Kematian Sebelum Kematian


Saya (dan mungkin anda) mengimani kematian. Setiap hari, ada saja berita tentang kematian. Dari mulai orang yang tidak kita kenal, sampai sosok yang paling kita sayang. Saya menyaksikan sendiri, bagaimana kematian itu ada. Sekali lagi, saya mengimani kematian.

Tangan yang saya gunakan untuk menulis catatan ini, mata yang saya gunakan untuk membaca berulang kali huruf perhuruf dan kalimat perkalimat catatan ini, telinga yang saya gunakan mendengar komentar orang atas catatan ini, semuanya, akan mati. Saya mengimani kematian.

Tapi, bagaimana mungkin orang percaya saya mengimani kematian? Cara saya berbicara, setiap langkah yang menjejak, arah mata memandang, telinga mendengar apa. Tidak sedikitpun mencerminkan mengimani kematian. Tapi, saya  mengimani kematian.

Hampir setiap hari aku membaca, mendengar, dan bahkan melihat dengan mata kepala, bahwa kematian itu ada. Dari tulisan-tulisan, ceramah ustadz-ustadz, kajian-kajian, bahkan melihat sendiri bagaimana detik-detik kematian merenggut roh dari jasad.

Katanya, setelah kematian akan ada kehidupan dan pembalasan semua amal perbuatan. Surga bagi hamba yang taat dan neraka bagi hamba yang laknat.

Katanya, setelah kematian, kita harus siap mempertanggung jawabkan segala amal perbuatan. Bagi yang banyak amal, banyak pula pahala. Bagi yang miskin amal dan melimpah dosa, siap menerima sepedih-pedih siksa.

Mulutku masih bisa berteriak lantang, kakiku masih bisa berjalan dan berlari kencang menempuh jarak mil-an, telingaku bisa mendengar apa saja, mataku masih bisa melihat dengan tajam. Lalu, secepat itu harus mengimani kematian?

Tapi, aku sadar. Mulutku pernah tidak selantang ini, dan pada suatu saat nanti takkan mampu lagi berkata satu kalimat pun. Kakiku juga pernah tak selincah ini, dan pada suatu saat nanti takkan mampu lagi bergerak barang selangkah pun.

Telingaku juga pernah samar mendengar, dan pada suatu saat nanti takkan mampu lagi mendengar barang satu suara pun. Mataku, juga pernah buram memandang, dan pada suatu saat nanti takkan mampu lagi melihat walau seberkas cahaya.

Kini, ada yang baru ku sadar. Bukannya aku tak mengimani kematian pada jasad. Tapi, sebelum jasad benar-benar mati, hati telah lama mati untuk benar-benar mengimani kematian.

Brebes, 4 Mei 2021

Posting Komentar

0 Komentar