Bersimpuh di Pusara Laila

"Selama cinta masih bersemayam di hatinya, mendekap pusara Laila bagaikan memeluk hangat tubuh kekasihnya"

Sejak kecil Qais bin Mulawwah dan Laila binti Sa'ad adalah sepasang teman bermain yang sangat karib. Sa'ad (ayah Laila) sendiri merupakan paman Qais. Keduanya sering menggembala kambing bersama, berkejaran di padang lapang, dan kala malam menatap luas langit; berharap menjadi bagian bintang yang penuh kerlip.

"Lihat itu, bintang yang sangat terang itu bernama Qais, dan sampingnya yang paling dekat itu kamu, Laila," khayal Qais.

"Kamu tahu dari mana?" tanya Laila penasaran.

"Barusan mereka berbisik padaku," jawab Qais.

Angin malam berhembus pelan, tersipu malu mengintip perbincangan yang semakin larut.

***

Waktu berlalu cepat, Qais dan Laila pun tumbuh menjadi sepasang pemuda pemudi yang tampan rupawan. Tanpa terasa, kebersamaan yang mereka lewati memunculkan benih cinta yang kian hari tumbuh semakin kuat, meski mereka tak pernah mencoba mengungkapkan satu sama lain. Perhatian Qais kepada Laila, juga sebaliknya, cukup menjadi sinyal mahabbah yang mereka sadari.

Hingga sekali waktu Qais mencoba mengumpulkan tekad untuk mengungkapkan perasaan yang sudah lama disimpan, namun ia dilema untuk mengutarakan. Dipendam menyiksa jiwa, disampaikan khawatir ditolak dan membuat jiwanya hancur. Siap diterima, tapi tidak untuk sebaliknya.

Kian dipendam ternyata semakin menyiksa diri, hingga akhirnya ia memberanikan diri, tak peduli apapun yang terjadi. Yang penting, hematnya, ia telah menjadi lelaki pemberani dengan menyampaikan isi hati.

Prediksinya tidak meleset, sinyal-sinyal yang ia tangkap selama ini ternyata benar menunjukkan Laila memiliki perasaan yang sama. Namun belum lama kebahagiaan ia dapat, Qais harus menerima kenyataan bahwa keluarga kekasihnya tak merestui hanya karena persoalan status sosial.

Keluarga Laila mengancam Qais agar jangan lagi mendekatinya, atau nyawa taruhannya. Namun gertakan itu tak membuatnya takut sama sekali. Cinta yang terlalu besar telah membikinnya berani melakukan apapun demi pujaan hati.

Saking besar gejolak asmara dalam jiwanya, ia sampai rela meski hanya mampu menciumui dan memeluk tembok rumah sang kasih. Yang ada dalam pikirannya hanya Laila, Laila, dan Laila.

Seorang pujangga yang terilhami dari kisah asmara Qais dan Laila pun menggubah bait syair untuk mengungkapkan isi hatinya pada sang kasih:

سلام على دار الحبيب و حيه
و من حف بالمحبوب أو جاور الدار

"Salam teruntuk gubuk sang kasih, beserta kampung halamannya, juga handai taulan, dan para tetangganya."

إذا قبل الجدران قيس و ضمها
فإني قبلت الطريق الذي سارا

"Jika gelora asmara membuat Qais sampai menciumi dan memeluk tembok rumah pujaan hati (Laila), maka aku mencumbui debu jalan tempat kekasihku berlalu."

Munajat Ka'bah

Qais tidak bisa menerima kenyataan ini. Cinta yang terlalu besar itu telah merasuki dirinya dan membuatnya gila. Hingga sekali waktu ayahnya membawa dia ke Ka'bah untuk berdoa agar putranya sembuh dari pengaruh asmara yang membuatnya semakin tidak waras.

Sesampainya di Ka'bah, sang ayah menyuruhnya menggenggam kiswah dan memanjatkan doa begini:

اللهم أرحني من ليلى و حبها

"Ya Allah, sembuhkanlah aku dari mabuk cinta pada Laila"

Namun Qais memanjatkan doa yang berbeda:

اللهم منّ علي بليلى و قربها

"Ya Allah, dekatkanlah Laila padaku"

Ayahnya jengkel dan menjitaknya. "Hus! Doa yang benar," tegasnya kesal.

