Pagi Hamba


Kala malam menjelang, larut dalam jarum jam yang terus berputar, sampai bertemu pada detik yang sama, dan seterusnya. Menghamburkan onggok jasad yang cukup lelah adalah pilihan. Menghela napas panjang dan mengeluarkan dengan pelan adalah sebuah kenikmatan. Memejam kedua mata adalah cara terbaik untuk melupakan segala, menuju mimpi indah, lebih indah dari sebenarnya kenyataan.

Kita terlelap. Mata yang saban hari menatap semesta dengan segala kemahadasyatannya, redup memejam jua. Telinga yang tak bosan mendengar lantun kalam Ilahi di pojok surau-surau desa, menuli tak mendengar apa. Kaki yang terus melangkah menjelajah bumi yang tak pernah tahu mana pangkal dan ujungya, menagih jeda semestinya.

Lalu kita terbangun. Dengan kedua bola mata yang sama. Kedua telinga yang semsetinya. Dan kedua kaki yang masih ganap kanan-kirinya.

Simpuh dalam sujud keharibaan-Nya, tengadah dalam doa, adalah awal dari serangkaian agenda. Paling tidak, sebagai syukur alhamdulillah atas penjagaan malam yang terlampau pulas dalam kelalaian hamba.

Jkt, 21/07/20

Posting Komentar

0 Komentar