Selasa sore pukul 17.00, tiba-tiba adik di rumah kirim pesan dan berkabar kalau ibu ingin telepon. Ada yang perlu diobrolkan. Katanya.
Karena saya sedang ada kelas bersama para santri, saya minta untuk menunggu sebentar. Sekira 10 menit lagi bel pulang memecah-hamburkan santri dari ruang-ruang ngaji."Kakak rampungkan ngajar santri dulu ya. Nanggung. Bentar lagi selesai," balas saya melalui pesan WhatsApp.
Di 10 menit itulah saya terus berpikir, apa gerangan ibu minta telepon hari Selasa begini. Biasanya, ibu telepon di hari Minggu. Pas kebetulan saya nyantai. Meski saya tidak pernah meminta hari Minggu dikhususkan untuk menelepon orang rumah, tapi tampaknya ibu paham betul hari rehat anaknya. Kapanpun dan dimanapun ibu minta telepon, pasti saya sempatkan.
Sambil menyampaikan sisa-sisa materi ngaji hari itu, saya masih penasaran apa yang ingin ibu obrolkan. Sepenting apakah topik perbincangan selepas 10 menit berlalu nanti.
Apakah berkaitan dengan keluarga di rumah? Atau berhubungan dengan adek yang sedang mesantren dan baru mulai kuliah? Atau justru soal saya pribadi? Entahlah, 10 menit terasa 10 jam. Lama sekali bel pulang berdering.
Hampir saja saya telepon petugas agar bel pulang segera dibunyikan. Meski mustahil saya lakukan. Semua kelas bisa-bisa mendadak bubar, padahal jam belajar masih berlangsung. Tapi saya sadar ini hanya 10 menit. Hanya 10 menit.
10 menit berlalu, suara bel pun berdering. Menghamburkan santri dari satu kelas ke kelas lainnya. Entah mengapa suara bel kali ini terdengar lebih nyaring dibanding hari-hari biasanya. Kali ini bunyinya seolah meneriaki saya, "Cepat telepon!!!"
Biasanya santri-santri yang keluar kelas duluan setelah doa pulang dan saliman, kali ini saya izin ke mereka untuk mendahului. "Ustadz lagi buru-buru. Duluan ya," ucap saya sedikit tergopoh.
***
"Assalamualaikum, Bu. Gimana, Bu? Ibu dan bapak sehat, kan? Semua yang di rumah baik-baik saja, kan?" selidik saya, sambil menunggu suara ibu yang selalu saya rindukan.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah, di rumah semuanya sehat. Kamu gimana? Sehat, kan? Kamu telepon kok ngos-ngosan gitu. Kayak habis dikejar setan saja, " balas ibu.
Lega, batin saya. Tak terjadi suatu apapun di rumah. Tapi ada apa ibu telepon sore Selasa begini?
"Hehe.. Alhamdulillah. Saya juga sehat, Bu. Nih udah mau selesai semester tiga S2-nya," jawab saya.
Sengaja saya jawab soal perkembangan kuliah. Biasanya saat telepon ibu tidak alpa menanyakan sudah semester berapa, kapan lulusnya, dan hampir dipastikan dipungkasi, "Orang mana calonnya?"
Untuk pertanyaan yang terakhir ini, biasa saya jawab, "Pokoknya cantik, salehah, dan pewinter, Bu," sambil cengar-cengir. Jawaban yang sebetulnya cuma cari aman. Biar tidak diinterogasi lebih tajam.
"Begini. Di rumah banyak mangga. Kemarin sore, ibu, bapak, dan Lulu adekmu habis panen mangga di belakang rumah. Nggak bakal habis kalo cuma dimakan orang rumah. Ibu kirim ke Jakarta pakai kurir, ya?"
Penasaran mau ngobrol soal apa, ternyata cuma perkara mangga belakang rumah. Tapi setidaknya saya lega, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.
"Nggak usah repot-repot, Bu. Lagian ongkos kirim Brebes-Jakarta mahal. Apalagi sampe 5-10 kilo. Mending saya beli di Jakarta saja. Harganya lebih murah dibanding biaya ongkir dari rumah. Kemarin saya lewat di pasar banyak yang jualan, kok."
"Nggak apa-apa. Ibu pengen kamu ngerasain mangga hasil tanam bapakmu. Toh, ibu juga nggak tega kalo lagi musim mangga di rumah, tapi anak-anak pada nggak ada. Kan biasanya kalian yang ngehabisin," pinta ibu terus memaksa.
Memang, pohon yang tumbuh dan bertahan lama di belakang rumah saya adalah mangga. Biasanya, kalau kami kumpul di rumah, buah mangga sering kami tengok. Berbuah atau tidak. Meski sebenarnya bisa pergi ke pasar, yang tentu bisa membeli macam-macam buah, tapi memakan buah hasil tanam sendiri lebih berkesan. Apalagi dicolet rameh-rameh. Mayoran.
"Hehe, iya bu, saya paham. Tapi kalo dikirim pake kurir, khawatir rusak di jalan, atau telat nyampe tujuan jadi busuk duluan. Mending mangga yang di rumah bagikan saja ke tetangga. Saya bisa beli di Jakarta. Semua jenis mangga ada di sini. Mangga rasa jeruk juga ada loh, Bu," goda saya.
Setelah panjang lebar saya jelaskan, dengan berat hati akhirnya ibu mengalah. Rasanya tidak sampai hati merepotkan orang rumah buat maket buah mangga berkilo-kilo, tergopoh-gopoh mengangkutnya ke tempat pengiriman, dan membayar dengan harga cukup lumayan.
***
Katanya, begitu ibu melihat pohon mangga mulai berbunga, sesekali ia bergumam, sambil membayangkan wajah anak-anaknya, "Jangan sampai kalian sudah menjadi buah mangga besar nanti, lalu anak-anakku tidak sempat memetiknya."
Begitu terus ia lakukan setiap melihat pohon mangga yang kala pagi dan sore bapak sirami. Sampai bunga-bunga itu menjadi ratusan mangga yang ranum, anak-anaknya masih jauh di perantauan.
Begitulah sosok ibu. Ia selalu ingin berbagi dengan anaknya. Betapapun remeh hal itu. Meski hanya senilai buah mangga belakang rumah.
Katanya, begitu ibu melihat pohon mangga mulai berbunga, sesekali ia bergumam, sambil membayangkan wajah anak-anaknya, "Jangan sampai kalian sudah menjadi buah mangga besar nanti, lalu anak-anakku tidak sempat memetiknya."
Begitu terus ia lakukan setiap melihat pohon mangga yang kala pagi dan sore bapak sirami. Sampai bunga-bunga itu menjadi ratusan mangga yang ranum, anak-anaknya masih jauh di perantauan.
Begitulah sosok ibu. Ia selalu ingin berbagi dengan anaknya. Betapapun remeh hal itu. Meski hanya senilai buah mangga belakang rumah.
Kedoya Utara, 25/11/2023
.jpeg)
0 Komentar