Qais kemudian menggubah bait-bait syair:

وناديت يا رحمن أول سؤلتي
لنفسي ليلى ثم أنت حسيبها

"Duhai Tuhan yang Maha Pengasih. Laila kusebut pertama dalam doa, lalu nama-Mu, duhai Tuhan yang selalu menjaganya."

و إن أعط ليلى في حياتي لم يتب
إلى الله عبد توبة لا أتوبها

"Jika Kau takdirkan Laila untukku, aku akan bertobat pada-Mu, dengan tobat terindah yang belum pernah Kau jumpai."

Mendengar bait-bait syair putranya, sang ayah terisak haru.

Sejurus kemudian, entah dari mana tiba-tiba Qais mendengar suara tanpa rupa, "Ya Laila (wahai Laila)." Seketika ia jatuh tak sadarkan diri. Orang-orang pun datang mengerubungi, sementara sang ayah semakin sedih melihat putranya yang malang.

Si Majnun

Tidak hanya Qais, Laila pun ikut menderita semenjak dipisahkan dengan pria pujaannya, apalagi sejak dijodohkan paksa dengan laki-laki lain yang tak pernah ia cintai.

Dalam bait-bait syair, Qais mencoba memuntahkan kegalauannya:

لو كان لي قلبان لعشت بواحد
و خلفت قلبا في هواك معذب

"Andai aku punya dua hati, aku tetap bisa hidup dengan salah satunya. Satunya lagi kurelakan untuk kau lukai."

و لكن لي قلبا يميل إلى الهوى
فلا العيش يصفو لي و لا الموت يقرب

"Namun apa daya, aku hanya memiliki satu hati yang dimabuk cinta. Hidup menderita, mati pun tak mau."

Qais yang dulu seorang tampan dan gagah, kini tampak kurus kering. Tubuhnya kumal dan bau, matanya sembab tidak pernah tidur memikirkan Laila. Keluarganya sendiri bahkan sudah menyebutnya laki-laki gila (majnun). Oleh sebab itu, ia juga masyhur dikenal "Majnun Laila" (orang yang tergila-gila pada Laila).

Entah upaya apa lagi yang harus ditempuh. Segala cara telah dicoba, tabib-tabib dari penjuru negeri pun sudah didatangkan untuk mengobatinya. Namun apa daya, gelora asmara terlalu kuat dan membuat Qais kian hari semakin kehilangan kewarasannya.

Tak sanggup melihat Qais merana, keluarganya pun melepas dia ke alam bebas, laksana anak burung kelaparan yang terpisah dari induknya.

Di Pusara Laila

Di sisi lain, Laila juga menderita sakit parah karena merindukan Qais. Hingga akhirnya putri Sa'ad itu mati dalam derita asmara yang menyiksa dirinya.

Qais yang mendengar kabar duka itu hancur, jiwanya jatuh sejatuh jatuhnya. Kian lama menahan rindu berjumpa Laila, kini harus melepasnya untuk selamanya.

Melihat pusara Laila, Qais tersenyum. Akhirnya ia bisa lebih dekat pujaan hati, meski sudah berada di bawah batu nisan sana.

Dikabarkan, selama satu tahun Qais bersimpuh di makam Laila. Siang dan malam, panas dan hujan, terik dan dingin, ia tak mau menjauh dari pusaranya. Mendekap makam Laila tak ubahnya memeluk hangat tubuh kekasihnya. Baginya, selama rasa cinta itu masih bersemayam, maka Laila tidak pernah mati.

Hingga menjemput akhir hayat, Qais masih merindukan Laila. Para ulama menyebutnya sebagai salah satu syuhadā'ul hubb (orang yang mati syahid sebab memendam cinta).

Diketahui, Qais bin Mulawwah merupakan pujangga Arab legendaris yang hidup pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah, tepatnya saat fase transisi kepemimpinan antara Khalifah Marwan bin Hakam dan Abdul Malik bin Marwan.

Bogor, 6 Mei 2023

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Duh, Qais. Jangan lupa makan ya, sebab rindu itu menguras energi. Hihi

    BalasHapus