Sengaja Allah membuat dua insan saling mencintai, agar mereka sadar bahwa cinta sesama makhluk hanya akan menumbuhkan luka, kecewa, dan sakit hati yang sulit dicari penawarnya. Hingga kemudian mereka lari kepada Sang Pemilik Cinta sejati.
***
Tujuh tahun lalu, ketika saya mendalami Alfiyah, salah satu kitab gramatika bahasa Arab tingkat akhir di pesantren yang populer itu, kerap kali saya menemukan kata “Laila” dalam potongan bait puisi bahasa Arab, dan semuanya bertema asmara. Salah satu bunyinya begini:
أَتَهْجُرُ لَيْلَى لِلْفِرَاقِ حَبِيْبَهَا * وَمَا كَانَ نَفْساً بِالْفِرَاقِ تَطِيْبُ
“Mana mungkin Laila rela pergi meninggalkan kekasihnya (Qais). Sungguh, jauh dari pujaan hati adalah luka.”
Setelah saya telusuri, ternyata tidak saja ditemukan dalam Alfiyah dan umumnya buku gramatika atau sastra Arab, tetapi “syair Laila” juga saya dapati dalam banyak literatur kitab-kitab keislaman. Salah satunya dikutip oleh Badruddin al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qārī, yang digunakan dasar argumen analogis tentang cara menghormati sosok mulia. Begini syairnya:
أَمُرُّ عَلَى الدِّيَارِ دِيَارِ لَيْلَى * أُقَبِّلَ ذَا الْجِدَارَ وَذَا الْجِدَارَا
وَمَا حُبُّ الدِّيَارِ شَغَفنَ قَلْبِي * وَلَكِنْ حُبُّ مَنْ سَكَنَ الدِّيَارَا
“Ketika aku (Qais) berjalan melintasi gubuk Laila, aku ciumi tembok-temboknya. Bukan karena aku kagum dengan indah rumahnya, tapi aku tergila-gila dengan orang yang tinggal di dalamnya.”
Syair ini menjadi dasar argumen bahwa salah satu cara menghormati orang yang mulia (ulama) adalah dengan menghormati apa yang dimilikinya, sebagaimana Qais menunjukkan cintanya pada Laila dengan menciumi rumahnya.
Belakangan saya paham bahwa Qais dan Laila merupakan dua tokoh asmara legendaris yang kisah cintanya banyak diabadikan dalam puisi-puisi Arab.
Nyata atau Fiktif?
Kisah cinta Qais bin Mulawwah dan Laila binti Sa’ad sangat masyhur dalam banyak literatur Islam, dari klasik hingga kontemporer. Bahkan, Yusri ‘Abdul Ghani menghimpun lengkap kumpulan syair Qais dari riwayat Abu Bakar al-Walabi dalam buku berjudul Dīwānu Qais bin Mulawwaḥ.
Buku itu menjelaskan sejak awal mula benih cinta tumbuh dalam hati Qais dan Laila, hingga keduanya dipisahkan oleh takdir dan menderita sakit parah, lalu sama-sama meninggal karena memendam rindu.
Kisahnya mendayu syahdu, melebihi sandiwara Romeo-Julia, film drama percintaan karya William Shakespeare yang melegenda itu.
Hanya saja kemudian muncul pertanyaan besar. Apakah kisah drama asmara Qais dan Laila fakta atau sebatas fiktif yang direka secara kronologis oleh para sastrawan mistikus muslim (sufi)?
Bagi kelompok yang menilai fiktif, nama Laila hanya ada dalam ilusi sufistik, dia bukan sosok perempuan sebenarnya. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Sayyid Ibrahim ad-Dasuqi yang mengatakan bahwa para mistikus Islam (sufi) biasa menggunakan nama-nama perempuan (termasuk Laila) untuk mengungkapkan puncak fantasi spiritual.
