Suasana di Pesantren Asshiddiqiyah pukul 03.00 dini hari tadi sudah seperti bulan puasa Ramadhan saja.
Di setiap asrama, ramai santri saling membangunkan, disusul gemercik suara keran tempat wudhu di seberang bilik. Satu persatu lampu mulai menyala, mengganggu mata yang masih perlahan berdamai dengan temarau silau.
Tidak lama kemudian tercium bau masakan mie rebus dan mie goreng.
"Ah, aromanya, ingat saat-saat saya mesantren dulu."
Masjid juga mulai ramai. Suara dzikir khas yang selalu dirapal setiap pukul 03.00 pagi, kali ini lebih terdengar seperti suara pengingat sahur. Meski yang dibaca sama seperti hari-hari biasa.
Walau mulanya malas bangun, perlahan saya memaksa diri untuk sahur ala kadarnya dan melangkah ke masjid.
"Sungguh, tak tega rasanya untuk tidak beranjak ke masjid, setelah mendengar untaian syair doa yang kaluar dari suara merdu santri melalui pengeras suara."
Sementara di rumah-rumah ustadz (guru pesantren), terdengar suara kongsreng dapur. Disusul bau tongseng dengan bawang gorengnya yang membuat saya rindu masakan ibu di rumah.
Memang, sejak ikhbar ketetapan tanggal 1 Rajab oleh Lembaga Falakiyah NU kemarin, pesantren sudah memberikan edaran resmi untuk seluruh santri dan warga Asshiddiqiyah agar melaksanakan puasa Rajab.
Tidak sebatas imbauan, dapur pesantren juga sudah menyiapkan menu sahur. Meski ada saja santri yang malas melangkahkan kaki dan lebih memilih masak mie pakai alat masak sebisanya.
Pagi harinya, semua warung makanan di lingkungan pesantren benar-benar tutup. Mulai dari gorengan sampai es teh betul-betul nihil dari peredaran.
"Sekali lagi, betul-betul seperti bulan puasa Ramadhan saja."
Tentu, ada saja "santri nakal" yang diam-diam makan mie di siang bolong, ngumpet di kamar atau tempat persembunyian mana pun yang sekiranya aman dari intaian. Seperti anda saja, bukan?
Selesai catatan ini ditulis, saya teringat kembali syair syahdu dini hari tadi, yang membuat mata berkaca-kaca dan berlinang air mata.
يَا رَبَّنَا اعْتَرَفْنَا بِاَنَّنَا اقْتَرَفْنَا
وَاَنَّنَا اَسْرَفْنَا عَلَى لَظَى اَشْرَفْنَا
فَتُبْ عَلَيْنَا تَوْبَةْ تَغْسِلْ لِكُلِّ حَوْ بَةْ
وَاسْتُرْ لَنَا الْعَوْرَاتِ وَآمِنِ الرَّوْعَاتِ
واغْفِرْ لِوَالِدِيْنَا رَبِّ وَمَوْلُوْدِ يْنَا
وَالْآلِ وَالْاِخْوَانِ وَسَائِرِ الْخِلَّان
Jakarta, Kamis (3/2/2022)

0 Komentar