Kita Sama


Siapapun yang membaca ini. Aku tidak peduli siapa anda, bung. Mungkin anda belum mengenal saya sama sekali. Atau mungkin anda orang yang terlalu dekat, hingga sulit dilupakan.

Mungkin anda bukan siapa-siapa. Atau mungkin orang istimewa yang selama ini dinanti hadirnya.

Sekali lagi, aku tak peduli siapa anda. Yang pasti anda masih mengamati kata demi kata tulisan ini. Benar bukan.

Bung. Kapanpun, dimanapun. Kita semua mengalami hal yang sama. Menjejak di bumi yang sama. Pun beratap di langit yang tidak berbeda. Kita sama. Tinggal sebisa kita menjaga persamaan itu.

Namanya juga manusia, bung. Kadang kita ingin marah, tapi marah tak harus diluapkan. Kau bisa menyimpannya. Atau mungkin sedikit demi sedikit memadamkannya, hingga redup. Lalu kita sadar, "Mengapa harus marah?" Pada akhirnya marah ataupun tidak sama saja.

Kadang kita juga lelah, bung. Menghadapi kenyataan yang entah sebenarnya ada di jalur mana hidup ini. Semua berjalan, seolah kita sendiri bingung, "Mengapa saya di sini?" Tapi sudahlah. Mungkin kita saja yang belum mengerti, inilah alur terindah yang Tuhan gariskan. Tinggal menunggu waktu hingga kita bisa memahami; inilah yang terindah.

Sebagai manusia biasa. Kita punya tubuh, pikiran, juga perasaan yang kadang semangat dengan segala harapan dan cita. Kadang pula semua redup tanpa dinyana. Entah mungkin bosan berharap atau suatu hal lain terlalu menuntut banyak, meski dalam kapasitas kita.

Sekarang rebahkanlah tubuh lemahmu itu, bung. Kau sudah cukup lelah. Istrirahatkan tubuh, pikiran, juga perasaan.

Mimpilah yang indah. Kau bisa menentukan sendiri seindah apa, sebelum benar-benar menutup mata. Jangan lupa juga, kau masih bisa tersenyum, bukan.

Tapi ingat. Masih banyak hal yang harus kita perbuat di hari kemudian. Melibatkan tubuh, pikiran, juga perasaan yang sama. Maka rebahanlah seperlunya. Habis itu, berbuatlah semampu dan sepantasnya.

Jakarta, 8/3/20

Posting Komentar

0 Komentar