Dalam kondisi wushul yang begitu dahsyat, kenikmatan dekat dengan Allah diumpamakan oleh para sufi bagaikan seorang lelaki yang sedang berjumpa wanita pujaan hati yang sangat ia rindukan. Ad-Dasuqi berkata,
فَلَيْلَى وَهِنْدٌ وَالرَّبَــابُ وَزَيْنَـبُ * وَعَلْوَا وَسَلْمَى بَعْدَهَا وَبُثَيْنَــة
عِبَارَاتُ أَسْمَاءٍ بِغَيْرِ حَقِيْقَـــةِ * وَمَا لَوَّحُوْا بِالْقَصْدِ إِلَّا بِصُوْرَتِي
“Laila, Hindun, Rabbab, Zainab, ‘Alwa, Salma, dan Butsainah, adalah nama-nama fiktif. Para mistikus Islam menyebutkan hanya sebagai ungkapan.”
Kemudian, Taha Hussein, sastrawan dan intelektual Mesir abad ke-20 paling berpengaruh, menjelaskan setidaknya ada dua alasan kuat yang menjadi indikasi kisah Qasi-Laila hanya fiktif. Pertama, nama Qais ada banyak versi dalam sejumlah sumber. Kedua, terjadi keragaman tentang riwayat hidup Qais-Laila.
Dua argumen ini kemudian dibantah oleh kelompok yang meyakini kisah ini sebagai fakta. Bantahan argumennya adalah: pertama, perbedaan nama tokoh dalam sumber historis adalah hal wajar, dan ini banyak dialami oleh sosok lain seperti Abu Dzar al-Ghifari yang memiliki banyak versi nama, antara lain; Jundub bin Junadah, Jundub bin Abdul Malik, Barbar, Burbar, dan banyak lagi.
Kedua, keragaman versi kisah yang dialami tokoh juga hal lumrah dalam data sejarah. Ini tidak bisa jadi alasan untuk membantah keabsahan tokoh tersebut. Dalam kondisi ini posisi sejarawan adalah meneliti versi yang paling valid. Mengingkarinya adalah sikap gegabah.
Meski sebagian menolak keabsahan kisah Qais-Laila, mayoritas ulama meyakininya sebagai fakta. Sebab, ada banyak riwayat kuat yang mendukung kisah tersebut sebagai data sejarah yang valid. Hal ini disampaikan oleh Yusri ‘Abdul Ghani dalam Dīwānu Qais bin Mulawwaḥ.
Sebagaimana diketahui, Qais bin Mulawwah merupakan pujangga Arab legendaris yang hidup pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah, tepatnya saat fase transisi kepemimpinan antara Khalifah Marwan bin Hakam dan Abdul Malik bin Marwan.
Qais dikisahkan tergila-gila pada Laila. Hanya saja keluarga pujaan hatinya tak merestui dan menjodohkan Laila dengan laki-laki lain. Keduanya sakit-sakitan karena menahan rindu yang begitu menyiksa, hingga akhirnya meninggal dalam keadaan memendam cinta.
Para ulama kemudian menyebut Qais sebagai salah satu syuhadā'ul hubb (orang yang mati syahid sebab memendam cinta), dan menjadikan kisahnya sebagai falsafah cinta seorang hamba kepada Tuhannya.
***
Terlepas dari silang pendapat soal keabsahan Qais-Laila, kisah mereka memiliki 'ibrah luar biasa.
Sengaja Allah membuat dua insan saling mencintai, agar mereka sadar bahwa cinta sesama makhluk hanya akan menumbuhkan luka, kecewa, dan sakit hati yang sulit dicari penawarnya. Hingga kemudian mereka akan lari kepada Sang Pemilik Cinta sejati. Cinta yang hanya menjanjikan kebahagiaan.
Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari berpesan,
إِنَّمَا ابْتُلِيَ الْخَلْقُ بِالْفِرَاقِ لِئَلَّاَ يَكُوْنَ لِأَحَدٍ سُكُوْنٌ مَعَ غَيْرِ اللهِ تَعَالَى
"Sengaja kita dipisahkan dari orang yang kita cintai, agar kita tahu bahwa tidak ada cinta sejati kecuali milik Allah.”
Tabik,
Abror, Kedoya, 14 Mei 2023

0 Komentar