Dalam secarik kertas lusuh,
Aku hanyalah puisi yang tak dikenal siapa penulisnya.
Namun tetap merdu dibaca siapapun.
Dalam seonggok cangkir yang mulai retak,
Aku hanyalah secangkir kopi yang tak dikenal siapa penyeduhnya.
Namun hangatnya tetap dinikmati para penyair.
Dalam senja yang dirundu mendung,
Aku hanyalah seberkas kilau yang berpendar.
Namun tetap memulangkan kawanan merpati ke peraduan.
Dalam riuh hingar-bingar ibu kota,
Aku hanyalah seorang papa yang terlunta.
Namun penaku 'tak lelah menuliskan bangsa.
Dalam butir debu yang terhempas angin,
Aku hanyalah hamba lugu yang tak banyak tahu.
Namun tiada henti mencari pencipta segala kesempurnaan.
اِدْفِنْ وُجودَكَ في أَرْضَِ الخُمولِ، فَما نَبَتَ مِمّا لَمْ يُدْفَنْ لاَ يَتِمُّ نِتَاجُهُ
"Tanamlah wujud dirimu dalam tanah kumuh. Sebab sesuatu yang tumbuh bukan dari yang ditanam, takkan sempurna buahnya".
(Ab)
Jakarta, 24/03/20

0 Komentar