Debu Peradaban Kenari 



Di tengah tumpukkan ribuan buku second, saya sibuk memilah koleksi karya-karya lintas zaman. Dari terbitan tahun 80-an sampai yang 2000-an, semua terjejer di sini. Mata saya sibuk mencermati judul perjudul, menyisir baris perbaris rak, menyambangi kios perkios pedagang. 

Kalau semua kios buka, totalnya ada 65 penjual. Berhubung sedang momen Nataru (Natal dan Tahun Baru), tidak semua pedagang buka toko. 

Semuanya saya selidiki. Dari pukul 10.00 WIB hingga 15.30 WIB, saya hanya mondar mandir dari satu penjual ke penjual lainnya. Bagi saya ini merupakan kepuasan tersendiri, meski akhirnya hanya membeli beberapa buku yang benar-benar menarik dan betul-betul saya butuh. 

Kaki mulai terasa pegal dan mata mulai sepet, tapi untuk berburu buku di tempat nyentrik ini membuat saya lupa daratan, asal tidak lupa isi dompet saja. 

"Pak, koleksi buku sejarah di sebelah mana, ya?" tanya saya pada satu penjual. 

"Sebelah sini, Mas. Buka saja bungkusnya kalo mau liat isinya. Nggak apa-apa," timpalnya sambil merapikan buku yang baru saja dikeluarkan dari kardus.

Saya memang sedang mencari buku-buku sejarah. Biasanya, dari sekian tumpukan buku bekas ini, ada satu dua buku yang menarik dan, tentu saja, dengan harga di bawah 50% dari harga buku baru di pasaran. Kalau bisa nawar, kita bisa dapat harga lebih murah lagi. 

Inilah kelebihan membeli buku di toko buku second. Kita berpeluang mendapat buku bagus dengan harga sangat ramah budget. 

Contoh saja, salah satu buku yang saya peroleh dari hasil mengorek debu peradaban ini berjudul "Poso: Sejarah Komprehensif Kekerasan antar Agama Terpanjang di Indonesia Pasca Reformasi". 

Kalau lihat di pasaran, buku karya Dave McRae (peneliti senior di Asia Institute, Faculty of Arts, University of Melbourne) ini dijual kisaran 100 ribuan. Saya berhasil menawar dengan harga 30 ribu. Awalnya 25 ribu, tapi memang itu tawaran yang "kurang ajar", hahaha. 

Namun di sisi lain, berburu di toko buku bekas juga memiliki kekurangan. Koleksi buku yang campur aduk, buku-buku tidak ditata sesuai genre, dan, sudah barang tentu, karena barang bekas, pasti sedikit berdebu. 

Saya mengibaratkan, berburu buku di koleksi bacaan bekas laksana menggali bongkahan emas di bawah timbunan debu peradaban. Kalau nemu buku bagus, itulah emasnya. Sementara buku-buku bekas yang sudah tidak menarik hasrat, itulah debu-debu peradabannya. 

Bagi saya, memilah buku di tumpukan buku second memang menjadi tantangan sekaligus seni literasi yang menarik. 

Ini adalah kali pertama saya berkunjung ke Wisata Buku Kenari yang berada di lantai tiga Pasar Kenari, Jakarta Pusat yang diresmikan pada April 2019 lalu oleh Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan. 

Sebenarnya niat awal saya berkunjung ke Jakbook Festival di Pasar Kenari lantai di lokasi serupa yang dihelat sejak 25 November sampai 31 Desember 2022. Event tahunan ini juga diresmikan oleh Pemprof DKI Jakarta, bersamaan dengan disahkannya Wisata Buku Kenari. 

Hajatan literasi ini diadakan demi menyediakan akses buku-buku murah untuk anak bangsa. 

Tempat ini memang didesain sebagai wisata buku yang mengasyikkan. Selain puluhan toko buku, lokasi ini juga menyediakan ruang baca yang nyaman, pasar kopi, food court, co-working space, ruang laktasi, dan minimarket.

Asyiknya lagi, begitu keluar turun dari gedung pasar, jalan 100-an meter, tepat pinggir jalan depan Kampus UI Salemba, ada banyak pedagang kaki lima yang menjual aneka jajanan murah.

Mulai dari bakso, cilok, nasgor, gorengan, sate, soto, mie ayam, rujak buah, dan banyak lagi, bisa jadi pemanja lidah dengan harga murah meriah dibanding makanan cafe-cafe di Ibu Kota. Perut keroncongan setelah berjam-jam berburu buku bisa terbayar lunas di sini.

Posting Komentar

1 Komentar