Tipu Daya Distraksi


Sekali waktu, dan sudah menjadi bagian target hidup, saya men-challenge diri untuk menyelesaikan baca buku setebal 300-an halaman dalam waktu satu bulan. Di tengah timbunan tugas kuliah. Lalu saya jadwalkan minimal ada 2 jam khusus dalam sehari untuk membaca. Tidak boleh diganggu oleh apapun dan siapapun, kecuali kiamat tinggal setengah hari lagi. 

Sial, saya lupa menonaktifkan Hp. Benda kecil seukuran genggam tangan itu ada di meja, bersebelahan dengan buku yang sedang saya lahap. Dengan sikap bodo amat, saya biarkan benda itu di tempatnya, tidak saya geser sama sekali. Padahal, tanpa sadar saya berada dalam ancaman. 

Mulailah saya membuka halaman pengantar. Ini hal yang tidak boleh terlewat, sebab sering ada informasi penting di bagian ini yang kerap dilewatkan pembaca. Baru di halaman pertama, saya menemukan satu nomenklatur asing yang tidak saya paham artinya. 

Tanpa babibu, saya pun buka Hp untuk mengecek arti dari istilah yang belum karib bagi saya itu. Berniat mencarinya di KBBI digital. Sial, ada notif di grup WhatsApp. Entah mengapa jari-jari seperti refleks untuk membuka pesan itu. Padahal isinya tidak terlalu penting (untuk tidak menyebut sama sekali). Saya pun membaca pesan teks agak panjang. Pada momen inilah saya mulai lupa tujuan awal: membuka KBBI. 

Benar saja, setelah buka WA, seolah refleks jari saya lincah bertualang ke instagram. Entah mengapa kok asyik melihat informasi yang berseliweran di feed, terutama jika melintas konten reels "konyol" yang viral dengan viewer jutaan, padahal isinya konten goyang pragoy "penghambat rezeki" (buat yang paham saja hahaha). 

Saya benar-benar sudah lupa tujuan awal ingin membuka KBBI. Selesai hanyut dalam pernik konten di feed, saya tergoda untuk stalking ke sejumlah IG story. Entah mengapa kalau sudah buka satu platform, seolah berada di kendali bawah sadar untuk berlama-lama, meski begitu selesai seringnya merasa tidak dapat apa-apa, kecuali kuota internet terkuras. 

Setengah jam berlalu, saya baru sadar kalau sama sekali belum buka KBBI. Jangankan ingat nomenklatur yang tadi saya cari, buku yang sedari awal menemani di meja saja hampir kelupaan. 

*** 

Saya kira kisah di atas bukan bukan hal asing yang dirasakan banyak orang. Distrasksi media sosial itu benar-benar nyata dan menjadi musuh pada zaman digital. 

Sebagai mahasiswa, membaca buku setiap hari adalah ibadah fardhu 'ain bagi saya. Maka satu hari tanpa buku bagi saya sudah merupakan dosa besar yang sangat memalukan. 

Selayaknya ibadah pada umumnya, membaca buku pun ada godaannya. Penggodanya bukan setan yang meniupi mata sehingga mengantuk, atau tuyul yang menggelayuti bulu mata sehingga terasa berat, tapi gadget yang sudah sangat karib dengan kehidupan kita. 

Bayangkan, untuk sekelas mahasiswa yang kegiatan pokoknya membaca saja masih terdistraksi media sosial, apalagi mereka yang tidak memiliki tuntutan sangat kuat untuk baca buku.

Selamat hari buku sedunia.

Posting Komentar

0 Komentar