Momen pergantian tahun adalah saat jarum jam tepat berada dalam posisi pukul 00.00 lebih setengah detik. Artinya, setengah detik sebelum 00.00 kita masih berada dalam dimensi satu tahun ke belakang, dan setengah detik setelahnya sudah masuk satu tahun berikutnya.
Betapa singkat, bukan? Kita hanya butuh satu detik untuk melewati dua tahun sekaligus.
Di bawah detik, masih ada satuan waktu yang lebih kecil lagi, yaitu milidetik, di bawahnya lagi ada mikrodetik, kemudian nanodetik, picodetik, femtodetik, attodetik, zeptodetik, dan seterusnya, dan seterusnya.
Satu detik sama dengan 1.000.000.000.000.000.000.000 zeptodetik, atau zeptodetik setara 0,000000000000000000001 detik.
Gila! Singkat sekali. Hanya sepersekian zeptodetik pergantian tahun itu berlangsung.
***
Saya tidak tahu, andaikan seluruh jam di dunia mati tepat saat pergantian tahun, apakah tahun baru akan diundur? Kalau iya, andai jamnya mati satu minggu saja, maka satu minggu ke depan kita masih di tahun 2022.
Andai lagi, sistem perhitungan waktu (jam) di seluruh muka bumi saat itu tiba-tiba tidak berfungsi dan mustahil diperbaiki lagi, mungkin orang akan melupakan momen 365 hari sekali itu. Para ilmuan dan matematikawan akan kebingungan mencari model baru perhitungan waktu.
Pemerintah akan menggelontorkan anggaran besar-besaran untuk membiayai riset raksasa guna menemukan model baru itu. Model yang bisa diterima seluruh negara, tahan perubahan iklim, dan disetujui seluruh lapisan manusia yang beragam, sebagaimana "sistem jam" yang sudah "musnah" sebelumnya.
***
Di dalam waktu yang super singkat itu, sepersekian detik itu, ada 8 miliar penduduk bumi (versi Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang berdoa untuk kebaikan sesuai versi agamanya masing-masing.
Artinya, jika ada 4.000 agama di dunia ini (versi World Population Review), maka ada empat ribu model doa pula yang dipanjatkan pada "malam keramat" ini.
Hebat sekali, bukan? Seluruh umat manusia yang beragam daerah, bahasa, suku, ras, bahkan agama, dalam waktu yang seragam memanjatkan doa, tanpa menyalahkan satu sama lain.
"Woy! Kau berdoa pada Tuhan yang salah!" hardik penganut agama A kepada pemeluk keyakinan B, misalkan. Tapi selama dua-ribu-dua-puluh-tiga kali pergantian tahun, (mungkin saja) belum pernah ada kasus seperti itu.
Dalam sepersekian detik itu pula, tiap-tiap orang berdoa dengan macam ragam. Dari mulai mohon dipertemukan jodoh di tahun berikutnya, kelancaran rezeki, punya momongan, dapat kerjaan gajih tinggi, bisa melanjutkan sekolah, bisa lulus kuliah tepat waktu, dan banyak lagi.
Kalau saya tulis semua permohonan doa di sini, rasanya sampai awal tahun 2024 pun belum selesai.
***
Dalam sepersekian detik itu pula, ada banyak perubahan tatanan di berbagai sektor di seluruh dunia.
Update Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sekolah-sekolah berganti semester dari ganjil ke genap, banyak organisasi merancang program kerja baru, perusahaan-perusahaan mengupdate proyeksi satu tahun ke depan, bahkan orang per orang mengupdate target pencapaian satu tahun ke depan, dan masih banyak lagi.
Betapa banyak perubahan di pergantian tahun ini, dari yang individu per individu, kelompok, nasional, hingga sekala global. Sepersekian detik yang mengubah banyak tatanan dunia.
Ah, sepersekian detik tampaknya rumit sekali. Mengapa saya harus memikirkan hal seruyam itu di malam pergantian tahun, saat orang-orang melaluinya dengan sangat sederhana: menyalakan petasan yang tak pernah salah dan menikmati jagung bakar hasil maling di kebun warga.

0 Komentar