Kapitalisasi Tahlilan



Saya masih ingat betul. Saat masih sekolah dasar (SD) dulu, bapak selalu melarang saya ikut berangkat ke acara tahlilan warga yang baru saja ditinggal pergi salah satu anggota keluarganya. 

Saya hanya berpikir, mungkin usia saya waktu itu masih terlalu kecil untuk ikut tahlilan. Tapi yang jelas larangan ini bukan karena saya belum sunat. Seingat saya, kalau tidak salah, masuk SD sudah dikhitan. 

Meski saya tahu. Saat itu, dan sampai hari ini, wajar saja anak-anak seusia SD ikut tahlil. Hal ini sudah lumrah di kampung tempat saya lahir yang memang 100% warganya "berdarah hijau". Sudah NU sejak dalam kandungan. 

Dalam tradisi masyarakat desa saya, biasanya tujuh hari pertama orang yang meninggal akan ditahlili tiga kali dalam sehari, setelah subuh, suisai ashar, dan sehabis isya. Habis subuh langsung diadakan di makam, sementara habis ashar dan isya di rumah duka. 

Untuk anak-anak kecil biasanya ikut-ikutan (meski tidak diajak) yang setelah subuh itu. Jadi kalau ada orang meninggal, bocah-bocah ini ikut shalat subuh berjamaah, lalu mbuntut rombongan yang menenteng lampu petromak minyak ke arah pemakaman umum. 

Bagi anak-anak kecil desa saya (meski tidak semua), kabar orang meninggal tidak sebatas duka, tetapi juga jadi peluang cuan. Orang meninggal kok dikapitalisasi hahaha.. Namanya juga anak kecil. 

Pulang-pulang biasanya mereka dapat uang 1000-an (itu dulu, entah sekarang). Kadang uangnya diikat ke baju pakai gelang karet bekas nasi bungkus biar aman. Cuan segitu dulu "sangat lumayan" buat tambahan saku sekolah. 

Jadi begitu berangkat sekolah mereka lebih semangat dan pede. Bakal jajan lebih banyak di kantin. 

*** 

Hingga duduk di bangku MTs (setara SMP), ternyata bapak belum juga membolehkan saya ikut tahlilan. 

Sekarang saya jadi paham. Dulu, saat masih kecil, kalau ada tahlilan orang meninggal, bapak melarang keras saya berangkat, bukan karena usia saya masih terlalu kecil, melainkan agar tidak "cari untung" di atas duka orang lain.

Apalagi kalau anggota keluarga yang meninggal itu karena sakit dan butuh perawatan dengan biaya sangat mahal. Setelah meninggal harus muter otak buat anggaran tahlilan 7 hari, 14 hari, 100 hari, hingga 1000 hari paca wafat. 

***

Baru setelah mesantren, saya dibolehkan ikut tahlilan. Mungkin pikir bapak saya sudah lebih dewasa untuk memahami hakikat amaliyah NU yang satu ini. Ditambah saya sudah hafal rangkaian bacaan tahlil sendiri. 

Jadi, sungguh kebangeten kalau ada orang berangkat tahlilan di keluarga duka, lalu pas kebetulan tuan rumah lupa nyediain rokok kemudian nyletuk, "Tahlilan kok nggak ada asapnya? NU smoking, dong!" 

Note: tulisan ini hanya buat lucu-lucuan. Kalo anda tidak merasa lucu, berarti sedang banyak beban hidup.

Posting Komentar

0 Komentar