Pria Tanpa Asap Rokok 


Selain jumlah pemeluk agama Konghucu, pengalaman minoritas di Indonesia juga dialami oleh pria yang memilih hidup tanpa asap rokok. Maka, ketika seorang lelaki memutuskan tekad menempuh jalan suci tanpa menghisap tembakau, ia harus memiliki mental minoritas dengan segala drama dan dinamikanya. 

Sebab, saya punya banyak kawan yang mulanya memutuskan hidup tanpa rokok, tapi karena keimanan dan tekadnya setipis tisu dibelah tujuh, akhirnya terjerumus dalam kehidupan yang penuh asap. Habis makan, ngerokok. Gabut, ngerokok. Galau, ngerokok. Mikir sedikit, ngerokok. Sedikit mikir, banyak merokok.

Pokoknya rokok bagi pecandu ibarat makanan pokok. Bahkan, andaikan ia punya uang pas-pasan yang hanya cukup untuk sarapan, ia rela menahan lapar asal ada rokok, rokok, dan rokok. Sakti benar para perokok ini. Hanya dengan menguntal asap, perutnya bisa kenyang.

Katanya, sih, pecandu rokok itu sudah ketergantungan sama ngisep asap. Kalau sehari tanpa ngudud, emosinya bisa kacau, mudah marah, dan bad mood seharian. Alamak, ngeri kali ya.

Sebanyak 99,9% kawan saya pun semuanya perokok. Maka, selama hidup, saya merasakan dahsyatnya godaan hidup ke dimensi asap. Di mana ada perkumpulan, di situlah asap rokok mengepul. Teman di pesantren, kampus, rekan kerja, dan banyak lagi. Dunia ini dipenuhi oleh para perokok. Saya tidak ada masalah dengan para perokok, kecuali mereka yang tetap menyulut tembakau di area yang jelas-jelas ada tulisan "No Smoking Area!". 

Menjadi pria tanpa asap rokok bukan soal ketahanan prinsip saja, tapi juga bagaimana agar ia bisa menyesuaikan diri layaknya kaum minoritas. 

Sudah hampir dipastikan, saat bertemu kawan, apalagi jika orang baru, saya ditawari rokok. Katanya, itu ritual solidaritas para perokok. Saat mereka menyalakan sebatang tembakau, satu bungkus rokok dengan koreknya akan disandingkan di meja obrolan agar kalau-kalau teman ngobrolnya lupa bawa rokok, bisa ikut serta berasapria. 

Kalau dalam kondisi begini, biasanya saya agak bingung harus merespons seperti apa. Mau bilang "Maaf, saya tidak merokok", kok ya kaku sekali. Meskipun kawan saya pasti memaklumi, tapi ada semacam perasaan gengsi. Sebab, sudah menjadi prinsip umum bahwa laki-laki ya harus ngerokok. Kalau tidak merokok, ya diragukan kelaki-lakiannya. Sungguh penilaian yang sangat naif. 

Kalau kalah dan memilih merokok, kok ya lemah sekali diri ini. Hanya karena sebatang tembakau, harus mengorbankan prinsip yang sejak kecil saya pegang. Jujur, saya sekalipun belum pernah saya menghirup asap rokok, kecuali asap kawan-kawan saya sendiri di tempat tongkrongan. 

Untuk menyiasati kebingungan itu, saya biasa mengatur strategi respons saat ditawari rokok. 

Respons model pertama, saya biasa bilang kalau untuk sekarang sedang tidak merokok dulu. Kalau ditanya apa musababnya, saya menjawab ada alasan yang tidak saya utarakan sekarang. 

Jawaban ini biasa saya tujukan untuk orang yang baru saya temui atau kawan yang belum akrab. Sebab, jawaban seperti ini lebih sopan dan santai. 

Respons ini jauh lebih smooth dibanding jika saya bilang "Maaf, saya bukan perokok". Karena teman saya pasti akan merasa bersalah sebab seolah ia berkata pada pria yang tak merokok dengan kalimat "Ayo ngerokok, dong. Masa laki-laki tidak merokok". Meskipun secara lisan ia hanya berkata semisal "Silakan", sambil menyodorkan bungkus rokok dan koreknya. 

Kadang pula saat ditawari rokok saya ngeles dengan respons "Waduh, saya nggak cocok dengan rokok ini." Biasanya teman saya akan bertanya, "Emang apa rokokmu?" Saya sudah menebak pertanyaan ini dan pasti sudah menyiapkan jawabannya. "Hanya orang-orang khusus yang bisa nebak merek rokok saya," timpal saya sambil tekekeh angkuh. 

Respons yang kedua ini biasa saya berikan untuk kawan yang sudah akrab. Sebab, selain smooth, jawaban ini agak humoris dengan bumbu tawa dan canda. 

Kadang, kawan yang sudah paham betul saya bukan perokok, melemparkan ejekan canda dengan kalimat sialan seperti "Ngerokok lah! Laki-laki apaan tidak merokok!" Lalu disusul dengan gelak puas tawa kawan-kawan yang lain. 

Kalau sudah kondisi terpojok begini, biasanya saya bakal merespons dengan jawaban yang tidak kalah nyelekit. Misal, "Heh, para kaum asap. Ingat! 99,9% cewek gak suka asap rokok. Bahkan, asap rokok menjadi salah satu pemicu ketidakharmonisan hubungan rumah tangga!" 

Ada juga yang bilang begini, "Ngaku NU tapi tidak merokok, cuaksss." Jawaban saya biasanya simpel saja, "Saya punya kenalan yang hobi mabuk, tiap malam ke diskotik, sering nyopet, dan dia perokok berat." 

Begitulah ribetnya hidup sebagai minoritas di bangsa ini. Kadang, kita yang menempuh jalan lurus ini justru harus pandai-pandai menyiasati diri agar hidup tetap baik-baik saja. 

Jadi, jika anda ingin mencari lelaki berprinsip, liriklah pria-pria yang tidak bergantung hidup pada asap rokok. Di balik pilihannya itu ada perjuangan dan keteguhan yang mahal hahaha..

Tabik,
Abror,
12/4/2024.

Posting Komentar

0 Komentar