Kita, utamanya kaum laki-laki, saat buka puasa atau sahur, barangkali hanya tahu makanan sudah siap santap di meja. Padahal, di balik nasi yang ada di atas piring, lauk-pauk yang macam-macam itu, kolak yang legit segar, dan tetek-bengek lainnya di jam makan, bukan disiapkan tanpa perjuangan.
Di balik makanan yang siap santap saat momen Ramadhan, ada aksi heroik sosok ibu yang tidak biasa-biasa saja.
***
Sejak kecil, hingga kini saat pulang kampung mudik menjelang Idulfitri, saya selalu berdecak kagum dengan kegesitan, kejelian, dan ketelitian ibu dalam menyajikan hidangan buka puasa dan sahur.
Untuk makanan buka puasa yang akan disantap waktu magrib saja, ibu sudah memikirkannya sejak pagi hari. Dan itu dilakoni sejak hari pertama hingga rampung bulan puasa. Jadi, kalau bisa diputar memori pagi ibu selama bulan puasa, pasti berisi rekaman soal sayur asam, sop, kangkung, tahu, tempe, pregedel, dan semua jenis sayuran yang ada di pasar Limbangan, samping desa saya, Prapag Kidul.
Pagi hari, ibu biasa sudah bergerilya ke pasar dengan mengendarai motor Supra bapak. Membeli apa saja yang akan dimasak untuk berbuka puasa pada hari itu. Sebelum otewe ke pasar, biasanya ibu terlebih dulu menanyakan ke bapak dan anak-anaknya, "Hari ini mau makan apa?"
Seringnya kami menjawab "terserah" karena tanpa disebut pun ibu sudah pasti tahu selera kami, dari hari pertama sampai lebaran tiba. Di sisi lain, kami tidak mau merepotkannya dengan request macam-macam. Lah iya, ibu sudah hobi bikin masakan untuk keluarga sejak masih sama bapak seorang, jauh sebelum kami putra-putrinya lahir di planet ini. Pasti ia sangat paham selera kuliner keluarga.
Sekitar pukul 15.00 atau sebelum masuk waktu asar, ibu sudah beraksi di dapur. Memotong sayur-sayur dengan keterampilan pisaunya yang lihai bak permainan samurai Inuyasha, menggoreng apa saja di atas wajan legendaris dengan sangat ciamik, dan meramu-racik aneka bumbu dengan andal di atas ulekan layaknya Chef Arnold.
Maka, setiap menjelang asar, sudah dipastikan saya mendengar suara "glotakan" di dapur ibu. Irama talenan kayu beradu dengan pisau, kongsrengan minyak panas di penggorengan, gemrincing gesekan alat-alat dapur, dan, tentu, harum bumbu yang menyemerbak seisi ruangan rumah.
Mencium baunya saja sudah bisa menebak betapa nikmatnya menu buka puasa hari itu. Suasana inilah yang membuat anak-anaknya di perantauan ingin mudik sedini mungkin saat jelang lebaran.
Saat bau masakan ibu mulai tercium, seolah jarum jam berputar lebih lama. Mengapa tak kunjung magrib? Menanti sesuatu yang sangat ditunggu membuat seolah bumi berhenti berputar. Kok ya terasa lama sekali.
Magrib kurang 30 menit, semua makanan sudah tersaji rapi di meja makan. Nasi, lauk-pauk, kolak, dan semua yang nendang di lidah serta salto di perut terjejer menggoda.
Saat itu juga, saya membatin. Hebat sekali ibu. Saya hanya tahu makanan sudah tersaji. Sementara ibu harus berjuang menyiapkan semua ini sejak pagi hari. Rasanya tak sampai hati memakan apa yang ada di meja. Tapi, disantapnya makanan ini dengan lahap adalah harapan ibu setiap kali masak. Jiwa memberi tak harap kembali dalam sosok ibu memang nyata adanya.
Selesai shalat magrib pun, ibu masih dengan senang hati merapikan semua yang ada di meja. Mengelap alas meja, membenahi makanan yang masih tersisa, hingga mencuci piring, gelas, wajan, dan peralatan dapur lainnya.
"Ibu harus segera merapikan ini semua secepatnya. Biar sebelum shalat tarawih sudah resik semua. Sekalian beres," tutur ibu saat saya tanyai mengapa tidak dibereskan agak malaman saja biar bisa jeda istirahat dulu.
***
Itu baru soal buka puasa. Saat sahur, aksi ibu di dunia perdapuran juga tak kalah heroik. Saat saya, dan anak-anaknya yang lain masih tertidur pulas, ibu sudah bergulat dengan kompor dan penggorengan, menyiapkan menu sahur seperti saat menyajikan makanan untuk berbuka.
Baru ketika meja makan sudah siap dengan semua hidangannya, ibu membangunkan kami satu per satu. Bayangkan, saat kami masih pulas terlelap, ibu justru bangun lebih awal menyiapkan menu sahur, sementara kami anak-anaknya kadang butuh dua sampai tiga kali dibangunkan, untuk tinggal makan saja.
Selesai sahur pun, ibu masih dengan ringannya membereskan kembali isi meja makan dan mencuci perabotan dapur yang baru saja digunakan untuk masak dan santap sahur. Saat kami tetap bermalas terkantuk-kantuk selesai makan, ibu masih saja harus berurusan dengan perkara dapur.
Sudah bisa ditebak betapa capeknya para malaikat mencatat besar dan banyaknya pahala para ibu di bulan puasa. Maka, pemenang Ramadhan sesungguhnya bukan muslim yang berpuasa full satu bulan, bukan pula mereka yang saban malam shalat tarawih atau berburu lailatul qadar, bukan juga kita-kita yang rajin tadarus Al-Qur'an. Tapi, pemenang sejati di bulan mulia itu adalah para ibu.
Jika malaikat terbuat dari cahaya, maka para ibu diciptakan dari cahaya yang sangat terang menyilau.

0 Komentar