya seorang kawan, hidupnya boleh dibilang
"nomaden", pindah-pindah tempat tinggal. Rumah pertamanya sudah
beralih pemilik. Di kampung rumah awalnya pun, tak ada saudara yang tinggal di
sana. Kampung masa kecilnya benar-benar asing. Setiap tahun, ia tidak pernah
merasakan pulang kampung.
"Saya tidak punya kampung halaman. Saya tidak punya
tempat untuk mengenang masa kecil," curhatnya sekali waktu. Ia merasa
seolah kampung beserta kenangan-kenangan masa kecilnya lenyap begitu saja.
Setiap momen mudik menjelang Idulfitri, ia hanya bisa
melihat unggahan tiket transportasi kawan-kawannya di story medsos. Saat orang
beramai memadati stasiun kereta atau terminal bus kota, ia hanya bisa menyimak
beritanya di stasiun televisi, tanpa merasakan serunya berdesakan dengan semangat
rindu kampung halaman yang menyala.
Teman saya yang lain, yang lahir di kota Tangerang, menempuh
pendidikan hingga mendapat kerja di kota kelahirannya, juga tidak pernah
merasakan denyut mudik ke kampung halaman. Ia memang masih tinggal di tempat kelahirannya,
dan kenangan masa kecilnya masih terekam jelas serta dapat ia rasakan kapanpun.
Tapi, dia bukan perantau.
Syarat mutlak seorang pemudik adalah perantau. Dengan
merantau, kita punya jarak geografis dan waktu dengan kampung halaman, dan oleh
karena itu tercipta kerinduan. Tanpa jarak itu, kerinduan mustahil tercipta.
Semakin jauh tempat merantau, semakin lama pula ia tidak berjumpa kampung halaman,
semakin besar pula rindu yang dipendam.
Lain lagi dengan kawan saya yang berasal dari Indonesia
Timur. Ia merantau ke Jakarta. Baginya, mudik adalah mimpi yang hampir mustahil
dilakoni. Lah, biaya pulang-pergi tiket pesawatnya saja setara dengan harga
satu unit motor Beat. Kalau lima tahun merantau dan setiap tahun mudik saja, ia
telah kehilangan uang seharga lima motor Beat. Itu baru menghitung harga tiket
pesawat, belum memikirkan keponakan-keponakan yang menjelma menjadi debt
collector liar saat Idulfitri tiba.
***
Maka sesungguhnya orang yang berkesempatan mudik ke kampung
halaman telah mendapat anugerah Tuhan yang tak terukur dan tak ternilai oleh
apapun. Ia masih bisa melihat setiap jengkal kenangan yang selalu menarik untuk
diceritakan meski berulang hikayat. Ia masih bisa duduk di teras rumah yang
dulu biasa digunakan untuk kumpul ngobrol santai satu keluarga.
Masih bisa berkunjung ke mushala kecil yang dulu
mengajarinya membaca Al-Qur'an. Masih bisa menyowani guru ngaji yang dulu
telaten menuntun dari satu huruf hijaiyah ke huruf hijaiyah lainnya. Masih bisa
berjumpa kawan lama dengan nasib hidup yang macam warna. Masih bisa bertegur
sapa dengan tetangga yang dulu menjadi bagian dari masa kecilnya. Masih bisa
melihat bocah-bocah yang entah generasi keberapa sejak ia merantau.
Orang tua kita di kampung halaman adalah harta tak ternilai yang harus terus disambang, dimuliakan, dan "dikeramatkan". Setidaknya ini menjadi alasan terkuat untuk mudik. Jika memang mereka sudah tiada, tetaplah pulang kampung. Berziarah dan kirim doa terbaik di hadapan pusara. Kepada kerabat dan tetangga orang tua, beramahtamah dan berbaiklah, menyabung dan melanjutkan silaturahmi kedua orang tua.
*Ditulis di dalam gerbong kereta Argo Cirebon, perjalanan mudik Jakarta-Brebes. Senin, 1 April 2024.

0 Komentar