Desa Prapag Kidul, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, adalah saksi bisu kelahiranku sebagai bayi biasa. Dan sampai sekarang masih biasa-biasa saja, di usia yang sedang memperjuangkan banyak hal: beasiswa kuliah S2, tetap bisa kirim uang untuk adik yang sedang di pendidikan, istikamah menulis setiap hari, menghabiskan waktu dengan tupukan buku, dan banyak hal lainnya.
Seperti jamaknya anak desa, ulang tahun bagiku tak lebih memori masa lalu yang tak begitu istimewa. Tak ada selebrasi, surprise, atau kue bertulis happy birth day. Bahkan, beberapa kali saya lupa hari ulang tahun sendiri. Setelah ingat di hari atau minggu berikutnya, saya cuma bilang, "Oh, kemarin saya ulang tahun, toh."
***
Belakangan, aku mencoba mengubah kesan peringatan ulang tahun yang selama ini tampak "terbelakang", sudah tidak sesuai dengan zamannya. Ternyata hasilnya wagu sekali.
Sekali waktu di hari ulang tahun bapak yang ke enam puluh sekian (berkat peringatan ultah ini saya jadi sadar bahwa usia bapakku sudah begitu sepuh), saya nencoba kirim kue ulang tahun rumah.
Karena rumah sepi, saya di Jakarta, kakak saya juga sama, adik saya di pesantren, akhirnya bapak merayakannya bersama ibu dan satu adik saya di rumah.
Daripada mubazir, kue tidak habis, akhirnya diundanglah anak-anak kecil yang kebetulan sedang ribut main depan rumah. Jadilah bapak merayakan ulang tahun bareng bocil-bocil itu. Bapak tersenyum, dan bocah-bocah kegirangan dapat potongan kue satu persatu.
"Bror, baru kali ini bapak dapat bolu sebagus ini," kata bapak melalui panggilan whatsapp.
Harapan
Di usia yang sudah seperempat abad ini, tak banyak yang aku harapkan. Aku hanya ingin menerima keadaan, sambil terus mengejar banyak ketertinggalan.
Barangkali sudah menjadi watak manusia yang tak pernah puas dengan pemberian Tuhan. Begitupun dengan posisiku sekarang. Karier, pekerjaan, skill, relasi, dan banyak lagi. Belajar menerima adalah jalan satu-satunya.
Namun bukan berarti dengan menerima kita menjadi pribadi yang fatalis dan pengecut. Menerima bukan sikap membatasi pemberian Tuhan.
Kita telah dianugerahi banyak modal. Waktu, nafas, akal, dua kaki, sepasang tangan, dan serbaneka fasilitas lainnya.
Jika skill dan kemampuan kita di bidang tertentu masih kalah dengan orang-orang seusia kita, boleh jadi selama ini kita menyia-nyiakan semua fasilitas Tuhan itu, atau bahkan salah menggunakannya.
Sekarang, dua puluh enam tahun hidup di bumi. Sudah bisa apa saja aku hari ini?
Jakarta, 18/9/2022

1 Komentar
Keren
BalasHapus