Tamu Razi


Hari ini saya didatangi tamu besar sekaligus sarjana muslim independen berkebangsaan Persia. Ia jauh-jauh ke Indonesia untuk melawat ke Jakarta, tempat domisili saya sekarang. Tepatnya di Jakarta Barat. Tepatnya lagi di Kelurahan Kedoya Utara, Kecamatan Kebon Jeruk. 

Hebatnya, dia datang sendirian, tanpa pangawalan, tanpa kendaraan pribadi, bahkan tanpa alat petunjuk jalan semisal google map; mengingat dia orang asing yang jangankan Kelurahan Kedoya, alamat Monas juga bakal nyasar. Dia hanya numpang motor bapak kurir antar barang.

Dialah Fakhruddin ar-Razi, seorang intelektual muslim pendukung dan skeptis paling awal yang muncul dengan konsep multiverse. Juga sang pelopor logika induktif. Yang lahir 26 Januari 1150 silam. Dia sudah ulang tahun yang ke-872 jika masih hidup sampai sekarang. 

Penolak model geosentrisme dan gagasan aristotelianisme ini datang dalam wujud karya masterpiecenya, Tafsir Mafâtîhul Ghaib, dengan bobot 14 kg dan ongkos kirim sebesar 70 ribu (Blora-Jakbar). 

Anda bisa membayangkan sendiri berapa nominal yang harus saya ketik di m-banking. Dan berapa kali saya harus berpikir, "Jadi beli nggak, ya?" Sebelum akhirnya klik tombol 'transfer'. 

Saya amati dari jilid pertama sampai jilid ketiga puluh dua, tiap liuk estetis khat Arab yang membentuk nama kitab; nama penulis; nama penerbit; dan harum kertasnya juga begitu khas. 

Font tulisannya sangat rapi, kertasnya juga lembut diraba, pun menawan dibuat pajangan. 

Ah, ganteng sekali. 

Coba saya sejajarkan dengan di tempat buku bersama deretan kitab dan buku lainnya. Gagah bukan main. Sampai kitab-kitab lain yang sudah berdebu tetiba bersih mengkilap menyambut tamu agung yang bakal menjadi keluarganya. 

Setelah membulatkan tekad dan memantapkan isi dompet (lebih tepatnya isi rekening), saya membeli tafsir yang konon 'sangat sulit' dipahami ini. Untungnya Buya Said Aqil membuka pengajian secara daring sehingga saya bisa nimbrug ngaji dan tabarukan. 

Sebenarnya bisa saja saya cukup pakai kitab versi PDF. Sudah tidak memakan ruang, gratis lagi. Tapi, seperti banyak orang tahu, tidak ada yang sempurna di dunia ini. 

Membaca kitab digital ibarat bercinta di dunia metaverse. Belum lagi harus scroll ke halaman sekian setiap ngaji dimulai. Kadang ngaji hampir selesai, tapi nomor halaman belum juga ketemu. Duh, rasanya merepotkan sekali. 

Membeli kitab fisik meski harga selangit adalah solusi terbaik. Tepatnya tidak ada pilihan lagi. 

Lagian juga lumayan kalau dipasang di ruang tamu. Selain membikin angker, juga membuat setiap orang yang melihatnya merinding melihat karya ulama yang wafat 812 tahun lalu itu bertengger angkuh di rak buku. 

Tabik, Abror

Jakarta, 26/2/2022

Posting Komentar

0 Komentar