Saya terpukau saat membaca esai-esai Cak Nun yang hanya terinspirasi dari hal remeh-temeh semacam kesandung atau putus tali sandal, terkagum ketika merapal kata per kata tulisan Prie GS yang terilhami dari pemulung maling panci, juga terheran bukan kepalang pas nemu tulisan kolom Agus Mulyadi (Cak Mul) di Detik yang idenya hanya didapat dari ayam tetangga yang menggasak sarapan paginya.
Saya kemudian berspekulasi, apakah penulis-penulis hebat itu lahir dari orang-orang pengangguran? Apakah mereka tidak punya kesibukan lain sehingga mau nelateni perkara-perkara sepele, memikirkannya larut-larut, lalu menyusunnya dalam rangkaian kata yang panjang mengular? Bukankah itu sama saja mempersulit hal-hal yang semestinya diabaikan. Barangkali mereka pengamal sejati jargon "kalau ada yang sulit, kenapa harus ambil yang mudah".
Jangankan memikirkan hal-hal sepele macam kasus kesandung kerikil, perkara-perkara besar saja kadang kita abai, luput dalam catatan. Saya, misalnya, punya tekad menuliskan ke blog pribadi setiap momen kunjungan ke tempat istimewa, destinasi jauh yang hampir mustahil saya lawat kali keduanya, atau momen-momen besar yang memoriable. Tapi nyatanya, hal-hal besar itu saya lewatkan begitu saja. Tanpa catatan apapun. Mendinglah saya masih sempat mengabadikannya dengan kamera smartphone.
Merekam momen-momen kecil dan remeh menjadi sebuah tulisan agaknya pekerjaan sulit. Sebab, hemat saya, menuliskan pengalaman-pengalaman perintilan seperti tiga penulis saya sebut di atas, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sudah merdeka dengan dunianya. Mereka benar-benar menulis dari dalam diri sendiri, bukan karena tuntutan luar yang menyetir ide dan arah tulisan.
Saya haqqul yakin, seorang jurnalis di media massa, misalnya, sebenarnya jarang (untuk menghindari menyebut "sama sekali") menulis berita dari diri mereka sendiri. Mulai dari tema, kasus, hingga model penulisan harus menghamba kepada media tempat dia bekerja. Kadang, wartawan pinggiran harus membuat framing berita hoax yang sebenarnya melanggar kode etik jurnalistik.
Pun seorang mahasiswa, dosen, atau peneliti, umpamanya, mereka menulis karena tuntutan akademik. Bagi saya, tulisan paling menyebalkan adalah hasil penelitian. Sudah pusing dibaca, tema dan arah tulisannya hasil paksaan atasan pula. Duh.
Seorang mahasiswa jurusan sejarah tidak mungkin meneliti isu-isu kedokteran, demikian pula dosen agama sangat mustahil menulis soal matematika. Kendati mereka punya kompetensi di luar konsentrasi akademiknya. Jika memaksa, karier intelektualnya pasti terancam gulung tikar.
Kelak, jika penulis amatiran macam saya sudah terbebas dari tuntutan akademik, industri, ataupun ekonomi, mungkin akan memilih hidup di kampung paling terpencil tak terjamah sinyal internet dan menuliskan hal-hal remeh semisal pengeras suara mushala yang dijajah ibu-ibu jam'iyahan, bocah-bocah kecil yang terjungkal mengejar layangan tanggal, atau pemuda pengangguran yang saban sore hanya ngupil di gang kuburan.
Balai Kota, 15/10/2023
Tabik, Abror Mu'thie
Penulis biasa

0 Komentar