Mendiang Laptop Second


Bagi anak kampung yang dibesarkan dengan hasil panen kebun pedesaan seperti saya, gagap teknologi adalah sebuah kewajaran yang benar-benar dimaklumi. Apalagi ditambah menyicipi bangku sekolah di pesantren selama bertahun-tahun, kegaptekan saya semakin paripurna.


Sudah jamak diketahui, lingkungan pesantren yang ketat, terutama penganut madzhab tradisionalis, mengharamkan para santri membawa alat elektronik dalam bentuk apapun.

Kendati anda sekelas anak Pak Nadiem Makarim pun, begitu masuk pesantren harus tunduk sebagai santri dengan segala aturannya. Tidak peduli anda putra seorang Kemendikbudristek.

Zaman saya, jangankan berani membawa smartphone selama mondok, menyelundupkan walkman (alat pemutar musik jadul yang sudah musnah ditelan peradaban) saja tidak berani.

Peraturan ketat ini sebagai bentuk preventif. Membiarkan santri membawa hp akan banyak mengundang mudharat, apalagi inovasi-inovasi game online hari ini yang terus "meracuni" jiwa-jiwa muda. Pulang pesantren bukan menguasai ilmu agama justru jadi top player.

Dunia Baru

Lulus pesantren bagi saya adalah fase peralihan dimensi. Dari yang tadinya susah mengakses alat-alat elektronik beralih ke dunia yang sebaliknya.

Beruntung selama mesantren saya pernah diamanahi jadi sekretaris dengan fasilitas komputer, jadi kadang "nyolong-nyolong" waktu buat mengakses fitur-fitur di alat canggih ini.

Dari situlah paling tidak saya bisa lebih melek teknologi dibanding teman-teman santri yang selama mondok sering kabur ke warung plastation (PS) atau warnet untuk sekadar facebookan.

Berkat pengalaman inilah, lulus pesantren membuat saya tidak terlalu gaptek. Paling tidak cukup mudah bagi saya membedakan tombol shut down dan restart. Itulah yang akhirnya memotivasi saya untuk segera memiliki laptop sendiri, disamping karena kebetulan ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana. Di sinilah kisahnya dimulai.

Bermodal nekat dan sedikit tabungan selama mesantren, saya merantau ke Ibu Kota untuk kuliah. Begitu tiba di tempat tujuan, satu hal yang saya cari adalah laptop second. Iya, second. Saya sadar diri dengan kapasitas isi dompet saat itu.

Setelah berlarut-larut scroll di grup facebook jual beli laptop bekas wilayah Jakarta dan berselancar ke situs jual beli produk second, juga dikecewakan COD karena laptopnya minus parah, akhirnya saya berjodoh dengan netbook merek HP Pavilion Dm 1.

Dari netbook bekas dengan kapasitas RAM 4GB inilah saya berlatih menjadi pribadi yang produktif. Apa saja yang bisa saya perbuat dari barang imut ini, saya lakukan. Karena saya pernah belajar desain grafis otodidak waktu di pesantren, saya pun install Adobe Photoshop.

Hingga hari ini, sudah ada ratusan produk desain yang saya hasilkan. Dari mulai desain banner, pamflet, konten medsos, undangan pernikahan, gambar pin dan gantungan kunci, cover buku, dan tetek bengek lainnya.

Karena saya juga suka nulis, ada ratusan tulisan pula yang saya produksi, meski kebanyakan bertema keislaman. Belakangan, saya akan menerbitkan beberapa buku dari hasil usaha dzohir batin bersama "benda bekas" ini.

Tentu, di balik produktivitas itu banyak perjuangan dan pengalaman. Dari mulai sering begadang memandangi layar laptop, berburu referensi bacaan, berjam-jam memahami bahan tulisan, berjejaring dengan banyak pihak (terutama media online), berkolaborasi dengan sejumlah komunitas, dan banyak lagi.

Per Minggu, 1 Januari 2023 kemarin laptop (tepatnya netbook) saya tutup usia setelah lima tahun mengudara ke banyak karya, pengalaman, dan tantangan. Wajar memang, di usiamu yang sudah sepuh dengan beberapa tambalan lakban di sekujur tubuh, sudah saatnya kamu beristirahat ke alam yang tepat.

Rest in peace, brother.

Kepergianmu di tanggal istimewa ini semoga menjadi pertanda baik, kawan. Kini, jiwamu sudah bereinkarnasi ke dalam laptop HP berwarna putih dengan tampilan yang lebih glowing.

Posting Komentar

0 Komentar