Gus Dur adalah lilin yang menerangi saat umat dalam gulita. Saat umat tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang bukan. Ia terus menerangi, bahkan saat api itu telah habis membakar tubuh dirinya. Sedikitpun tak redup. Entah sampai kapan. Mungkin sampai manusia menjadi lilin. Paling tidak lilin untuk dirinya.
Bagi Gus Dur kemanusiaan adalah nyala api lilin saat malam lekat. Ia terus menjaganya. Bahkan saat ia harus menjadi tubuh lilin itu. Ketika tubuhnya perlahan lenyap, api itu terus menyala, bahkan semakin menerangi setiap sudut gelap. Sekarang, tubuh lilin itu telah lenyap sama sekali. Berganti tubuh-tubuh berikutnya. Meski nyala api itu tak seterang dulu. Kadang terlalu redup untuk sudut gelap tertentu.
Gus Dur berpesan agar kita selalu menjadi lilin. Tidak hanya untuk menerangi, tapi juga menghidupkan lilin-lilin yang lain. Sampai kapan? Sampai semuanya menyala, saling menghidupkan satu sama lain, sampai benar-benar tak ada lagi sudut gelap tentang sebuah kisah kemanusiaan di negeri ini.
Jakarta, 05/01/20

0 Komentar