Yang Hilang saat Lebaran 


Bertahun-tahun tidak berdomisili di kampung halaman membuat saya, dan pasti juga Anda, banyak melihat perubahan di desa. Termasuk tradisi-tradisi yang khas dijumpai saat hari raya Idul Fitri tiba. 

Mulai dari berkurangnya bising suara petasan hingga hilangnya riuh ramai anak-anak "takbiran" di mushala.

Berlalunya waktu telah banyak mengubah kultur sosial, relijius, akademik, dan nilai-nilai sosial lainnya di desa. 

Selama ini, terutama bagi orang desa yang lama merantau, mungkin nggak "ngeh" atau paling tidak kurang sadar dengan perubahan ini karena memang berlangsung natural saja. 

*** 

Dulu, saya masih menjumpai riuh bising suara petasan saat malam Idul Fitri. Saya masih ingat harus hati-hati kalau malam lebaran keluar rumah untuk sekadar bersilaturahim. Sebab, ada beberapa titik, terutama di jalan umum, yang menjadi tempat menyalakan petasan anak-anak. 

"Lengah sedikit saja, Anda bisa terkena ledakan ranjau petasan." 

Kadang tahu-tahu ada petasan meledak di samping saja, sementara posisi sedang santai menikmati syahdu malam lebaran. Sontak kaget bukan main, ini yang sedikit membuat "trauma" dan harus waspada. 

Rasanya seperti di Afganistan saja yang sewaktu-waktu bisa menginjak ranjau dan meledak. Bedanya di kampung cuma "bom kecil" yang dimainkan anak kecil pula. Tapi tetap saja kagetnya tujuh belas setan. 

Dulu, saya juga masih menemukan anak-anak ramai "takbiran" di mushala, lengkap dengan musik pengiring yang dibunyikan dari alat-alat seadanya: ember, piring kaleng, botol, sendok, ember bodol, dan barang-barang penghasil berisik lainnya. 

Bahkan dua-tiga hari menjelang lebaran saya dan beberapa kawan kecil lainnya sudah mempersiapkan alat-alat itu. Begitu malam takbiran kami seperti konser saja di mushala, kadang ada teman "nggak ada akhlak" yang memasukan petasan ke dalam ember saat sedang dimainkan. Sampai sekarang saya masih ingat nama dan muka orangnya. 

*** 

Idul Fitri tahun ini saya kehilangan semua itu. Lalu lalang orang silaturahim mungkin masih seramai dulu, tapi suara petasan seperti mulai hilang dari peredaran. 

Titik-titik yang dulu sempat saya dan keluarga waspadai saat Idul Fitri, kini tampak sepi. Tak ada lagi suara petasan yang menyulap malam lebaran menjadi seperti suasana perang negara konflik di Timur Tengah. 

Di satu sisi saya bersyukur bisa bersilaturahim dengan nyaman, tapi di sisi lain saya seperti kehilangan masa kecil. 

Seharusnya mereka yang sekarang anak-anak kecil menjaga tradisi ini. Bagaimanapun lebaran tanpa petasan bagaikan ketupat tanpa opor ayam. Mungkin tidak menurut anak-anak hari ini. 

"Di mana tanggung jawab kalian, hey anak-anak kecil?" 

*** 

Demikian pula beberapa mushala desa tampak sepi di lebaran tahun ini. 

Dari jendala mushala, saya memandangi terasnya tempat dulu saya bersama kawan kecil bertakbir ria. Kini, semua itu hilang. Suara takbir idul fitri akhirnya diganti audio yang diputar dengan sound besar. 

Pertanyaannya, apa yang membuat perubahan ini? Jawabannya sederhana, "Pergantian zaman". 

Sejak era milenial, perlahan orang-orang mulai bermigrasi ke alam digital. Selain membawa sejuta manfaat dan kemudahan, anda sudah tahu, juga mereduksi banyak hal. 

Fenomena berkurangnya konsumsi petasan dan menghilangnya anak-anak di mushala di malam lebaran adalah di antara dampaknya. 

Menyalakan petasan dan seru-seruan takbiran sudah tidak lagi relevan bagi generasi sekarang. Anak-anak hari ini memiliki pertimbangan lain. Mereka lebih memilih meminta uang ke orang tua untuk membeli kuota internet dan produk virtual lainnya (termasuk online gaming), dibanding untuk membeli petasan. 

Kebahagiaan yang didapat dengan membeli kuota internet dan produk virtual lainnya jauh lebih awet dan "kekinian" dibanding kesenangan yang diperoleh dengan berbelanja petasan. Petasan hanya akan lenyap semalam, tapi kuota internet bisa dipaket satu bulan bahkan lebih. 

Kesenangan seperti bermain game online atau berjam-jam melototi video Tikok bisa diperoleh dengan simpel dan tidak perlu capek-capek. Mereka nggak perlu menyiapkan ember dan perangkat lainnya. Mereka cukup duduk, pegang hp, dan koneksi internet yang lancar. 

Manusia hari ini lebih menyukai yang simpel, cepat, dan menghemat tenaga. Memperoleh kesenangan dengan dunia digital lebih seru dibanding harus teriak-teriak takbiran dengan alat-alat musik yang lebih menguras tenaga dan merepotkan. 

*** 

Sejak era milenial memang banyak membawa perubahan, di mana pun dan kapan pun. Tapi jangan sampai perubahan ini kita anggap sebagai kualat zaman, akan tetapi harus membuat kita lebih kreatif dan inovatif agar tidak mati tergilas takdir. 

Kalau orang tua bilang, "Ini tanda-tanda kiamat sudah dekat", maka kita yang muda-muda harus berpikir lebih modern dan rasional, "Ini tantangan agar manusia selalu inovatif dan mampu mengikuti zaman". 

*Abror, Brebes, 3/5/2022

Posting Komentar

0 Komentar