"Mengapa Kemanusiaan Tetap Saja Mati?"
-Bacalah dengan nada sendu, sayang-
(Sebuah puisi untuk kemanusiaan negeri ini. Saat perdebatan politik masih saja mengalahkan kemanusiaan. Saat kemanusiaan meyatim piatu. Yatim piatu. Harta satu-satunya terseret derasnya duka negeri ini. Nafasnya tersenggal. Lehernya diinjak oleh bajingan-bajingan dan gelandangan politik negeri sendiri. Menjerit, keras sekali, menulikan setiap telinga yang mendengarnya, namun jeritnya tak sampai. Jeritnya semakin pelan dan akhirnya mati)
Teruslah berdebat, lanjutkan. Sampai banjir ini surut pun tak apa. Abaikan saja air mata yang berderai bersama derasnya musibah negeri ini.
Teruslah berdebat, jangan berhenti. Sampai perut-perut lapar itu kenyang dengan sendirinya. Abaikan dingin yang membungkus perut-perut lapar itu.
Teruslah berdebat, puaskan nafsumu. Sampai kota itu benar-benar tenggelam dalam duka. Abaikan tangis bocah yatim tak berdosa itu.
Teruslah berdebat; sampai gubuk-gubuk kota itu menyatu dengan lumpur dan tanah, sampai jerit tangis hilang terbawa arus banjir yang wah, sampai jasad-jasad itu terkubur dengan sendirinya.
Berdukapun tiada guna.
Tak perlu berduka atas musibah negeri ini.
Berdukalah atas kewarasanmu yang memusibahi kemanusiaan dirimu.
Brebes, 03/01/20
0 Komentar