Coba bayangkan, puluhan tahun anda hidup sebagai seorang muslim yang taat, tetapi pada saat tak terduga anda "terdoktrin" paham skuler yang meruntuhkan basis keimanan.
Anda yang dulu begitu teguh dalam beragama, kini meragukan dan mempertanyakan keyakinan sendiri. Buat apa saya shalat? Untuk apa saya puasa? Mengapa saya berdoa kepada Tuhan yang tak nampak? Semua doktrin agama yang selama ini dibangun tiba-tiba runtuh. Anda bingung.
"Jadi selama ini saya beragama untuk apa?"
Begitulah kurang lebih gambaran yang pernah saya alami selama berbulan-bulan akibat "salah bacaan". Sebuah buku berjudul "Seven Theories of Religion" karya Daniel L. Pals membuat "pemikir amatir" seperti saya dibuat bingung bukan kepalang tentang hakikat kebenaran.
Konon, buku setebal 491 halaman ini merupakan bacaan pokok (the source book) dalam studi agama yang menjadi bacaan penting bagi akademisi sosiologi agama, antropologi agama, psikologi agama, ataupun filsafat agama.
Dalam bacaan ini saya menemukan teori-teori dari sejumlah pemikir skuler dan atheis. Banyak kritik atas agama yang saya temukan dalam buku itu dan akhirnya, sebagai awam, saya terjebak dalam labirin skeptis yang membingungkan.
Dari mulai kritik terhadap keyakinan gaib (mistis) sampai keberadaan Tuhan, semua bersarang di kepala saya dan menciptakan keraguan iman yang hebat.
Setiap hendak shalat, saya selalu bertanya banyak hal pada diri sendiri. Kenapa saya harus meluangkan lima waktu sehari, melakukan gerakan yang "irasional", menyembah wujud yang tidak pernah aku lihat, dan banyak pertanyaan skeptis lainnya. Rasio menguasai pikiran, sementara intuisi yang menjadi basis keimanan tak berdaya.
Saya mengalami kebingungan ini cukup lama. Tiga bulan lebih. Selama itu pula saya gelisah dan bingung harus ke mana dan mesti berbuat apa. Saya hanya memendam, sambil terus mencari titik terang.
Ramadhan Tanpa Makna
Saya terus merasakan gejolak skeptisme ini. Kebetulan fase ini melewati satu bulan Ramadhan. Saat umat muslim menjadikan bulan mulia ini untuk memupuk kualitas spiritual, saya justru merasa "biasa-biasa saja". Satu bulan puasa tapi tidak merasakan nuansa kedamaian seperti sebelum-sebelumnya.
Setiap bangun tidur, saya selalu gelisah. Banyak pertanyaan bersarang di kepala. Sampai kapan semua ini akan berakhir? Kepada siapa saya harus berkonsultasi?
Satu bulan puasa itu saya tetap melaksanakan kewajiban dan amalan-amalan sunnah Ramadhan seperti biasa, tentu dengan sejumlah pertanyaan kritis atas semua yang saya lakukan: berpuasa satu bulan penuh, tadarus Al-Qur'an, shalat tarawih (bahkan jadi imam di separuh bulan terakhir), merayakan lebaran, hingga menyampaikan khutbah Idul Fitri di masjid utama desa; di depan ribuan muslim yang sedang merayakan hari kemenangan.
Jawaban Tuhan
Saya yakin ini skeptisme yang salah. Keresahan ini muncul dari sifat kritis akal yang berlebihan. Oleh sebab itu, saya harus mencari argumen yang lebih kritis untuk mengembalikan keimanan. Saya terus meyakinkan dan menguatkan diri.
Pikir saya waktu itu, karena kebingungan ini timbul dari perenungan empiris, maka saya harus punya gagasan logis lain yang lebih kuat untuk menormalisasi.
Saya merenung, mencoba mencari argumen paling logis, tapi semakin saya berpikir keras semakin mengalami kebuntuan.
Sempat terbesit untuk sowan ke Ulil Abshar Abdalla, seorang intelektual Nahdlatul Ulama (NU) yang pernah menjadi tokoh utama Islam Liberal. Pikir saya, dia pasti punya banyak pengalaman atas skeptisme yang saya alami dan tentu punya penawarnya. Namun niat itu ditangguhkan.
Ada semacam ketakutan yang sulit didefinisikan. Saya khawatir kehilangan jati diri spiritual yang selama ini saya miliki.
Hingga sekali waktu, di malam Jumat, tepat saat mengikuti pembacaan maulid Nabi di sebuah pesantren, saya mengambil posisi di belakang ratusan santri yang tengah melantunkan pujian untuk Baginda Nabi.
Tiba-tiba, entah datang dari mana, ada semacam "jawaban Tuhan". Saya menyimpulkan pengalaman spiritual di malam hening ini dalam ungkapan:
كلما اشتد خوفُ العبدِ فراقَ حبيبِه اشتدتْ حمايةُ محبتِه اياه
Artinya, "Semakin besar rasa takut seorang hamba berpisah Sang Kekasih, semakin besar pula upaya yang ia lakukan untuk mempertahankan cinta-Nya."
Ungkapan itu seolah menjadi jawaban atas kegelisahan saya. Selama ini saya merasakan ketakutan dahsyat bahwa keimanan saya tidak akan kembali. Ternyata, semua ini adalah ujian yang mengharuskan saya sebisa mungkin mempertahankan dan meningkatkan keimanan.
Semua itu mustahil dilakukan hanya dengan skeptisme nalar dan logika. Sebab, akal manusia punya batas. Kritis boleh, tapi jangan sampai mengabaikan keimanan dalam hati.
Menggunakan akal untuk memahami objek yang tak terbatas sama saja memaksakan sesuatu yang mustahil tercapai.[]
Tulisan orang biasa.
Jakarta, 24 September 2022
.jpeg)
0 Komentar