Bagi sosok kiai yang berkiprah di masyarakat, memiliki kedalaman ilmu agama saja rasanya belum cukup, melainkan juga harus membekali diri dengan ilmu kanuragan (hikmah).
Mengapa perlu ilmu kanuragan? Ada banyak alasan. Di antaranya untuk membentengi diri jika ada orang yang tidak senang dengan dakwah sang kiai dan, bisa saja, menyerang dengan teluh atau guna-guna.
Selain itu, masyarakat juga tidak hanya membutuhkan pencerahan religius, tetapi sewaktu-waktu akan sowan ke kiai jika ada orang kesurupan, gangguan gaib, bahkan perkara medis sekali pun.
Di mata masyarakat, kiai adalah sosok panutan yang dianggap serba bisa.
***
Adalah KH Achmad Misbachul Munir (56), Pendiri dan Pengasuh Pesantren Hikmah Kamilah Brebes, Jawa Tengah. Ia merupakan salah satu, sejauh penelusuran penulis, kiai yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga ilmu kanuragan (hikmah). Hebatnya lagi, ia bisa menggunakan kanuragannya untuk pengobatan medis.
Kemarin siang (12/12/2021), saya sowan dan, tentu saja, sekaligus bertanya banyak hal tentang Kiai Misbah kepada salah satu santri seniornya, Kang IQbal D'zEnzino, yang kebetulan dulu satu angkatan ngaji bersama saya di Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Jawa Barat.
Sebagaimana umumnya kiai pesantren, Kiai Misbah mengajar beberapa kitab, selain dibantu oleh tenaga pengajar lainnya. Ada tujuh kitab yang diajarkan kiai: Sahih Bukhrari, Fathul Wahab, Bulughul Maram, Qawa'idul I'rab, Tafsir Jalalain, Faraidul Bahiyah, dan Sullam Munawaraq.
Di lingkungan pesantren, deretan kitab di atas biasa diperuntukkan bagi santri-santri senior.
Kiai Misbah juga sosok kiai yang telaten dan produktif. Setiap hendak mengajar para santri, terlebih dulu ia menuliskan materinya dan diprint. Lengkap dengan harakat dan arti perkata dalam bahasa Indonesia. Saking rutinnya, sampai sudah bisa dibukukan.
Termasuk yang sudah jadi buku utuh adalah terjemah Alfiyah Ibnu Malik, terjemah Imrithi, terjemah Jurmiyah, terjrmah Qaqawidul I'rab, dan terjemah Tafsir Jalalin (baru juz I).
Uniknya lagi, kiai juga rutin membikin konten ngaji di Channel YouTube, baik secara live atau bentuk rekaman. Isinya, selain materi ilmu agama, juga mengupas seputar ilmu hikmah. Terkadang membuat konten khusus untuk menjawab dengan detail dari pertanyaan viewer di kolom komentar.
Konten-konten itu ia buat di studio khusus yang sederhana tapi cukup lengkap: ada meja, background digital, penjernih audio, dan macam-macam lainnya. Semua dibantu santri-santrinya: mulai jadi host, membantu merekam, dan mengedit video serta mengunggahnya.
Pesantren Hikmah Kamilah sendiri baru berdiri pada Desember 2015 dan satu tahun kemudian mebuka pendaftaran. Santrinya kini sekitar 115-an. Konon, santri-santri Kiai Misbah bukan hanya dari manusia, tetapi juga dari bangsa jin.
***
Soal penguasaan ilmu hikmah, Kiai Misbah memang cukup andal. Semasa nyantri dulu, ia dikenal sebagai santri yang tekun melakukan tirakat. Salah satu tirakatnya adalah menziarahi makam Walisongo (tidak semuanya) dengan berjalan kaki.
Termasuk tirakatnya yang bikin kita kagum adalah berpuasa setiap hari. Kecuali di hari-hari yang secara agama haram hukumnya: hari tasyrik, dua hari raya id, dan hari syak.
Tirakatnya yang tidak kalah hebat adalah tidak pernah tidur saat malam hari. Ia mengambil waktu istirahat sekitar pukul 07.00 WIB.
Ilmu hikmah yang dimiliki Kiai Misbah tidak hanya untuk menangani hal-hal gaib, tetapi juga untuk mengobati pasien yang memiliki keluhan penyakit medis.
Saya menyaksikan sendiri. Di aula yang disediakan khusus untuk tempat sowan, banyak orang berdatangan untuk meminta kesembuhan. Biasanya mereka akan ditanya apa saja keluhannya, dan kiai pun mulai mendiagnosa layaknya dokter di tempat praktik.
Setelah puas menanyai pasien, kiai akan bertanya siapa namanya dan nama ibunya. Sejurus kemudian, kiai masuk ruangan khusus untuk "meracik" resep penawar dengan air yang sudah didoakan secara khusus. Selain diberi air doa, kiai juga memberi amalan untuk dibaca pasien sendiri selama masa penyembuhan.
Tentu, namanya juga ikhtiyar, banyak yang sembuh, ada juga yang belum hasil. Seorang pasien yang sembuh bercerita. Dulu ia punya penyakit jantung yang mengharuskan dioperasi. Sebelum dioperasi, ia berobat ke Kiai Misbah. Ajaib, operasi dibatalkan. Dokter yang bertugas pun heran: kok bisa?
Yang lebih unik lagi, salah satu media pengobatan yang digunakan kiai adalah seekor kelinci. Biasanya untuk penyakit dalam, medis atau non medis. Cara pengobatannya, penyakit si pasien akan ditransfer ke dalam tubuh hewan.
Begitu selesai ditransfer, kelinci disembelih dan dibedah organ-organ dalamnya. Kemudian, kiai akan mendiagnosa detail penyakit dan menjelaskan kepada pasien melalui organ-organ itu.
Jika pasien memiliki keluhan di paru-paru, kiai akan menjelaskannya lewat paru-paru kelinci. Begitu pun untuk usus, hati, dan sebagainya. Bagian sisi mana yang kena apa, apa faktornya, apa obatnya, dan seterusnya. Semua dipaparkan detail sesuai petunjuk medis, berikut istilah-istilah kedokteran yang njelimet itu.
Sepertinya sengaja kelinci yang dijadikan media karena organ-organ dalamnya mirip dengan manusia, sehingga lebih mudah untuk mendiagnosa. Selain kelinci, bisa juga seekor kambing.
Dalam pandangan Kiai Misbah, ilmu hikmah bukan hanya berkaitan dengan hal-hal ghaib, sebagaimana dipersepsikan kebanyakan orang selama ini. Tetapi, ilmu hikmah bisa dijelaskan sesuai rambu-rambu syariat dengan rujukan utamanya Al-Quran dan hadits.
Ilmu hikmah yang dimiliki oleh Kiai Misbah didapatnya dari satu guru ke guru lainnya. Terbukti, saat menngijazahi saya kitab Mamba' Ushulil Hikmah dan Syamsul Ma'arif (keduanya karya Al-Buni), ia menuturkan bahwa megijazahkan ke saya dengan sanad tujuh guru sekaligus.
"Tidak saya sebutkan nama-namanya. Biar asrar (energi) tujuh guru itu masuk," katanya.
Sebelum memilih fokus mendalami ilmu hikmah (1989), ia sudah matang dulu dalam penguasaan ilmu syariat. Buktinya, sebelum itu ia pernah nyantri di beberapa pesantren: Kempek di KH Umar Soleh dan KH Aqil Siroj, Kaliwungu di KH Dimiyati Rois, dan Sukabumi di KH Deden Zainal Mushthofa.
Brebes, (13/12/2021)

0 Komentar